
Tristan dan Vano yang merasa dipanggil menolehkan kepalanya ke arah suara itu berasal. Setelah menangkap objek yang mereka kenal, dengan kompak mereka berdecih muak dengan kehadiran wanita itu.
"kalian ngapain di sini?" seakan hubungan mereka baik-baik saja, Bianca gadis itu terus mencoba berinteraksi dengan kedua pria yang notabenenya mantan kekasihnya.
"lo penasaran kita ke sini buat apa?" tanya Tristan sinis.
"lo tanya aja sama pacar lo!" tunjuknya pada Brian. Sementara Brian sendiri hanya menunduk setelah mendapat tinju dari Vano.
"mereka tahu semua yang kita lakuin" bisik Brian pada Bianca. Bianca yang kaget membelalakkan matanya.
"maksud lo?" tanya Bianca. Bukannya tak mengerti, namun ia hanya memastikan bahwa apa yang baru saja ia dengar itu tidak salah.
"ya kaya yang lo pikir" Brian menjawab Bianca seadanya.
"jadi apa maksud lo celakain adek gue?" Tristan bertanya sembari melipat kedua tangannya di dada.
"gue? lo masih tanya kenapa gue lakuin itu? adek lo tuh pelakor tahu gak! Dia rebut Vano dari gue" Bianca menjawab dengan segala emosinya, Dia berbicara juga sambil menunjuk-nunjuk Tristan.
"apa maksud lo! Gue sama lo udah gak ada hubungan apa-apa! Dan kenapa juga gue harus repot-repot punya hubungan sama cewe murahan yang dengan gampangnya kasih keperawanan dia sama cowo lain di saat harusnya dia ngerayain hari jadinya sama gue!!" emosi Vano meledak. Setelah dua tahun lamanya, akhirnya Vano berani mengungkapkan kesalahan Bianca. Sementara Bianca yang mendengar penuturan Vano tubuhnya mematung.
"oh satu lagi, gue kira orang yang 'tidur' sama lo tuh Tristan. Tapi ternyata cowo lain. Jadi berapa banyak cowo yang lo pacarin?!! Cih murahan" lanjut Vano. Rasanya puas sekali mengungkapkan penyebab yang menjadikannya dingin selama ini.
Dengan ringannya tangan Bianca terangkat dan sebuah tamparan mendarat di pipi Vano. Namun bukannya kesakitan, Vano malah tersenyum jijik karena tamparan itu.
"apa?! Lo gak terima gue bilang murahan?!"
"kurang ajar ya lo" Bianca dengan kesal meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikan Brian yang menatapnya bingung antara ingin mengikuti Bianca pergi atau tetap di sana. Namun pada akhirnya Brian pergi juga meninggalkan Tristan dan teman-temannya.
Tristan yang sudah yakin jika dua orang itu akan membuka mulutnya, sedari tadi ia merekam pembicaraan mereka. Dia mendapatkan bukti lebih kuat untuk melaporkan kedua orang itu.
"thanks udah bantu gue" ucap Tristan. Tristan tersenyum dan menepuk pelan bahu Vano.
"santai bang. Lagian tanpa lo kita juga pasti bakal urus kasus ini sampai selesai karena ini menyangkut Syasya" jawab Lita. Ya, seerat itulah persahabatan mereka.
"kalau gitu gue harus pamit sekarang, gue harus balik lagi ke sana buat jagain Syasya. Gue serahin kasus ini sama kalian, gue percaya" ucap Tristan.
"harus sekarang banget bang berangkatnya. Lo gak cape?" tanya Lita.
"iya bang. Mending ambil penerbangan besok pagi aja, jadi lo ada waktu buat istirahat" tambah Dina.
"oke, gue berangkat besok pagi. Gak ada yang mau ikut?" canda Tristan.
"untuk sekarang kayanya engga deh bang" Vano menjawab dengan sedikit berat. Pasalnya ia ingin sekali bertemu dengan Syasya. Ia merindukan gadis itu.
"oke, ya udah yo balik" akhirnya mereka pulang dengan perasaan sedikit lega. Tak lupa hasil rekaman yang mereka dapatkan hari ini, mereka berikan kepada Dina untuk diberikan kepada ayahnya.
