Complicated Love

Complicated Love
Chapter 35



Vano melangkahkan kakinya menuju fakultas Syasya. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, hari ini wajahnya tampak berseri-seri. Bahkan Vano tersenyum kepada semua orang yang berpapasan dengannya.


Langkahnya terhenti di depan kelas Syasya. Dengan sabar, pria itu menunggu kedatangan sang kekasih. Dia benar-benar tak sabar untuk menghabiskan waktu dengan gadisnya itu.


Sementara Syasya sedang bercanda ria dengan teman kelasnya sesaat setelah dosen keluar.


Syasya mendongakkan kepalanya menoleh ke arah pintu. Pria dengan wajah tampan tampak sangat bersemangat sekali, Syasya yang melihatnya segera tersenyum dengan tangan melambai ke arahnya.


"guys gue duluan ya, udah di tungguin" Syasya dengan segera berlari ke arah pintu dan menghampiri Vano.


"udah lama?" tanya Syasya. Sementara orang yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya dan tangannya dengan spontan mengusap rambut Syasya.


"jadi hari ini kita ke mana?" tanya Vano semangat.


"eemmm jalan-jalan aja, mau jajan di pinggir jalan deh kayanya" itulah Syasya. Dia tak pernah meminta yang muluk-muluk pada Vano. Semua keinginannya selalu sederhana, bahkan mungkin itu terlalu biasa untuk seorang putri dari pengusaha kaya.


"oke siap, ayo!" dengan semangat Vano mengulurkan tangannya memberikan kode pada Syasya agar gadis itu mau menggandeng tangannya.


Sama seperti keinginan Syasya, Vano benar-benar mengabulkannya. Kini mereka menyusuri jalan untuk kuliner jajanan pinggir jalan.


Tempat itu tak jauh dari letak kampus mereka itu sebabnya mereka memilih jalan kaki dan meninggalkan kendaraan Vano di kampus.


"Van, mau itu" Syasya menunjuk gerobak es krim yang memang terlihat mencolok karena warna gerobaknya pink, tak lupa balon-balon kecil yang di ikat di gerobak itu.


"oke ayo!" Vano menarik tangan Syasya dan segera memesan es krim yang mereka inginkan.


"Van, aku boleh nanya?" sebenarnya Syasya ragu untuk memulai pembicaraan ini, namun dia harus melakukannya agar bisa membantu Vano.


"boleh, mau tanya apa?" beruntunglah saat ini mereka tengah duduk di bangku yang disiapkan abang tukang es krimnya.


"sejak aku gak ada, kamu ngapain aja?" tangan Vano yang hendak menyuap, menggantung begitu saja. Wajahnya kembali murung, dia mengurungkan acara menyuapnya.


"aku... sejak kamu gak ada aku frustasi, Sya. Aku ngerasa bersalah banget sama kamu, bukan ngerasa, tapi aku emang salah. Aku tahu, wajar dulu kamu takut sama aku. Aku pernah nampar kamu di sini" Vano mengangkat tangannya dan mengelus pipi lembut Syasya. Matanya lagi-lagi berkaca-kaca mengingat bagaimana dia menampar pipi itu dengan kencang hingga berdarah.


"aku juga jambak kamu" tangan Vano berpindah mengelus surai Syasya yang tergerai.


"yang paling aku sesalin seumur hidup aku, aku pernah menyakitimu begitu dalam di tempat ini" telunjuk Vano terangkat dan menunjuk ke arah dada Syasya.


"sakit kan? Jadi wajar kamu pernah benci aku bahkan kamu takut sama aku" Vano terkekeh getir, dia berusaha keras menahan air matanua. Namun usahanya lagi-lagi gagal. Buliran bening itu lolos dari netra Vano dan membasahi pipinya. Vano mengusap kasar air mata itu.


Sementara Syasya, gadis itu sudah menjatuhkan air matanya bahkan sebelum Vano. Syasya segera mendekap tubuh Vano erat. Dia tak mau melihat Vano menangis. Sudah cukup air mata yang mereka keluarkan selama ini. Kini mereka hanya harus tersenyum dan bahagia.


