
Siang hari, di hari yang sama juga Vano memaksa ingin mengunjungi makam Bian. Dia seperti orang yang putus asa.
Dengan langkah pelan dan dipapah oleh si kembar, Vano berjalan mendekati kuburan yang masih baru itu.
Di tangannya dia memegang setangkai bunga. Tak terasa, semakin dekat mereka ke tempat yang mereka tuju, air mata Vano mengalir tanpa izin.
“Bang, Ayah datang,” lirih Vano. Dia berusaha menahan tangisannya hingga wajahnya menjadi memerah.
Kepalanya menunduk dan dengan pasti air matanya jatuh ke tanah dengan deras. Syasya dan si kembar yang perlahan mulai melupakan rasa sakit itu kini harus teringatkan kembali hingg akhirnya mereka juga ikut menangis.
“Bang, kamu tau kenapa dulu Ayah angkat kamu jadi anak Ayah? Kamu adalah orang yang gak mudah putus asa, itulah alasannya. Selama ini Ayah belajar hal itu dari kamu. Ayah mencoba buat sembuh dari penyakit ini tanpa memberitahu kalian. Ayah mencoba bangkit, tapi siapa sangka hal itu malah jadi boomerang buat Ayah? Kalau saja Ayah tau semuanya bakal jadi gini, mungkin Ayah bakal lebih milih kasih tau semuanya sama kalian sejak awal. Maaf, maaf karena udah jadi beban kamu selama ini.”
Vano menangis dengan deras. Bahkan kalimatnya terputus-putus karena hatinya yang teramat sakit.
“Demi Tuhan, Bang. Gak ada niatan Ayah angkat kamu buat jadiin kamu kaya gini.”
Vano meremat nisan putranya. Percuma dia berbicara, sekarang putranya itu tak akan memberikan masukan dan jawaban padanya.
“Kalau saja waktu bisa diulang, Ayah bakal kasih tau semuanya sama kalian.”
Syasya mengelus pundak Vano. Dia sangat paham dengan apa yang Vano rasakan karena saat itu dia juga merasakan hal yang sama.
“Bian udah tenang di sana, Van. Sekarang tugas kita cuma harus jaga jantung Bian sebaik mungkin. Jangan biarin pengorbanannya sia-sia gitu aja,” ucap Syasya.
Vano mengangguk menyetujui dengan apa yang dikatakan Syasya. Cukup lama mereka ada di sana hingga hujan gerimis memaksa mereka buat pergi dari sana.
“Kita pulang dulu ya, kapan-kapan kita ke sini lagi,” pamit Vano. Setelah mengatakan hal itu, mereka akhirnya pergi dari sana untuk kembali ke rumah.
Mereka ada berempat, tapi entah mengapa rumah mereka sangat sunyi. Kehilangan satu orang anggota keluarga seberpengaruh itu ternyata.
Aruna naik terlebih dulu ke lantai atas sementara Arjuna masih menemani Mami dan Ayahnya di bawah.
Mata Aruna seketika terarah pada pintu kamar Bian. Awalnya dia ingin masuk ke kamarnya, tapi pintu kamar Bian yang sedikit terbuka membuatnya ingin ke sana.
Aroma Bian seketika menyeruak ke indera penciumannya. “Bang, Runa ngerasa Abang masih ada di sini. Boleh kan kalau sesekali Runa tidur di sini buat obatin kangen Runa,” lirihnya.
Dinding di hadapannya dipenuhi dengan deadline tugas, foto-foto Bian dan Kiana dan juga coretan lain sebagai pengingat.
“Abang ternyata lebih rajin dari Runa.” Aruna tersenyum simpul ketika melihat hal itu.
Namun, matanya memusat pada sebuah kertas polos yang terlipat di atas buku tebal di hadapannya.
Dia membuka kertas itu dan membaca setiap kalimat yang ada di sana. Gadis itu meraung histeris ketika membaca itu. Dia menangis sejadi-jadinya hingga mereka yang ada di bawah terkejut.
“Kak, kenapa?!” tanya Syasya yang sudah ada di atas. “B-bunda,” lirihnya sambil menyerahkan kertas yang dia pegang.
Syasya mengambilnya dan membacanya. Vano dan Arjuna juga menyimak itu karena Syasya membacanya dengan keras.
“Keluarga Abang yang Abang sayang. Apa kabar? Abang harap kalian baik ya. Maaf karena Abang pergi gak pamit. Sebagai gantinya, Abang tulis surat ini buat kalian.” Syasya menghentikan sejenak ucapannya untuk meraup nafas yang seakan tercekat.
“Mami, maaf karena larang Mami buat donorin jantung Mami buat Ayah. Abang terlalu sayang kalian sampai gak mau kehilangan salah satu dari kalian. Abang lakuin ini karena Abang yakin, kalau Abang yang pergi, kalian gak akan begitu kehilangan karena pada awalnya keluarga kalian hanya ada berempat, kalian dan si kembar.”
Air mata mereka kembali menetes. “Ayah, makasih udah adopsi Abang sampai biayain Abang bertahun-tahun. Maaf karena sampai sekarang Abang belum bisa balas kebaikan Ayah dan kalian. Abang harap, saat Ayah baca surat ini, Ayah udah sehat seperti semula. Tetap jadi Ayah yang bertanggung jawab buat si kembar. Maaf karena gak bisa bantu Ayah jagain si kembar.”
Vano benar-benar menangis sekarang. Bahkan tangisannya terdengar sangat memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya.
“Abang, Kakak, makasih udah terima Abang sebagai Abang kalian. Kalian adalah adik terbaik yang pernah Abang temui. Kakak, selamat udah bawa tropi di olimpiade matematika, Abang bangga sama kamu dan tetap jadi kebanggaan Ayah sama Mami ya. Abang, Ayah bilang kamu suka main game lupa waktu. Mungkin dulu Bang Bian yang bakal ingetin kamu, tapi sekarang, kamu harus ingat waktu. Bagi waktu kamu dengan baik. Jaga Aruna, Mami dan Ayah ya. Abang percaya sama kamu. Jadi pria yang hebat.”
“Abang juga belum sempat pamit sama Kia. Mi, tolong bilang sama dia kalau Abang sayang banget sama dia. Sampaikan ucapan makasih Abang, makasih karena dia selalu support Abang dalam keadaan apapun. Bilangin juga sama dia jangan cengeng. Dia bisa cari pengganti yang lebih baik dari Abang dan Abang selalu mau lihat kalian bahagia. Mungkin sampai di sini dulu suratnya, Abang harap bisa ketemu kalian lagi sebagai satu keluarga. Selamat tinggal kalian, Abang sayang kalian.”
Itulah akhir dari surat yang ditulis oleh Bian. Hal itu berhasil membuat mereka semua menangis.
****
Kalian tahu? Aku merasa sangat hancur setelah kepergian Bang Bian. Malaikatku sudah tiada. Dia sudah kembali ke tempatnya tepatnya tujuh tahun yang lalu.
Sekarang, aku di sini sebagai sosok Aruna yang kuat, dingin dan melakukan apapun sendiri. Tak ada orang lain yang Aruna butuhkan selain keluarga Aruna.
Aruna menjadi seperti ini dengan sendirinya. Pada akhirnya, rasa sakit dan trauma itu menjadi mimpi buruk bagi Aruna selamanya.