
Setelah perjalanan mereka yang menyenangkan, akhirnya mereka pulang ke rumah. Selama perjalanan ketiga orang yang sangat berharga bagi Vano tertidur dengan pulas. mungkin karena mereka kelelahan.
Vano melajukan mobilnya di tengah keramaian kota di malam hari. Dia sangat senang karena bisa menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang dia sayangi.
“Semoga hal seperti ini bisa berlangsung lama,” ujarnya.
Setelah mengatakan hal itu, tak ada lagi suara dalam mobil hingga mereka sampai di rumah. Vano sama sekali tak membangunkan Syasya atau kedua anaknya.
Dia menggendong mereka satu persatu dan membaringkannya di ranjang masing-masing. “Tidur yang nyenyak,” ucapnya saat dia membaringkan Syasya di ranjangnya.
Sementara kedua anaknya sudah aman di kamar mereka masing-masing. Vano mengecup singkat kening istrinya sebelum kemudian bersiap-siap untuk menyusul Syasya ke alam mimpi.
****
Tristan, siapa yang masih ingat manusia menyebalkan yang satu ini? Pria yang dengan kurang ajarnya malah mendekati sahabatnya sendiri, Lita.
Siapa yang sangka mereka akan sampai di jenjang pernikahan karena selama yang Syasya tahu, Tristan adalah tipe orang yang akan terus mencari wanita meskipun sudah memiliki kekasih.
Pernikahan mereka sudah berumur dua tahun dan sudah dikharuniai seorang putra yang sangat tampan yang baru berusia satu tahun.
“Yang, ini dong bantuin. Masa anak kamu pup di gendongan aku sih,” protes Tristan saat, Jonathan pup saat dia gendong.
Ya, nama putra mereka adalah Jonathan Alfahrizi. “Ya kamu urusin dulu lah, Jo kan juga anak kamu,” jawab Lita dari arah dapur yang memang sedang memasak.
Jika kedua orang tuanya sibuk dengan siapa yang akan mengurus Jo, maka anak itu sendiri kini tengah menangis karena merasa tak nyaman. Memang luar biasa keluarga yang satu ini.
Akhirnya Tristan mengalah, dia membersihkan pup Jo dengan telaten. “Lain kali, kamu tuh kalau mau pup bilang. Kan Papa bisa bawa kamu ke toilet. Lagian pup di toilet sambil duduk itu lebih nikmat tau,” ucap Tristan pada anaknya.
Orang gila mana yang akan meminta anaknya yang berumur satu tahun pup di kloset. Bahkan anak itu mungkin belum mengerti apa yang namanya kloset itu.
“Udah balum?” Lita datang menghampiri suaminya setelah dia selesai dengan memasaknya. Dia khawatir Tristan tak akan bisa melakukannya.
“Udah, nih. Gini kan?” ucap Tristan sambil memperlihatkan bokong Jo tepat ke hadapan Lita yang secara otomatis mendapatkan pukulan di lengannya.
“Heh, gak usah deket-deket,” ujar Lita kesal. Mendengar hal itu membuat Tristan kembali menjauhkan bokong Jo dari wajah istrinya.
Tristan sudah selesai dengan urusannya. “Sana makan dulu. Biar aku yang ganti celananya,” ucap Lita sambil mengambil alih Jo dari pangkuan Tristan.
Tristan hanya mengangguk patuh karena di juga memang sudah sangat kelaparan. Sementara Lita pergi ke kamar untuk mengganti celana putranya.
“Sayangnya Mama, tadi Papa ngomong apa aja sama kamu?” tanya Lita. Tangannya masih sibuk mengoles minyak kayu putih dan bedak di bokong putranya sebelum kemudian dia memakaikan celana.
Jo hanya tersenyum dan mengoceh tanpa mengerti apa yang dikatakan oleh Mamanya. “Kok gak jawab sih?” gemas Lita sambil menguyel pipi Jo.
Tentu saja Jo tak menjawab, jangankan menjawab, bahkan dia saja tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Mamanya.
