
Kehidupan masa remaja. Manis dan pahit kehidupan saat itu sudah dirasakan oleh Syasya. Gadis itu rasanya sudah kenyang dengan cobaan yang dia alami semasa hidupnya.
Inilah kehidupan barunya. Kehidupan dengan pria yang dulu pernah menyakitinya. Pria yang pernah dia lupakan namun karena cinta, mereka dipertemukan kembali.
Vano, pria yang saat ini berstatus sebagai suaminya itu kini tengah sibuk dengan berbagai dokumen di depannya.
“Istirahat dulu, kan hari besok masih ada,” ucap Syasya mengingatkan suaminya mengingat suaminya itu tak tidur semalaman hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Syasya memang tak terlalu mengerti dengan pekerjaan Vano, yang dia tahu adalah bagian di mana Vano menandatangani dokumen itu.
“Iya ini tanggung. Hari besok emang masih ada, tapi deadline-nya hari ini, Sayang.” Tak peduli sudah tahun ke berapa mereka menikah, tetap saja Syasya akan salah tingkah jika Vano sudah memanggilnya ‘Sayang’.
“Ya udah sih, lagian kamu tetap punya gaji kok meski gak kerja.” Syasya mengerucutkan bibirnya. Bukannya kesal, namun dia khawatir Vano akan jatuh sakit jika dia terus memaksakan diri seperti ini.
“Heh, gak boleh gitu ya. Walaupun aku kerja di perusahaan orang tua aku, tetap aja gak boleh seenaknya,” ucap Vano.
“Lagian kamu mau kehilangan uang belanja kamu?” ancam Vano. Setau dia, hanya ini yang akan meluluhkan Syasya.
Benar saja, Syasya menggeleng dengan wajah masamnya. “Gak bisa lah, kalau gak dikasih uang belanja, terus kita mau makan apa?”
“Nah itu kamu tau, jadi biarin aku selesaikan ini dulu ya.” Vano dengan lembut mengelus rambut Syasya.
Syasya menyerah. Selain karena usapan di kepalanya, dia menyerah juga karena takut tak akan mendapatkan uang belanja.
“Udah waktunya jemput anak-anak gak?” Vano melihat jam yang melingkar di tangannya. Dia memang mengerjakan pekerjaannya di rumah karena merasa tak enak badan.
“Lima belas menit lagi,” jawab Syasya.
Ya, putra dan putri mereka kini sudah bersekolah di kelas tiga sekolah dasar. Kedua anaknya itu tumbuh dengan cepat dan pintar.
Mereka selalu bertanya jika penasaran dengan sesuatu dan selalu protes jika orang lain melakukan kesalahan, lebih tepatnya membenarkan.
“Dah selesai,” ucap Vano seraya menutup laptopnya dan membereskan dokumen yang ada di hadapannya.
“Udah?” tanya Syasya heran. Dia kira pekerjaan Vano masih banyak, itulah kenapa dia menyuruh suaminya berhenti.
“Udah, kan tadi aku udah bilang tinggal sedikit lagi. Yo siap-siap kita jemput anak-anak sekalian makan di luar,” ajak Vano.
Syasya mengangguk. Mereka mengganti baju mereka dengan yang lebih tertutup karena sebelumnya Syasya hanya mengenakan atasan ketat dengan hot pants.
Setelah selesai bersiap, mereka melaju menuju sekolah putra mereka. Jika kalian melihat kehidupan pernikahan mereka sungguh harmonis, memang begitu adanya.
Tapi jangan salah, setiap kehidupan pasti ada cobaan. Beberapa kali pula kehidupan pernikahan mereka melalui cobaan.
Seperti kesalahpahaman, perbedaan pendapat bahkan masalah yang lebih kecil dari itu kerap membuat mereka beradu argumen.
Tapi, mereka selalu menyelesaikannya dengan kepala dingin. Mereka tak ingin kejadian di masa lalu terulang lagi.
“Kayanya belum bubar deh,” ucap Syasya saat mobil yang mereka kendarai sudah berada tepat di depan sekolah Arjuna dan Aruna.