***
Terbilang sudah satu tahun keluarga Syasya tinggal di Jerman. Bukan tanpa alasan, tapi waktu pemulihan yang diperlukan Syasya memang begitu lamanya.
Tristan mengambil cuti dari kampus begitupun Syasya. Orang tua mereka bekerja secara online dan sebagian di handle oleh bawahannya.
Gadis itu kini tengah duduk bersila di depan televisi untuk menonton tayangan kesukaannya. Sebuah kartun jepang yang harus selalu ada dalam flashdisknya.
"serius amat lo" Tristan mengejutkan Syasya yang sedang fokus menonton tayangan itu.
"Sya lo mau balik ke Indo gak?" tanya Tristan ragu. Pasalnya ia tak ingin menguak kembali kenangan kelam yang Syasya alami.
"mau. Gue kangen sahabat gue" Syasya terlihat antusias.
Ya, perlahan ingatan Syasya kembali dan kondisi psikologisnya juga sudah membaik berkat terapi rutin yang ia lakukan selama setahun ini.
"ya udah ayo pulanh sekarang" Tristan menarik lengan Syasya.
Syasya dengan segera menghempaskan tangan abangnya.
"eh bambang, lo kira naik pesawat segampang naik angkot?!" Syasya kesal sendiri.
"ehehhehehe ya kali aja lo gak sabar jadi pengen pulang sekarang" Tristan kembali mendudukkan bokongnya di samping Syasya.
Sementara Syasya hanya menggelengkan kepalanya menyaksikan tingkah aneh abangnya.
"bang, lo bisa cerita gak sih masa lalu gue yang belum gue inget. Pegel tahu gak otak gue mikirinnya" ucap Syasya. Sementara netranya masih tertuju pada televisi.
"ya itu kan otak lu, kenapa ngeluhnya sama gue" ucap Tristan acuh.
"lo beneran sayang gak sih sama gue, tega banget lu" Syasya mendengus kesal karena permintaannya tidak dituruti.
"ya udah lo kasih tahu gue dulu deh apa yang lu inget"
"eemmm bentar. Gue ingat kalau Lita sama Dina sahabat gue. Gue sekolah di fakultas kesehatan. Vano pacar gue, tapi gue gak mau pacaran sama dia. Gue cuma punya kenangan buruk sama dia. Lo abang gue yang jelek"
Sebuah bantal sofa mendarat tepat di atas kepala Syasya. Tristan menimpuk Syasya dengan bantal itu sesaat setelah kalimat terakhir yang Syasya lontarkan.
"udah cuma segitu" dengan tenang Syasya membalas timpukan abangnya lebih keras.
"eehhh kalian ini kenapa sih ribut mulu" mami mereka datang dan langsung melerai.
"abang duluan mi" protes Syasya.
"engga mi dia bohong" Tristan berusaha mendapatkan pembelaan.
"iya udah udah ah" akhirnya mereka menyudahi aksi tempur bantal itu karena sang mami.
"ya udah cepat cerita" tagih Syasya.
"cerita apa?" tanya Tristan pura-pura lupa.
"masa lalu gue" ucap Syasya. Maminya hanya menyimak percakapan kedua anaknya ini.
"lah, itu kan masa lalu lo kok nanya sama gue ya mana gue tahu" lagi-lagi Tristan menjahili adiknya. Suatu kesenangan sendiri bagi Tristan melihat adiknya kesal.
"bang ih. Hobby banget lo jailin gue" Syasya menggoyang-goyangkan badannya kesal karen godaan abangnya.
"ya iya lah" Vano berlari menuju kamarnya. Syasya dengan cepat bangun dari duduknya dan mengejar abangnya.
Pintu kamar Tristan hampir tertutup sebelum Syasya menahannya agar tetap terbuka. Tristan dengan terpaksa sedikit membuka pintu itu dan berkata. Perkataan yang sebelumnya membuat Syasya senang namun kemudian kekesalannya kembali begitu saja.
"lo benar-benar pengen tahu? Jadi masa lalu lo tuh sebenarnya...."