Complicated Love

Complicated Love
S2 - Kencan



Setelah melewati beberapa bulan, akhirnya Bian menjadi lebih leluasa dengan keluarga barunya. Dia tak lagi canggung jika harus bersikap atau mengatakan sesuatu. 


"Mi, Yah, Abang berangkat dulu ya." Bian berpamitan pada kedua orang tuanya. Seperti yang telah dia katakan tadi, dia memiliki janji dengan kekasihnya. 


"Jangan ngebut-ngebut. Anak orang jangan dibawa sampai larut." Vano memperingatkan anaknya. 


Bian mengangguk semangat. Tenang saja, dia mengetahui aturan. 


Setelah mendapatkan izin dari kedua orang tuanya, Bian segera meninggalkan rumahnya dengan mobil hitamnya. 


"Abang mau ke mana, Mi?" Aruna bertanya ketika Abangnya itu tak mengatakan apapun padanya. 


"Mau main sama pacarnya," kekeh Syasya menjawab pertanyaan Aruna. 


Aruna mengangguk, sementara itu Arjuna terlihat tak penasaran sama sekali dengan hal itu. Dia masih setia memainkan game di ponselnya. 


Setelah Ayahnya membelikannya PS, dia memang jarang menggunakannya. Hanya di waktu-waktu tertentu saja seperti ketika waktu luang. 


"Mau punya pacar juga biar bisa main," celetuk Aruna entah sadar atau tidak. 


"Heh, Kakak. Masih kecil loh," sela Syasya. 


Aruna hanya tersenyum lebar. "Iya Mi, bercanda kok." 


Syasya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sang putri. 


Kembali ke Bian, sekarang dia sudah ada di depan rumah Kiana. 


Dia sengaja tak memasukan mobilnya karena agar mereka langsung berangkat. 


"Permisi." Bian mengetuk pintu utama yang terlihat besar. 


Suasana rumah itu sangat sepi mungkin karena penghuninya tidak sebanding dengan ukuran rumah itu. 


Tak lama, seseorang membuka pintu dan itu adalah Kiana. 


"Udah siapa?" tanya Bian kembali memastikan. Hal itu dianggukki oleh Kiana. 


"Bunda kamu ada? Atau Ayah?" tanya Bian. 


"Ada. Mau apa?" Kiana mengernyitkan keningnya bingung. 


"Aku mau ketemu dulu bentar, boleh?" pinta Bian. Kiana kembali mengangguk walau dia masih bingung. 


"Ya udah yuk masuk dulu." 


Mereka akhirnya masuk ke rumah Kiana. Dia sana, di ruang tamu tepatnya ada Ayah Kiana yang sedang melihat gadgetnya.


"Permisi, Om," sapa Bian. Orang yang merasa terpanggil itu mendongakkan kepalanya mengalihkan atensinya pada Bian. 


"Ah iya. Silahkan duduk." Baiknya, ayah Kiana menyambutnya dengan baik. 


"Siapa ini?" tanya Ayahnya Kiana dengan lembut. Dia memusatkan seluruh perhatiannya pada Bian. 


"Saya Bian, Om. Temannya Kiana." Bian memperkenalkan dirinya. 


"Teman?" tanya Ayah Kiana seolah ragu dengan apa yang dikatakan pria itu. 


"Iya teman dekat," kekeh Bian agak malu untuk mengakuinya. 


Setelah mendapatkan jawaban yang pasti, Ayah Kiana menghela napas dan mengangguk. 


"Jadi, kalian mau ke mana?" Seolah diinterogasi, Bian merasa jantungnya berdetak dengan cepat. 


"Saya izin bawa Kiana main, Om. Gak akan lebih dari jam delapan kok," lanjut Bian. 


"Mau main ke mana emangnya?" Bian menggaruk tengkuknya. Dia juga belum memutuskan akan main ke mana dengan gadis itu. 


"Ayah udah ah. Kenapa kepo banget sih." Kali ini Kiana yang protes. Dia tahu jika ayahnya itu sedang menggoda Bian. 


"Iya iya. Ya udah sana berangkat. Nanti keburu malam," ucap Ayah Kiana pada akhirnya. 


Mereka masuk ke dalam mobil Bian yang terparkir di luar gerbang rumah Kiana. 


"Kenapa parkirnya di luar sih?" tanya Kiana. 


"Biar langsung aja," kekeh Bian yang diangguki oleh Kiana. 