"aku gak benci kamu. Aku yang salah karena aku kecelakaan, aku yang salah karena aku hilang ingatan" Syasya memukuli kepalanya sendiri. Kenapa dia harus hilang ingatan? Andai saja dia tak hilang ingatan, semuanya akan baik-baik saja.


Tangan Vano dengan reflek menahan tangan Syasya. Dia memeluk tubuh Syasya sangat kuat. Mereka bahkan tak memperdulikan pandangan aneh orang-orang.


"ya udah, yang lalu kita lupain aja ya. Yang penting sekarang kita baik- baik aja" Vano memegang kepala Syasya agar gadis itu tak melepaskan pandangannya.


"Van, kayanya kita harus beli es krim lagi deh" Syasya tersenyum canggung menatap Vano yang juga tersenyum ke arahnya.


"apa kita ngomong kelamaan ya sampai es krimnya meleleh?" tawa mereka pecah. Mereka baru ingat jika mereka mengabaikan es krimnya begitu saja ketika mereka berbicara.


Dengan gelak tawa, mereka membeli es krim baru hingga abang tukang es krim memandang keduanya aneh.


Namun mereka tak mengindahkan tatapan itu. Mereka hanya terus berjalan menyusuri jalanan yang ramai ini. Mobil dari arah belakang mereka melaju kencang hampir menabrak Syasya jika saja Vano tidak dengan sigap menarik tubuh Syasya.


Vano yang menyadari jika itu bukan suatu ketidaksengajaan segera mencatat nomor mobil itu.


"Sya, kamu gak apa-apa?" tanya Vano panik.


"aku baik-baik aja, berkat kamu" Syasya tersenyum. Netranya tak lepas dari Vano. Syasya merasa sangat bersyukur karena tidak berpisah dengan Vano. Baiknya kesalahpahaman itu segera diketahui. Jika tidak, mungkin saat ini mereka bukanlah apa-apa.


"kita duduk dulu sebentar ya" Syasya merasa bingung. Pasalnya baru saja mereka duduk, dan kini Vano mengajak Syasya duduk lagi.


Namun tanpa bertanya ataupun membantah Syasya mengikuti Vano. Vano mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang.


"Din, gue kirim sesuatu ke lo. Cek ya" ucapnya pada orang di sebrang sana.


"Din? Dina maksud kamu?" tanya Syasya setelah Vano memutuskan sambungan telponnya.


Vano mengangguk menanggapi pertanyaan Syasya.


"kenapa telpon Dina" sebenarnya dia agak cemburu. Walaupun Dina temannya tetap saja menelpon gadis lain saat pria itu bersamanya itu keterlaluan.


Syasya mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Vano yang peka terhadap sikap Syasya hanya terkekeh dan mengelus puncak kepala Syasya.


"aku cuma kirim plat nomor mobil tadi, Sya. Aku curiga kalau itu orang yang sama dengan yang celakain kamu satu tahun lalu" Vano menjelaskan yang menjadi kekhawatiran Syasya.


Syasya yang mendengar itu sangat terharu dan meluluhkan wajah marahnya.


"kamu tahu sendiri kalau ayahnya Dina yang pegang kasus kamu, jadi aku harus hubungin siapa lagi kalau bukan Dina?" Vano berusaha menjelaskan selengkapnya takut kekasihnya ini salah paham.


"maaf, aku terlalu cemburu ya" Syasya merasa sangat menyesal karena telah meragukan Vano yang benar-benar tulus padanya.


"gak apa-apa. Wajar aja sih, kamu kan pacar aku" bisik Vano di akhir kalimatnya. Syasya yang mendengar kata 'pacar' keluar dari bibir Vano merasakan panas di pipinya. Dia sangat malu saat ini.


Bagaimana bisa seorang Vano yang dinginnya tak ada tandingan bisa dengan mudah melontarkan gombalan padanya.


"belajar dari mana kamu ngomong kaya gitu?" tanya Syasya. Tangannya reflek memukul bahu Vano pelan.


"aku kursus selama kamu di Jerman" jawaban Vano sukses mengundang gelak tawa Syasya.