
Setelah memesan semua kebutuhan untuk ulang tahun Si Kembar, Syasya menjadi lebih tenang. Fikirannya saat ini hanya tinggal kado.
“Gimana, semua udah beres?” tanya Vano pada istrinya. “Udah, tinggal beli kado aja. Kira-kira kado apa ya?” tanya Syasya sambil mengeringkan rambutnya.
Ya, malam ini dia baru selesai mandi begitupun dengan Vano. Pria itu mengambil alih hairdryer dari tangan Syasya kemudian mengeringkan rambut Syasya yang baru setengah kering.
“Menurut kamu hal yang paling mereka butuhkan apa?” tanya Vano. Dia juga bingung akan memberikan apa pada Si Kembar.
Syasya menggeleng. “Mereka masih sekolah, jadi apa lagi yang mereka butuhkan selain alat belajar,” jawab Syasya.
Vano setuju, tapi alat belajar mereka saat ini masih lengkap. “Mereka berdua suka apa sih?” tanya Vano. Karena dia jarang berada di rumah, jadi dia tak terlalu memperhatikan hobi kedua anaknya.
“Kalah Abang sih suka game. Setiap waktu kalau dia ada waktu luang pasti main game. Kalau Si Kakak, dia sukanya belajar mecahin soal-soal yang bikin pusing,” kekeh Syasya.
Vano terlihat berfikir untuk sejenak. “Ya udah, kita beliin Abang PS aja, kalau Kakak mungkin meja belajar baru?” tanya Vano meminta pendapat istrinya.
Syasya menolehkan kepalanya pada Vano dengan senyuman sumringahnya. “Bagus, iya kita beli itu aja.” Syasya menyetujui apa yang dikatan suaminya.
“Tapi kalau kita beliin Abang game, dia jadi malas belajar gak sih?” Kekhawatiran yang pasti dirasakan oleh setiap orang tua.
“Iya sih, tapi kita bisa kasih peringatan dengan, kalau dia mengabaikan tugasnya demi main game, kita bakal sita kembali game itu. Ya kita bikin kesepakatan aja sih intinya.”
Syasya mengangguk. “Oke aku setuju.”
“Udah kering.” Vano mematikan alat pengering rambut itu dan menyimpanny di tempat semula.
Mereka menuju ke ranjang mereka untuk pergi tidur. “Van, tapi kalau Si Kembar kita beliin hadiah, Bian gimana? Masa dia liatin, pasti dia juga mau hadiah dari kita,” ucap Syasya.
Dia sangat sadar kalau dirinya tak boleh begitu karena saat ini Bian juga sudah menjadi putranya.
“Ya udah kita beliin dia juga,” saran Vano Syasya terlihat berfikir. “Tapi kita beli apa ya?”
Sekelebat bayangan tadi siang datang dalam ingatannya ketika Bian mengatakan dia tak bisa menyertir mobil.
“Kita daftarin dia kursus mobil aja. Soalnya tadi siang dia bilang gak bisa naik mobil,” usul Syasya.
“Boleh, nanti kalau dia ulang tahun baru kita kasih mobilnya.” Vano melengkapi usul Syasya.
Selesai sudah kegundahan mereka. Saat ini mereka hanya tinggal pergi ke toko-toko yang bersangkutan dan membeli barang-barang itu.
“Dah malam, yuk sekarang tidur dulu.” Vano membawa istrinya ke dalam pelukannya.
****
Hari yangmembuat mereka sibuk seminggu ini akhirnya tiba. Hari ulang tahun Si Kembar. Sekarang mereka sudah ada di tempat, gedung yang Syasya sewa waktu itu.
“Abang, sini bentar.” Syasya memanggil Bian untuk mendekat. Bian memakai kaos putih dengan jas hitam di bagian luarnya.
“Kenapa Mi?” tanya Bian saat dia sudah berada di hadapan Syasya. Tangan Syasya terangkat ke arah leher Bian.
“Baju kamu gak bener, tunggu sebentar.” Syasya membetulkan pakaian Bian. “Udah selesia.” Syasya tersenyum puas saat dia melihat pakaian yang dipakai Bian sudah rapi.
“Makasih, Mi,” ucap Bian yang diangguki oleh Syasya.
