
Setelah kepergian anak dana suaminya, Syasya hanya terdiam sesaat bingung harus melakukan apa. Tapi kemudian dia ingat jika minggu depan adalah ulang tahun si kembar, itu berarti dia harus mempersiapkan semuanya.
“Oke mulai dari gedung,” ucapnya sambil mengeluarkan ponselnya. Dia harus menyewa gedung lebih awal untuk hari ulang tahun si kembar.
“Halo Ci?” sapa Syasya setelah telpon tersambung. “Iya Sya ada apa?” Kedua orang itu memang sudah akrab karena Syasya memang sering menyewa gedung pada Ci Ine.
Ya pemilik gedung itu bernama Ine, tapi Syasya kerap memanggilnya dengan sebutan Ci.
“Biasa mau sewa gedung buat ulang tahun Si Kembar,” ucap Syasya.
“Oke siap, kaya biasa kan ya?” tanya Ci Ine. Setiap tahun Syasya memang selalu menyewa gedung pada Ci Ine, itulah kenapa dia tak perlu mengatakan tanggalnya karena Ci Ine juga sudah tahu.
“Iya Ci.” Setelah melakukan percakapan utama, mereka masih bercakap tentang hal lain yang memang menarik perhatian mereka.
Usai dengan cerita random mereka, Syasya mengakhiri percakapannya. Untuk saat ini itu saja dulu dan yang lainnya biarkan dia nanti meminta bantuan Bian.
Sebelum nanti Syasya datang ke toko kue bersama dengan Bian, dia harus mencari desainnya terlebih dahulu.
Itulah mengapa saat ini dia sedang berselancar di internet untuk mencari referensi desain kue yang unik untuk kedua anaknya.
“Yang ini bagus,” ucapnya. Setelah dia mendapatkan yang dia inginkan, dia lanjut melihat desai gaun.
Hari ini dia benar-benar tak bisa tidur karena harus mengurus itu semua hingga jam menunjukkan pukul sepuluh siang.
“Abang pulang, Mi.” Suara Bian terdengar oleh indera pendengaran Syasya. Awalnya dia sangat terkejut karena ini belum jam Bian pulang.
Namun keterkejutannya sirna saat dia benar-benar melihat sosok Bian di hadapannya. “Loh kok udah pulang sih Bang?” tanya Syasya heran sambil menerima uluran tangan Bian yang akan bersalaman.
“Iya Mi, katanya guru-gurunya mau rapat sampai sore. Jadi, kita pulang lebih awal,” jelas Bian yang mendapat anggukkan dari Syasya.
“Mami lagi apa?” tanya Bian sambil duduk di samping Syasya.
“Oh iya kebetulan kalau gitu. Ini lihat.” Syasya menunjukkan layar ponselnya kepada Bian di mana di sana ada desain kue dan juga gaun untuk putrinya.
“Ini buat apa?” Bian masih bingung karena dia memang tak tahu apa-apa.
“Minggu depan Si Kembar ulang tahun. Jadi Mami harus siapin ini semua. Ayah sibuk kerja, kamu mau kan bantuin Mami?” tanya Syasya pada putranya itu.
“Waktunya seminggu lagi?” tanya Bian terkejut yang langsung dianggukki oleh Syasya.
“Kalau kue sih bisa ya Mi, terus ini gaun gimana? Emang bisa jadi dalam waktu satu minggu?” tanya Bian. Itu juga yang ada di fikiran Syasya sejak malam.
Salahnya tidak ingat lebih awal hingga dia harus benar-benar maksimal mencari gaun sekarang.
“Mami juga gak tahu, tapi kamu bisa kan antar Mami buat cari orang yang sanggup bikin dalam satu minggu?” tanya Syasya.
Bian mengangguk, dia sama sekali tak keberatan dengan itu. “Kita cari ke mana dulu, Mi?” tanya Bian bingung.
“Kita coba temuin teman Mami dulu ya. Bentar Mami siap-siap dulu, kamu juga ganti baju dulu,” perintah Syasya yang kemudian diangguki oleh Bian.