Orang tua macam apa yang seperti Lita dan Tristan ini. Sungguh sangat ajaib bukan? Memang suatu pilihan yang tepat tak menikahkan Tristan lebih dulu.
“Yang, lama banget. Sini cepat makan,” teriak Tristan dari ruang makan. Sementara Lita baru saja keluar dari kamarnya dengan Jo dalam gendongannya.
“Iya bentar.” Lita menghampiri Tristan untuk segera makan dan memberikan Jo kepada Tristan yang memang sudah selesai dengan makannya.
Itulah kehidupan pernikahan mereka yang sangat luar biasa. Tak jarang mereka juga bertengkar atau lupa membawa anaknya di rumah yang berakhir harus kembali ke rumah untuk membawa anaknya.
“Besok ke rumah Bila yuk, mumpung libur,” ajak Lita. Dia sangat merindukan sahabat yang sekarang merangkap menjadi adik iparnya itu.
“Boleh. Sekalian, aku juga ada urusan sama Vano,” jawab Tristan. Lita mengangguk dan melanjutkan makannya.
****
Suasana dingin setelah hujan di malam hari tadi membuat Syasya dan Vano masih betah berada di atas ranjang mereka.
Kebiasaan pagi mereka adalah berpelukan bahkan ketika mereka masih tertidur. Mata mereka masih enggan untuk terbuka bahkan ketika seorang anak kecil membuka pintu kamarnya.
“Masih tidur, Om.” Arjuna berbisik pada orang yang ada di belakangnya. Dia takut membangunkan kedua orang tuanya.
“Ya udah bangunin, lagian kan ini juga udah siang,” jawab pria itu.
“Benar kata Ayah, Om Tristan itu emang rese.” Entah dari mana pria kecil itu mendapatkan kalimat seperti itu.
“Apa!!??” tanya Tristan sedikit berteriak. Dia sangat kesal, berani-beraninya Vano berkata seperti itu padanya.
Teriakan yang cukup memekakan telinga itu berhasil membuat Syasya menggeliat dan membuka matanya. Dia sangat terkejut ketika melihat pintu kamar yang sudah terbuka lengkap dengan Arjuna dan Tristan yang ada di sana.
“Abang?! Lo ngapain di sini?” tanya Syasya yang spontan bangkit dari posisi semula.
Vano yang mendengar ada keributan segera bangun dan melihat apa yang sedang terjadi. “Ada apa sih?” tanya Vano, dia belum sadar dengan keberadaan orang-orang itu.
“Tuh.” Syasya menunjuk orang yang ada di ambang pintu. “Loh, Bang. Ngapain di sini?” tanya Vano.
“Bangun lo. Udah siang masih ngebo aja. Liat nih anak lo rajin banget eh Bapaknya males gak ada obat,” ucap Vano.
“Gue cape Bang.” Jawaban Vano membuat pikiran Tristan melayang ke arah yang tidak-tidak.
“Abis apa lo sama adik gue?!! Jangan kurang ajar ya!!” teriak Tristan. Vano merotasikan bola matanya. Karena lelah mendengar keributan antara Ayahnya dan Omnya, Arjuna memutuskan pergi dari sana dan menghampiri Aruna yang sedang bermain dengan Jo dan Lita.
“Dia udah jadi hak gue. Gue suaminya, jadi terserah mau gue apain dia juga.” Dengan sengaja, Vano mencium bibir Syasya. Bukan hanya mencium, tapi itu berlanjut hingga ******* dan pagutan.
Tristan mematung di tempatnya dan mangumpat. “Sialan kalian!!!” Setelah itu Tristan pergi dari sana karena merasa kesal dengan adik dan adik iparnya itu.
Sementara itu Syasya dan Vano melepaskan ciumannya setelah Tristan pergi dari sana. Mereka tertawa kencang melihat ekspresi wajah Tristan.
“Udah ah, mandi duluan sana. Aku mau nyamperin mereka,” ucap Syasya. Dia beranjak dari sana setelah mendapatkan anggukan dari Vano.