
Hari-hari berat bagi Bian selalu berlalu dengan sama. Dia yang menyembunyikan luka di balik pakaiannya, dan juga menyembunyikan tangis di balik senyumnya.
Tak ada keluarganya yang tahu. Bian hanya memberitahukan hal tersebut pada Kiana, kekasihnya saja.
Itu juga tidak dengan sengaja, tapi ketika orang-orang itu sedang menghajar Bian, Kiana selalu ada di sana dan menolongnya.
Ingin sekali Bian melawan, tapi dia tak bisa. Dia harus melindungi nama baik ayahnya.
Beberapa bulan ke belakang, selain berbagai macam peristiwa yang terjadi di sekolah, Bian juga belajar menyetir.
Hal itu tentu sudah disetujui oleh orang tuanya. Sekarang dia sudah pandai menyetir dan Vano juga membelikan Bian sebuah mobil.
"Abang, gak apa-apa kalau kamu yang jemput Si Kembar? Soalnya Ayah bilang dia gak bisa keluar dari kantor. Biasalah lagi rapat," jelas Syasya.
"Mami percaya sama Abang?" kekeh pria itu.
"Ya percaya lah. Kan beberapa kali kamu juga suka antar Mami belanja," jawab Syasya.
Bian mengangguk. Setelah mengganti seragamnya, akhirnya dia pergi untuk menjemput si kembar.
"Abang berangkat dulu ya," pamit Bian pada Syasya.
"Hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut, santai aja." Syasya memperingatkan putranya itu.
Bian mengangguk. Dia masuk ke dalam mobil berwarna hitam kemudian melajukannya.
Sebenarnya dia memiliki janji malam ini dengan kekasihnya, tapi dia masih punya waktu nanti sore untuk bersiap.
Sepanjang jalan, Bian mendengarkan musik. Dia melihat-lihat sekitar juga. Ada banyak sekali anak sepertinya dulu.
"Andai ada banyak Ayah sebaik Ayah di dunia ini, mungkin mereka akan jadi seperti aku," harapnya.
Semua ayah memang baik, tapi menurut Bian, ayahnya itu sangat istimewa.
Bian sudah tiba di sekolah si kembar. Suasana sekolah sudah mulai sepi dan dia hanya bisa melihat beberapa anak di sekitar sekolah.
Netranya menangkap sosok si kembar yang sedang menunduk seperti ketakutan.
Melihat hal itu, Bian segera keluar dari mobilnya dan mendekati si kembar.
Dia sana tak hanya ada adiknya, tapi juga ada dua orang pria yang sepertinya sudah lebih besar dari si kembar.
"Ada apa ini?" tanya Bian saat sudah tiba di sana.
Sontak, si kembar yang mendengar suara Abangnya berlindung di belakang Bian.
"Ada apa?" Kini Bian bertanya pada adiknya.
"Kakak itu minta uang sama kita, Bang. Padahal kan uang jajan kita udah abis," cicit Aruna.
Bian mengepalkan tangannya. Dia ingin sekali marah, tapi dia ingat yang sedang ada di hadapannya saat ini adalah anak kecil.
Bian kembali memusatkan perhatiannya pada dua orang pria yang katanya meminta uang pada adiknya.
"Benar kalian minta uang sama mereka?" tanya Bian.
"Enggak kok, kita lagi main aja," jawab salah satu anak itu.
Bahkan selain meminta uang, mereka juga sangat pandai berbohong.
"Kalian gak bohong? Padahal kalau bohong nanti idungnya panjang kaya Pinokio. Kalian tau kan? Sepanjang ini." Bian berusaha menakut-nakuti anak itu agar mereka mengaku.
"Kita cuma minta lima ribu." Akhirnya pria yang satunya angkat bicara.
"Oke bagus kalian mengaku. Gini ya, kalian gak dikasih uang jajan sama orang tua kalian?" tanya Bian dengan lembut.
Kedua anak itu terdiam sebelum kemudian mereka menjawab, "Dikasih kok, tapi kurang," jawab mereka.
Bian menghela nafasnya. Inilah salah satu contoh anak yang boros.
"Kalian tau gak dil luar sana masih ada anak yang bahkan gak dikasih uang jajan?" Dua anak itu menggeleng.
