Complicated Love

Complicated Love
S2 - Anak Malang



Vano sudah selesai dengan pekerjaannya. Dia melirik jam yaang melingkar di tangan kanannya. Jarum jam menunjukan pukul setengah dua belas siang. Itu artinya ini waktunya untuk menjemput kedua anaknya.


Vano menyimpan pekerjaannya. Dia membawa jasnya yang tersampir di sandaran kursinya. Tak lupa dia juga membawa kunci mobilnya.


Vano keluar dari ruangannya. “Net, saya pergi dulu. Telpon saya kalau ada hal yang mendesak,” pinta Vano saat diaa melewati kursi Neta.


Neta mengangguk. “Baik, Pak.” Setelah mendapatkan jawaban dari sekretarisny itu, Vano segera pergi dari sana. Dia tak ingin membuat kedua anaknya menunggu.


Jalanan tak seramai tadi pagi. Mungkin karena memang ini belum masuk jam istirahat dan juga belum saatnya untuk pulang sekolah bagi siswa SMP maupun SMA.


Vano menginjak gasnya hingga kecepatan mobilnya bertambah. Matanya membulat ketika dia melihat objek yang tiba-tiba menyebrang jalan.


Vano segera menginjak rem berharap dia tidak terlambat. Namun ...


Bruk


Ya, Vano terlambat. Orang yang menyebrang itu jatuh tertabrak mobilnya. Vano segera turun dari mobil setelah selesai berurusan dengan keterkejutannya.


“Kamu gak apa-apa?” Vano memapah anak itu. Ya, yang dia tabrak seorang anak yang kiranya berusia delapan belas tahun.


Anak itu menggeleng. Seorang anak laki-laki membawa setumpuk koran. Bisa Vano tebak jika anak itu memilih berjualan koran ketimbang sekolah.


“Masuk mobil ya, saya akan bawa kamu ke rumah sakit.” Vano mencoba membujuknya karena meskipun anak itu mengatakan tak kenapa-kenapa, Vano melihat ada luka di lutut dan di bagian siku anak itu.


Sementara itu lalu lintas mulai padat karena mobil Vano menghalangi jalanan. Vano melihat ke arah mobil lain yang berjejer di belakang mobilnya.


“Lalu lintas mulai padat. Saya mohon kamu masuk dulu ke mobil. Setidaknya sampai saya menemukan tempat untuk menurunkan kamu.”


Karena tak ingin mengundang pandangan dari orang lain, akhirnya anak itu masuk ke dalam mobil Vano dengan terpaksa.


Vano melajukan mobilnya. “Kamu gak sekolah?” tanya Vano. Sebenarnya Vano tak ada niatan untuk menurunkan anak itu sebelum dia membawanya ke rumah sakit.


“Enggak, Om,” jawabnya. Vano bisa menilai jika anak ini adalah seorang pendiam. Terbukti dengan dia hanya menjawab seperlunya apa yang ditanyakan oleh Vano.


“Kenapa?” Vano kembali bertanya.


“Saya harus cari uang buat makan biar bisa bertahan hidup.” Jawaban anak itu membut Vano terdiam.


“Orang tua kamu?”


“Saya gak punya orang tua.” Setelah mendengar jawaban itu Vano terdiam cukup lama. Rupanya pertanyaannya mungkin adalah pertanyaan yang sangat tidak ingin didengar oleh anak itu.


“Om boleh turunin saya di depan?” tanya anak itu. Vano menggeleng. “Saya akan bawa kamu ke rumah sakit, lutut sama siku kamu terluka. Tapi saya mau jemput anak saya sebentar.”


“Gak apa-apa Om. Ini cuma luka kecil.” Anak itu memperlihatkan lukanya pada Vano.


“Enggak. Saya tetap mau bawa kamu ke rumah sakit. Kita sampai, sebentar saya cari anak saya dulu.” Vano tetap tak membiarkan anak itu keluar. Sementara dia mencari anaknya, anak yang ada di dalam mobil itu melihat-lihat seisi mobil.


“Beruntung banget anak itu bisa naik mobil ini dan punya Ayah yang baik,” lirihnya. Sangat disayangkan dia tak memiliki itu semua.