"Ada tempat yang mau kamu kunjungi?" Bian meminta pendapat Kiana terlebih dulu sebelum dia yang memilih tempat. 


"Kalau jalan-jalan aku ke mana aja. Tapi mau makan di resto Jepang." Maksudnya saat ini dia sedang ingin makan makanan jepang. 


Bian mengangguk. Akhirnya mereka memutuska untuk makan terlebih dahulu sebelum mereka pergi main. 


**** 


Sementara itu di rumah Aruna dan Arjuna sedang asyik bercerita pada kedua orang tuanya. 


"Iya Yah bener. Tadi Bang Bian keren banget," ucapnya. 


"Keren gimana?" tanya Vano karena sedari tadi Arjuna dan Aruna sibuk mengatakan jika Bian keren. 


"Jadi tadi tuh waktu kita nunggu jemputan, ada yang maksa minta uang sama kita. Kita udah beberapa kali nolak karena emang uang jajan kita juga udah abis. Dia maksa-maksa sampai ngancam," cerita Aruna.


"Terus apa yang kalian lakuin?" Vano penasaran. Dia sudah tahu apa maksud cerita anaknya itu. 


"Untung Bang Bian datang. Dia nasehatin banyak hal sama dua anak itu, mungkin sampai mulutnya berbusa."


"Terus mereka berhenti ganggu kalian?" Kali ini Syasya yang bertanya. 


"Bentar dulu, Mi. Kita belum selesai cerita," ujar Arjuna kesal. 


"Oh iya iya lanjut yuk," kekeh Syasya melihat raut kesal di wajah anaknya. 


"Selesai nasehatin anak itu, Bang Bian kasih mereka uang. Abis itu mereka pergi deh." Aruna mengakhiri sesi ceritanya. 


"Keren banget kan Bang Bian. Padahal sebelumnya kita udah usir mereka beberapa kali tapi gak mempan. Eh pas Bang Bian nasehatin, mereka langsung pergi." Arjuna mendukung ucapan Aruna. 


Kedua orang tuanya mengangguk. Ada sepercik rasa terima kasih pada Bian karena telah menyelamatkan si kembar. 


"Kalian juga harus hati-hati lain kali. Kalau mau nunggu jemputan, tunggu di tempat yang ramai. Terus kalau ada orang yang gangguin kalian, kalian langsung bilang aja mau itu sama Mami, Ayah atau Bang Bian." Vano menasehati kedua anaknya. 


"Iya Yah. Tadia Bang Bian juga bilang gitu kok."


Seakan teringat sesuatu, Syasya mengalihkan atensinya pada Vano. 


"Oh iya, kemarin kamu temu sana guru Bian kan? Terus gimana? Apa ada yang aneh sama Bian?" tanya Syasya. 


"Hhmm, aku kemarin ngomong langsung sama guru keamanan di sana. Mereka bilang, mereka menjamin keamanan tiap siswa di sana jadi kita gak perlu khawatir. Bian juga gak aneh-aneh. Cuma terakhir kali guru keamanan mendapat laporan kalau Bian disakiti oleh teman-temannya. Tapi setelah guru itu konfirmasi pada Bian, Bian bilang mereka cuma latihan buat pensi minggu depan." 


Vano menjelaskan apa yang dia dengar dari guru keamanan itu. 


"Tapi, kamu udah tanya sama Bian apa benar itu cuma latihan?" Syasya merasa sangat khawatir pada putranya itu. 


"Itu dia. Aku belum sempat. Mungkin nanti atau besok aku tanya dia," jawab Vano. 


Syasya mengangguk. Raut wajahnya masih sangat khawatir. 


"Udah, jangan terlalu dipikirin. Aku yakin Bian bisa jaga diri." Vano mencoba menenangkan istrinya. 


"Udah malam. Kalian gak belajar?" Syasya mengalihkan perhatiannya oada si kembar. 


"Kakak dari siang tadi belajar. Cape ah belajar mulu," ucap Aruna. 


Yang dikatakan gadis itu memang benar. Dia sedari tadi terus memecahkan soal yang membingungkan. 


Berbeda dengan Aruna, Arjuna justru malah sibuk bermain game saja. 


"Ya udah. Abang belajar gih, jangan main game mulu." Kali ini Vano yang memerintah. 


Arjuna mengangguk, dia segera pergi ke kamarnya untuk belajar sementara Aruna masih bersama mereka menyelesaikan berbagai macam cerita yang ingin mereka ceritakan.