Pesta berlangsung dengan ramai dan menyenangkan. Hal itu terbukti dari ekspresi wajah Si Kembar yang terlihat sangat bahagia.
“Mau kasih ke siapa kuenya?” tanya Syasya. Ya, ini adalah potongan pertama dari mereka. Si kembar berbisik untuk sesaat.
“Bang Bian!” ucap mereka serentak. Bian yang merasa terpanggil sangat terkejut dengan hal itu.
Mereka bahkan mengenal belum sebulan penuh, tapi Si kembar sudah mengingatnya sampai hal sekecil ini.
“Abang sini maju,” ajak Maminya. Semua orang bertepuk tangan dan memperhatikan Bian yang perlahan berjalan mendekati Si kembar.
Keduanya menyuapi Bian secara bergantian. Dan begitupun potongan kedua dan keetiga mereka berikan pada Ayah dan Maminya.
Satu persatu tamu mulai pulang hingga tinggal menyisakan mereka.
****
Setelah acara ulang tahun Si Kembar yang meriah siang kemarin, hari ini terasa begitu sepi. Hari libur tanpa rencana liburan.
“Ayah, bosen banget di rumah,” rengek Arjuna. Kalian tahu sendiri tipe seperti apa anak itu.
Sementara Aruna masih betah dengan gadget di tangannya. “Kamu bosen terus. Main game aja, kemarin kan dibeliin sama Ayah, Mami sama Bang Bian,” jawab Aruna.
Mungkin ini kali ke sepuluh saudara kembarnya itu mengatakan jika dirinya bosan. “Main game mulu juga bosan tau. Emangnya kamu gak punya bosan sama soal-soal itu,” ejek Arjuna pada Aruna.
Aruna memandang saudara kembarnya itu nyalang. Dia kesal karena kesukaannya diejek begitu saja. Padahal kan selain seru, menyelesaikan soal juga bisa menambah ilmu.
“Udah jangan ribut,” ucap Vano. Pusing sekali kepalanya mendengar perdebatan anak kembarnya itu.
“Hahhh lagian Bang Bian kemana sih? Libur gini masih aja pergi nugas,” ucap Arjuna.
“Abang kamu lagi kerja kelompok buat tugasnya. Gak bisa terus main sama kalian.” Syasya menjelaskan.
“Eh Bang, Kak, kalian suka gak sama hadiahnya?” Vano berusaha mengalihkan topik agar Arjuna tak terus mengatakan bosan.
“Hhmm Abang suka. Lebih enak main di alat itu soalnya layarnya besar. Kalau di ponsel kan kecil,” ucapnya. Dia mulai ceria lagi ketika Vano berbicara tentang hobinya.
“Kalau kamu Kak?” Gantian Vano bertanya pada Aruna. “Kakak juga suka. Kayanya abis ini Kakak mau beli buku soal-soal lagi. Soalnya yang di rumah udah keisi semua.”
Vano menganga mendengar jawaban putrinya. “Kamu gak pusing? Hampir setiap hari loh kamu jawab soal-soal itu. Belum lagi kalau lagi di sekolah.” Kali ini Syasya yang berkata.
“Enggak, ini seru banget loh Mi.” Aruna membela dirinya.
“Iya tuh Mi. Kalau jam istirahat juga dia malah diam di kelas sambil baca-baca buku.” Arjuna mengadu pada kedua orang tuanya.
Syasya menggeleng. Dia senang jika anaknya rajin, tapi jika sampai lupa waktu seperti itu dia juga akan khawatir.
“Mami gak larang kamu buat baca buku ata ngerjain soal, Kak. Tapi ingat satu hal, gak boleh memporsir diri kamu. Kamu mungkin gak ngerasa pusing atau lelah, tapi sistem yang ada di tubuh kamu kasian kalau kamu kaya gitu,” ucap Syasya.
“Iya Mi. Lagian Abang juga bohong kok. Gak setiap istirahat Kakak kaya gitu. Cuma kalau masih kenyang, baru gak pergi ke kantin.”
Aruna melayangkan tatapan nyalang pada saudara kandungnya. Sementara Arjuna hanya tersenyum tanpa merasa bersalah.