Complicated Love

Complicated Love
Chapter 19



Malam ini langit terlihat gelap. Tak ada satupun bintang di sana yang menjadi cahaya malam. Sama seperti hati Syasya malam ini. Dia ingin sekali mengunjungi Vano di Rumah Sakit, namun hari sudah sangat larut.


Pikirannya melayang memikirkan keadaannya saat ini. Luka sobekan di sudut bibirnya belum sembuh, Syasya menyentuh luka itu.


"aahhh, kenapa masih perih" gumam Syasya. Dia mengambil plester baru di kotak P3K dan segera menempelkan di sudut bibirnya.


"Besok udah hari ke empat, tapi belum ada tanda-tanda Vano akan bangun dari komanya" Syasya membuka lockscreen ponselnya yang terpampang potretnya dengan sang kekasih dulu saat hubungannya masih baik-baik saja.


"aku kangen kamu yang dulu, Van" Senyum kecut terukir di bibirnya.


Syasya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, matanya menatap langit malam yang sangat tenang. Balkon kamarnya merupakan tempat nyaman untuk menenangkan pikiran.


"apa Vano bakal sedih juga kalau gue ada di posisi dia saat ini?" kekehan terdengar dari bibirnya.


"lo gila? ya gak mungkin lah. Dia bahkan tega nyakitin gue" memang rasa kecewa dan sakit itu membekas di hatinya, mungkin dia tak akan melupakannya. Namun jika sudah melihat wajah Vano, hatinya tiba-tiba menjadi luluh.


tok tok


Suara ketukan pintu mengagetkan Syasya, dia dengan cepat berlari untuk membuka pintu.


"bang, ngapain?" tanya Syasya pada Tristan.


"kagak, gabut aja" dengan seenak jidat Tristan mendorong pintu kamar Syasya dan masuk ke dalam meninggalkan sang pemilik kamar yang masih mematung di dekat pintu.


"rese banget sih" gumam Syasya. Namun sedetik kemudian senyumnya terukir. Setidaknya ia bisa melupakan rasa sakit untuk sesaat karena abangnya.


Tristan merebahkan badannya di ranjang Syasya. Dia menghela nafas bingung ingin memulai pembicaraan dari mana. Sebenarnya dia ingin bertanya secara langsung pada Syasya, namun ia mengurungkan niatnya. Tristan tak ingin membuat adiknya sedih karena pembicaraan mereka.


"Sya gue gabut gimana dong" ucap Tristan memelas. Syasya yang melihat abangnya bersikap aneh hanya menaikan sebelah alisnya.


Kemudian dia ikut berbaring di sebelah abangnya dengan hembusan nafas berat.


"gue cape" Refleks Tristan memiringkan badannya menatap Syasya dengan harapan Syasya meneruskan kalimatnya.


Namun tak ada kalimat lanjutan yang dilontarkan Syasya. Sebaliknya, Syasya hanya memandang aneh abangnya yang tiba-tiba tertarik dengan apa yang dia katakan.


"kenapa lo?" tanya Syasya pada abangnya.


Tristan tak menjawab pertanyaan Syasya. Dia hanya menghela nafas kemudian merebahkan lagi badannya seperti semula. Dugaannya salah, ternyata Syasya tak melanjutkan sesi curhatnya.


"ada masalah apa lo sampai cape? kerjaan cuma rebahan" ledek Tristan. Ia sebenarnya berusaha memancing Syasya agar menceritakan keluh kesahnya, walaupun tanpa Syasya bercerita pun Tristan sudah tahu masalah adiknya itu.


"gue cape liat muka lu" canda Syasya.


Tristan mendengus mendengar godaan adiknya. Namun sedetik kemudian dia membalikan badannya lagi menghadap Syasya.


"Sya lo ada pacar?" tanya Tristan dengan nada candaan.


Tubuh Syasya menegang. Dia bingung harus menjawab apa mengingat ini kali pertamanya ia mempunyai pacar. Ia takut abangnya marah karena abangnya ini sangat posesif.


"ahahhaahhah punya kan lo, ngaku lo!" Tristan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah adiknya.


"kagak, apaan sih lu" Syasya memukul lengan abangnya.


"gak apa-apa kali Sya. Pokonya kalau lo punya pacar, lo harus bilang gue, nanti kalau dia nyakitin lu, gue bakal patahin tangannya, gue patahin lehernya, gue juga bakal-"


" diem ihh rusuh banget lo jadi abang" Tristan secara spontan menghentikan gerakannya yang sedang silat itu. Kemudian menggaruk belakang kepalanya yang tidak sedikitpun terasa gatal. Ia melakukannya karena merasa canggung.