“Masuk,” perintah Vano saat dia sudah menemukn kedua anaknya. Vano membukakan pintu belakang dan membiarkan Arjuna dan Aruna masuk.


“Ini siapa, Yah?” tanya Aruna sambil memandang pria itu.


“Oh iya. Tadi Ayah gak sengaja nabrak Kakak ini, jadi Ayah mau bawa dia ke rumah sakit. Ngomong-ngomong siapa nama kamu?” Vano beralih bertanya pada anak itu.


“Nama saya Bian, Om,” jawab anak itu.


“Namanya Kak Bian. Kita ke rumah sakit dulu ya?” ucap Vano. “Om saya gak apa-apa. Gak perlu dibawa ke rumah sakit. Nanti juga sembuh.”


“Gak boleh, Kak. Kakak kalau sakit harus ke rumah sakit biar cepat sembuh. Nanti dokter kasih obat.” Di luar dugaan Bian, Arjuna berkata seperti itu padanya.


Dia kira kedua anak kembar itu akan membencinya karena ada anak dekil di dalam mobil mereka.


Vano tersenyum mendengar perkataan Arjuna. “Kakak kayanya juga harus ketemu Mami deh, soalnya Mami pinter banget jagain kita kalau lagi sakit. Satu hari, kita udah sembuh.” Kali ini Aruna yang berkata demikian.


“Oke, sekarang kita ke rumah sakit abis itu kita pulang makan bareng di rumah, okey?” Vano berusaha mendapatkan persetujuan dari kedua anaknya.


“Let’s go!!!” seru kedua anaknya bersamaan. Bian merasa sangat menikmati kebersamaan ini. Biarkan dia menjadi bagian dari anak yang memiliki orang tua walaupun hanya sehari.


Setidaknya dia bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah. Tak lama mereka tiba di rumah sakit yang sangat besar.


Bian merasa ini berlebihan. “Om, ini sangat berlebihan. Pakai plester luka juga nanti sembuh, gak usah ke rumah sakit sebesar ini.”


“Kita gak tahu kan, gimana kalau nanti luka kamu infeksi? Baiknya kita periksa dulu karena dokter akan lebih tahu.” Akhirnya Bian mengikuti kemauan Vano.


“Saya belum punya uang buat bayar, Om.” Perkataan itu membuat hati Vano sangat sakit.


“Saya gak minta kamu buat bayar. Saya cuma minta kamu buat diperiksa abis itu minum obat, udah.”


“Ayah, Kak Bian gak akan kenapa-kenapa kan?” Aruna merasa sangat khawatir. Entah kenapa dia menjadi merasa iba dengan pria yang luka itu.


“Gak apa-apa. Kita dengar penjelasan dokter dulu ya.”


Akhirnya Bian mendapatkan pemeriksaan dan juga dokter membalut luka Bian dengan sangat teliti.


Vano dan kedua anaknya menunggu di luar. “Ayah, kasian ya Kak Bian,” lirih Arjuna. Vano mengangguk.


“Tapi kalian gak boleh ngomong gitu di depan dia ya.” Vano mencoba memberi pengertian pada kedua anaknya.


Bian keluar dengan tangan dan kaki yang sudah dibalut. “Pak, sudah selesai. Untuk pengobatan dalamnya silahkan tebus obat ini di apotek ya.” Seorang dokter memberikan selembar kertas yang berisi resep obat.


“Baik Dok. Terima kasih.” Setelah selesai meengurus administrasi dan juga membeli obat yang diresepkan dokter tadi, mereka segera pergi dari sana.


Dalam perjalanan mereka saling diam sebelum kemudian sebuah suara menginterupsi mereka. “Om, terima kasih atas segala bantuannya. Boleh saya turun di sini?” tanya Bian.


“Sama-sama. Saya juga minta maaf karena gak nyetir dengan hati-hati. Tapi kamu belum boleh pulang. Kita ke rumah saya dulu dan makan siang di sana. Istri saya sudah memasak.”


Bian menunduk. Sebenarnya dia ingin, tapi jika dia tak turun di sana sekarang, dia tak akan bisa menjual koran dan dia tak akan mendapatkan uang.