"Malah mereka bela-belain jual koran atau jual minuman demi dapat uang. Kita yang dikasih uang jajan harusnya lebih bersyukur dari mereka." Bian mencoba menjelaskannya sebaik mungkin.
"Kalau uang jajan kalian kurang, bukan berarti kalian bisa minta sama orang lain. Saat kalian punya uang lebih, coba tabung. Nanti kalau suatu saat kita perlu uang, kita bisa pakai uang tabungan itu. Benar gak?" Bian mencoba berinteraksi dengan kedua anak itu.
Sepertinya apa yang dikatakan Bian berhasil masuk dalam otak mereka.
"Perbuatan yang kalian lakuin sekarang itu gak baik. Siapa tau nanti bisa jadi boomerang buat kalian sendiri."
Mereka mengangguk sambil menundukkan kepalanya.
"Nih kalian beli yang kalian mau. Tapi jangan beli yang macam-macam ya." Bian memberikan dua lembar uang sepuluh ribuan pada masing-masing anak itu.
Senyum cerah terpancar, mereka berdua saling menatap sebelum akhirnya mereka menatap Bian.
"Makasih Kak!!" seru mereka sebelum kemudian mereka pergi dari sana dengan berlari kecil.
Bian mengalihkan pandangannya pada si kembar yang sedari tadi memperhatikannya.
"Pulang sekarang?" tanya Bian seolah tak terjadi apapun.
Si kembar mengangguk seolah terhipnotis dengan Abangnya.
Mereka masuk ke dalam mobil, keduanya duduk di depan dengan alasan mereka kecil jadi muat.
Berbeda jika Vano yang menyetir, mereka sama-sama tak ada yang ingin duduk di depan. Bian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Abang hebat banget," ucap Arjuna.
"Apanya yang hebat?" Bian pura-pura tak mengerti dengan yang dikatakan Arjuna.
"Tadi loh. Padahal aku tadi udah berusaha usir mereka dan bilang gak ada uang. Tapi mereka maksa terus." Arjuna mengadu pada dirinya.
Bian terkekeh, andai dia bisa seberani itu untuk memberitahukan pada ayahnya jika dia tersiksa.
"Tapi kalian sering ngalamin ini?" tanya Bian.
Dia khawatir adiknya itu akan mengalami apa yang dia alami sekarang.
Namun Bian bersyukur karena beberapa detik kemudian, si kembar menggeleng dengan kompak.
"Baru hari tadi kita dimintain uang." Kali ini Aruna yang menjawab.
"Kalau kekerasan lain, misalnya dipukul atau diejek?" Bian kembali bertanya.
"Enggak kok, Bang. Teman-teman kita baik semua."
Bian bisa bernafas lega jika sudah seperti ini.
"Pokonya kalau ada apa-apa kalian harus bilang, entah itu sama Mami, Ayah atau Abang. Yang penting kalian bilang, oke?"
"Iya Bang." Lagi-lagi keduanya menjawab dengan kompak.
Mereka sampai di rumah dengan Syasya yang masih di posisi tadi sebelum Bian berangkat menjemput si kembar.
Yaitu duduk di sofa dengan sebuah majalah di tangannya.
"Mami!!" teriak kedua anak itu. Mereka berlari menghampiri Syasya berlomba mendapatkan pelukan dari gadis itu.
Sementara Bian berjalan di belakang mereka hanya menggelengkan kepalanya.
"Hai anak-anak Mami. Gimana sekolahnya?" Pertanyaan rutin yang selalu Syasya tanyakan pada anak-anaknya.
"Baik. Pelajaran Matematika emang yang terbaik," seru Aruna.
Memang pada dasarnya gadis itu menyukai perhitungan. Jadi dia mengatakan jika Matematika adalah yang terbaik.
"Mau makan sekarang?" tawar Syasya yang kemudian mendapatkan anggukan dari si kembar.
"Ya udah, kita makan. Yuk Bang makan dulu." Syasya juga mengajak Bian yang baru saja duduk di sofa.
Terpaksa Bian kembali bangun. "Salah siapa pake duduk segala," kekeh Syasya saat dia melihat raut wajah Bian yang sedikit aneh.