***


Syasya sudah siap dengan balutan dress berwarna pastel. Dress simple dengan panjang selutut dipadukan dengan flatshoes dengan warna senada terlihat sangat cantik.


Penampilannya saat ini tidak terlalu formal juga tidak terlalu santai. Ia akan pergi ke Rumah Sakit lagi. Syasya meyakinkan hatinya jika ia akan mencintai Vano dari awal lagi, ia akan menganggap tak terjadi apapun belakangan ini pada dirinya dan Vano, ia akan kembali ke masa dimana Vano sangat menyayanginya dan memperlakukannya dengan baik.


Dia menambahkan lipbalm sebagai sentuhan terakhir dan jangan lupakan tas selempang yang selalu menemaninya kemanapun.


Syasya berjalan menuruni tangga. Senyum tak luntur dari wajahnya. Ia bersenandung ria karena akan menemui sang pujaan hati, ia berharap Vano akan bangun setelah ia sampai disana.


"mau kemana sayang?" tanya mami Syasya.


"mau main sebentar, mi" memang maminya tidak mengetahui keadaan Vano, Syasya jarang bercerita tentang Vano lagi pada maminya karena Syasya takut maminya akan tahu apa yang dilakukan Vano padanya dan berakhir ia tidak diperbolehkan bertemu dengan Vano lagi.


"yaudah, jangan malam-malam ya pulangnya. Hati-hati di jalan" mami Syasya mengusap rambut Syasya kemudian mengecupnya.


"iya mami, Syasya gak bawa motor yah. Mau naik bus aja" jawab Syasya.


Mami Syasya mengangguk dan mengantar Syasya keluar rumah. Syasya melambaikan tangannya pada maminya.


Tristan, pria itu baru saja bangun dari tidurnya saat Syasya pergi dari rumah.


"Syasya mau kemana mi?" tanya Tristan pada maminya saat baru keluar dari kamarnya.


"katanya main sama temannya" jawab maminya sambil berlalu menuju dapur.


"makan dulu bang" ucap maminya.


"iya mi nanti, mau mandi dulu" Tristan berlalu menuju kamar mandi.


Sementara Syasya ia berjalan dengan ria setelah ia turun di halte tujuannya. Langkah kakinya saat ini menuju sebuah toko bunga yang ada di sebrang jalan.


Bunga rosemary adalah tujuan utamanya. Tangannya menggapai bunga yang akan ia beli.


"mba, biasa ya bunga rosemary"


"baik mba" Syasya berlalu menuju meja yang ada di sana. Syasya mengambil pena dan kertas yang sudah disediakan. Dia mulai menulis rangkaian kata yang belum sempat tersampaikan kepada Vano. Sebenarnya ia bisa mengatakan langsung pada Vano, ini hanya untuk berjaga-jaga jika saja Vano bangun saat dirinya tak ada.


"sudah siap mba" Syasya mendongakkan kepalanya saat panggilan pemilik toko memenuhi telinganya. Ia segera memasukan kertas yang baru ia tulis ke dalam sebuah amplop berwarna pastel.


Setelah membayar bunganya dan tentu saja surat yang ia tulis, Syasya melangkahkan kakinya menuju Rumah Sakit. Senyuman Syasya terus melebar mengingat wajah kekasihnya.


Syasya menyebrangi jalan sambil memeluk bunga yang baru saja ia beli. Tepat saat ia berada di tengah jalan, tanpa ia sadari ada mobil yang melaju dengan kecepatan penuh.


Kepala Syasya sempat menoleh ke arah mobil tersebut karena suara klakson yang memekakkan telinganya. Namun belum sempat ia menghindar bagian depan dari mobil tersebut telah menghantam tubuhnya.


Tubuhnya melayang sebelum akhirnya jatuh ke jalanan. Darah segar mengalir di sekitar tubuhnya. Matanya hampir terpejam. Bunga yang semula ia pegang kini berhamburan di jalanan.


Nafasnya tersenggal- senggal. Ia sempat mendengar suara ambulan yang semakin dekat. Matanya mulai terpejam seiring kesadarannya mulai hilang.


Sementara di rumah sakit, tubuh Vano tiba-tiba bereaksi. Monitor detak jantung yang ada di sana bersuara lebih cepat dari biasanya, tubuh Vano mengejang.


"Van, sayang. Kamu kenapa?" bunda Vano histeris melihat keadaan putranya. Sementara ayahnya memanggil dokter untuk melihat keadaan Vano.


"mohon maaf, kalian bisa tunggu di luar" tegas dokter saat telah sampai di hadapan Vano.