
Hari sudah larut dan Vano belum juga kembali. Di rumah, Syasya dan anak-anaknya merasa khawatir. Bahkan pria itu juga tak menjawab telponnya.
“Apa perlu Abang jemput ke sana?” tanya Bian pada Syasya. Jika saja hari masih sore, mungkin Syasya akan mengizinkan anaknya, tapi ini sudah sangat larut dan hampir tengah malam.
“Jangan, ini udah malam, Bang. Mami tambah khawartir kalau Abang pergi,” jawab Syasya apa adanya.
Bian juga tak bisa melawan jika Maminya tak mengizinkan. “Kita tunggu beberapa menit lagi ya,” lanjut Syasya.
Mereka akhirnya menunggu. “Mi, Kakak ngantuk,” ujar Aruna. Mata gadis itu sudah memerah karena ini memang sudah larut.
“Ya udah sana bobo. Abang temenin Kakak bobo ya.” Syasya meminta Arjuna menemani saudaranya.
“Tapi Ayah gimana?” Aruna juga sangat khawatir dengan Ayahnya yang tak kunjung pulang.
“Paling bentar lagi juga pulang. Kalian tidur aja, biar Mami sama Bang Bian yang nunggu Ayah.” Akhirnya Aruna mengangguk.
Aruna dan Arjuna naik ke lantai atas menuju kamar mereka. Tak ada pilihan lain karena besok mereka juga masih harus sekolah.
Sekitar lima belas menit setelah kepergian si kembar, suara deru mobil terdengar yang membuat kedua orang yang masih terjaga itu segera menghampirinya.
Tampak mobil yang mereka kenali membuat merekaa menghela nafas dengan lega. “Ahh akhirnya,” ucap Syasya. Dia mengelus dadanya lega.
Dia sangat khawatir dengan suaminya karena belakangan ini Vano sering mengeluh sesak. Ditambah pria itu juga sering mengatakan lelah padanya.
“Lagi apa kalian di sini?” tanya Vano begitu dia tiba di depan pintu masuk dan ada istri dan putranya di sana.
“Ditelpon gak diangkat! Ditungguin gak pulang-pulang! Kamu ini dari mana aja?” Syasya memukul pelan lengan suaminya karena kesal.
“Iya maaf, tadi ada kerjaan mendadak yang harus selesai besok. Jadi terpaksa lebur. Aku juga gak sempat pegang ponsel karena sibuk banget,” sesal Vano.
“Yuk masuk dulu, kita ngomong di dalam.” Vano mengajak kedua orang itu untuk masuk ke rumah.
Bian dan Syasya hanya menurutinya saja hingga mereka bertiga tiba di ruang keluarga. Vano melonggarkan dasinya yang membuat lehernya seakan tercekik.
“Kita khawatir loh, Yah. Lain kali kabarin, dari tadi Mami sampai panik banget. Abang juga udah mau susul Ayah ke kantor,” ujar Bian.
Vano mendengarkan putranya dengan seksama. “Iya maaf, Bang. Ayah benar-benar lupa tadi. Saking sibuknya, Ayah juga gak nyangka udah selarut ini,” jawab Vano.
“Ya udah, sana mandi. Aku udah siapin air.” Syasya berucap. “Abang tidur sana, udah malam. Makasih ya udah nemenin Mami.”
Bian mengangguk dan segera beranjak dari tempatnya untuk segera ke kamar. “Sana mandi.” Syasya kembali berkata pada suaminya karena suaminya itu tak kunjung beranjak dari tempatnya.
“Bentar, aku masih cape,” jawab Vano. “Van, belakangan ini kamu sering bilang cape, atau sesak. Kita perlu cek ke dokter gak sih?” tanya Syasya.
Tangan Vano terangkat untuk mengelus surai istrinya. “Gak usah. Mungkin itu cuma karena aku banyak kerjaan. Kalau udah agak lama sesaknya juga ilang kok.”
Vano benar-benar mengatakan hal itu dengan yakin karena dia juga merasa baik-baik saja. Sebenarnya Syasya agak kurang setuju dengan ucapan suaminya.
“Tapi apa salahnya periksa dulu, biar kita yakin apa yang salah sama kamu.” Syasya berusaha membuat Vano mengerti.