Aruna dan Arjuna yang bercerita. Katanya, “Mami kenapa telat? Tadi kita udah nunggu lama banget sampai ada orang yang mau ajak kita pulang bareng. Tapi kata Mami kan gak boleh ikut sama orang yang gak dikenal, jadi kita diem di depan sekolah. Eh ada Bu Guru yang ngajak kita, awalnya mau kita tolak juga, tapi Bu Guru bilang di sekolah suka ada setannya, jadi kita ikut karena takut.”
Begitulah kiranya kedua anaknya mengadu padanya. Sejak saat itu, Syasya selalu menjemput lima belas menit lebih awal dari jam pulang anaknya.
“Ah itu mereka udah keluar.” Semua anak sekolah keluar hampir bersamaan. Namun Syasya bisa melihat dengan jelas kedua anaknya karena mereka selalu bergandengan tangan.
Vano dan Syasya keluar dari mobil untuk menghampiri mereka. Arjuna dan Aruna berlari kecil saat mereka melihat kedua orang tua mereka.
Kedua anak itu memeluk Syasya dan Vano secara bergantian.
“Tumben Ayah jemput, gak kerja?” tanya Aruna begitu mereka melepaskan pelukannya.
“Ayah kerja kok. Kerja di rumah, kan mau jalan-jalan sama kalian,” jawab Vano. Apa yang dikatakan Vano tidak sepenuhnya sebuah kebohongan.
Dia memang bekerja, bekerja di rumah. Namun untuk jalan-jalan bersama dengan keluarganya itu adalah rencana mendadak.
“Jalan-jalan?!” girang Arjuna. Ya, putranya itu memang suka jalan-jalan. Berbanding terbalik dengan Aruna yang lebih senang berdiam diri di rumah, menggambar dan mendengarkan musik.
Vano dan Syasya mengangguk. Aruna memajukan bibirnya, dia merasa sangat malas jika diajak jalan-jalan.
“Gak langsung pulang aja, Yah, Mi? Aruna males jalan-jalan tau, cape,” keluhnya.
Dengan pelan, Syasya menarik Aruna agar mendekat padanya. “Aruna, Sayang gak boleh gitu ya. Gantian, kemarin kan kita seharian di rumah, menggambar. Arjuna juga gak keberatan lakuin hal yang kamu suka. Nah, sekarang gantian. Kamu mau kan lakuin hal yang disukai Arjuna?” tanya Syasya pelan.
Untuk kesekian kalinya Vano merasa jatuh cinta pada sosok wanita di hadapannya. Caranya menyelesaikan masalah, caranya membujuk, itu semua membuat Vano jatuh sejatuh-jatuhnya pada gadis itu.
“Maaf Mami, Aruna gak peka.” Gadis kecil itu menundukkan kepalanya merasa menyesal. Kenapa dia harus seegois itu? Itulah yang ada dalam pikirannya.
“Gak apa-apa, Sayang. Sekarang, kamu mau kan pergi jalan-jalan sama kita?” tanya Syasya sekali lagi.
Dengan cepat Aruna mengangguk diiringi dengan senyumannya yang mengembang. Dia juga menoleh pada kembarannya. “Maaf,” ucapnya.
Arjuna yang sadar jika ucapan maaf itu ditujukan padanya hanya tersenyum dan menggeleng. “Gak apa-apa. Ayo!!” Arjuna merangkul Aruna untuk segera masuk ke dalam mobil yang memang sudah dibukakan oleh Vano.
Sementara itu Syasya dan Vano masih berada di luar dan memperhatikan tingkah kedua anak mereka. “Makasih karena menjadi istri dan Mami yang luar biasa untuk aku dan anak-anak,” ucap Vano.
Pria itu memberikan kecupan di kening Syasya yang membuat Syasya sukses membelalakkan matanya karena terkejut.
Bukannya dia tak mau, tapi saat ini banyak orang tua yang tengah memperhatikan mereka.
“Van!! Malu, banyak orang ih!” sentak Syasya sambil mencubit ringan pinggang suaminya.
“Gak apa-apa lah. Lagian kita gak zina, kita kan udah sah. Gak salah juga,” ucap Vano santai sebelum kemudian mereka memasuki mobilnya.
“Curang. Cuma Mami doang yang di sun.”