Mereka bersiap untuk pergi. Waktu mereka maksimal hanya dua jam karena jam dua belas mereka harus sudah ada di rumah. Si Kembar akan pulang di jam itu.
Syasya menggelengkan kepalanya. “Gak apa-apa, kali ini Mami aja yang bawa, nanti kamu belajar dulu ya.” Bian mengangguk.
Mereka berangkat ke tempat yang dikatakan Syasya tadi. Tempatnya ramai karena memang hasil jahitan di sana sangat rapi.
“Emang bisa Mi? Ini kayanya ramai banget loh, kalau gak bisa satu minggu gimana?” tanya Bian yang melihat tempatnya begitu ramai.
“Mami juga gak terlalu berharap sih kalau di tempat ini karena emang tempatnya setiap hari ramai kaya gini,” jawab Syasya.
“Tapi gak apa-apa, yuk coba turun dulu,” ucap Syasya yang dianggukki oleh Bian.
Mereka turun untuk bertanya pada pemiliknya. “Permisi, Kak Gisel-nya ada?” tanya Syasya pada seorang pegawai yang ada di sana.
“Oh ada, sebentar biar saya panggilkan.” Pegawai itu pergi untuk memanggil Gisel beberpa lama.
“Heii kamu, udah lama ya gak ke sini,” ucap seseorang yang Syasya sebut Gisel itu.
“Kak, iya. Belakangan ini emang gak lagi perlu gaun. Tapi kayanya sekarang aku perlu,” jawab Syasya.
“Tunggu dulu, ini ... “ Pemilik itu menunjuk Bian yang ada di samping Syasya.
“Ah iya Kak, ini anak aku.” Syasya memberikan kode pada Gisel jika Bian adalah anak angkatnya. Gisel yang faham langsung mengangguk.
“Oh iya? Ganteng banget ya.” Syasya hanya terkekeh mendengar hal itu. Ungkapan itu bukan lagi hal yang aneh karena dia sendiripun mengakui ketampanan Bian.
“Yuk duduk dulu,” ajak Gisel kepada mereka untuk duduk. Mereka mengikuti langkah sang pemilik dan duduk di sana.
“Jadi gimana nih?” tanya Gisel. “Gini Kak, Si Kembar minggu depan kan ulang tahun. Selama ini aku lupa banget, jadi dadakan deh. Aku butuh gaun buat Aruna sama aku dan Jas buat suami, Arjuna sama Bian,” ucap Syasya dengan menunjuk Bian di akhir kalimatnya.
“Buat minggu depan ya?” tanya Gisel. Dia seperti sedang berfikir, tentu saja berfikir apakah pegawainya bisa menyelesaikannya dalam waktu kurang dari satu minggu?
“Iya Kak.”
“Tunggu bentar ya, biar Kakak pastikan dulu sama pegawainya.” Syasya mengangguk dan Gisel pergi meninggalkan mereka untuk menemui pegawainya.
“Mi, teman Mami sejak kapan?” tanya Bian. “Sejak Mami suka bikin gaun ke dia,” jawab Syasya sambil terkekeh.
Gisel memang tak bisa dikatakan sebagai teman lama karena dia juga bertemu dengan Gisel kurang lebih tiga tahun lalu. Itupun mereka hanya bertemu ketika Syasya membutuhkan sebuah pakaian untuk acara-acara tertentu.
“Hhhmmm iya iya.”
Tak lama Gisel kembali. “Gimana Kak?” tanya Syasya dengan raut wajah yang sangat berharap. Dia memang sangat berharap bisa membuat gaun di sana karena dia sudah tahu dengan pasti bagaimana kualitasnya.
“Katanya bisa, tapi mungkin mepet banget sekitar dua hari sebelum pelaksanaan,” jawab Gisel.
Bian dan Syasya saling berpandangan untuk meminta pendapat satu sama lain. “Kalau dua hari sebelumnya kayanya masih bisa Mi,” opini Bian.
Syasya mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan putranya. Syasya memandang Gisel dan mengangguk “Oke Kak gak apa-apa. Nanti desain yang aku mau aku kirim ke Kakak ya,” ucap Syasya.
Gisel mengangguk. “Iya kirim aja.”