Namun, lagi-lagi pria itu menolak. Dia beranggapan jika rasa lelah dan sesaknya itu hanya karena dia ditekan pekerjaan belakangan ini.
“Gak usah. Nanti kalau aku ngerasa makin parah, aku bakal periksa. Tapi buat sekarang ini masih bisa ditolelir.”
“Ya udah, yuk mandi dulu. Udah malam banget nanti makin dingin,” ajak Syasya. Vano mengangguk. Syasya mengambil alih jas dan tas kerja suaminya.
Mereka menuju kamar mereka. Syasya yang sibuk memilihkan pakaian tidur untuk suaminya, sementara Vano pergi membersihkan badannya.
Setelah selesai menyiapkan pakaian untuk suaminya dan menyimpan pakaian itu di ranjang, Syasya pergi ke dapur.
Suaminya pasti belum makan malam, dia tak akan memasak. Hanya membuat sebuah sandwich saja karena ini juga sudah larut.
“Dia benar-benar gak apa-apa, kan?” Syasya masih merasa khawatir dengan Vano.
Tangannya terangkat untuk membuatkan Vano segelas susu. Dia ingin suaminyaa tidur nyenyak setelah lelah bekerja.
Cukup lama Syasya berkutat di dapur karena dia membuat beberapa sandwich. Tentu saja dia juga menginginkannya.
“Sayang, lagi apa?” Vano turun dengan tangan yang masih sibuk mengancingkan piyamanya.
“Berenti dulu jalannya kalau lagi sibuk ngancingin baju. Nanti jatuh.” Bukannya menjawab pertanyaan Vano, Syasya malah memperingatkan suaminya.
Vano tersenyum dan berhenti di tengah-tengah tangga. Dia melanjutkan mengancing bajunya hingga selesai sebelum dia melanjutkan jalannya.
“Lagi apa?” tanyanya setelah dia tiba di bawah. “Nih makan dulu. Aku cuma buat ini sama susu,” jawab Syasya.
Vano duduk di kursi makan tepatnya di hadapan makanan yang telah disiapkan oleh Syasya.
Dia memakan makanannya dengan lahap begitu pula dengan Syasya. “Van, Aruna tadi cerita. Katanya dia jadi perwakilan buat olimpiade matematika.”
Ucapan Syasya membuat Vano tersedak karena terkejut. “Minum dulu!” Dengan cepat, Syasya menyodorkan air mineral kepada suaminya.
“Apa tadi? Olimpiade Matematika?” Vano mengulang apa yang istrinya katakan. Syasya hanya mengangguk menjawab pertanyaan Vano.
“Katanya sih pelaksanaannya satu bulan kedepan. Jadi dia masih punya satu bulan buat persiapan,” lanjut Syasya.
“Putriku emang sepintar itu ya?” tanya Vano tak menyangka jika Aruna bisa menjadi sehebat itu.
“Hmm, kamu aja yang terlalu sibuk kerja sampai kepintaran anaknya aja gak tau,” sindir Syasya.
“Aku kerja juga kan buat kalian,” bela Vano. Dia tak ingin kalah oleh argumen istrinya. “Iya deh yang gak mau kalah.”
“Katanya, mulai minggu depan dia bakal pulang terlambat karen ikut bimbingan.”
“Dia sendirian dari sekolahnya?” tanya Vano. “Enggak, ada dua temannya lagi. Mereka bertiga.” Vano mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan istrinya.
“Kalau gitu kasih tau Bian juga. Minta dia buat antar jemput Aruna kalau dia lagi gak sibuk. Takutnya aku gak ada waktu luang.”
Bukannya tak ingin meluangkan waktu, tapi pekerjaannya yang memaksanya tak bisa meninggalkan tempat duduknya barang sedetikpun.
“Iya, tadi aku juga udah ngomong sama dia. Dia bilang dia usahain bakal antar jemput Aruna. Tapi kalau ada kelas yang bentrok, mungkin dia gak bisa.”
“Buat hari yang dia gak bisa, nanti aku suruh sekretaris aku aja buat jemput Aruna,” ucap Vano yang diangguki oleh Syasya.
“Aku udah selesai.” Tak terasa, makanan mereka sudah habis. “Kamu duluan ke kamar, aku beresin ini dulu.”