Complicated Love

Complicated Love
Chapter 11



“kita mau ijin main ke taman, tan” jawab Vano. Ia peka suara Syasya terbata-bata.


“nah iya itu maksud Syasya” Syasya tersenyum canggung. Kenapa susah sekali untuk mencari alasan padahal ia hanya perlu mengucapkan apa yang biasa dia lakukan seperti nonton atau main game.


“yaudah kenapa pake gugup kalau cuma mau main ke taman” mami Syasya hanya tersenyum sembari mengusap lengan anaknya.


“pulangnya jangan terlalu malam ya. Vano titip anak tante” wanita paruh baya itu mengalihkan pandangannya pada Vano meminta jawaban.


“tentu tan” Vano tersenyum. Ia senang bisa dipercayai oleh mami Syasya.


“kalau gitu kita pergi dulu ya, mi” Syasya segera berdiri dan menarik lengan Vano.


“hati-hati sayang” ucap maminya sedikit berteriak karena jarak putrinya yang sudah agak jauh.


Vano mulai melajukan motornya. Seperti tujuan awal mereka, mereka akan menuju sebuah taman di pusat kota. Jalanan siang ini tak terlalu  ramai. Walaupun begitu tetap saja aroma kendaraan yang berlalu lalang menyeruak ke dalam indera penciuman.


Sesampainya di tempat tujuan, Vano membuka helmnya tak lupa ia juga membukakan helm yang dipakai Syasya.


“mau es krim?” itulah kata pertama yang diucapkan Vano saat sampai di taman karena hal pertama yang ia lihat adalah gerobak es krim.


“mau” ucap Syasya dengan semangat. Kalian ingat jika Syasya alergi dingin? Ya. Harusnya ia tak memakan es krim. Dampaknya memang tidak saat itu tapi di malam hari mungkin karena udara lebih dingin di malam hari daripada siang hari.


Vano membeli satu cone es krim. Ia tak tahu penyakit yang diidap kekasihnya. Sementara Syasya sendiri belum memberi tahu Vano.


“kok cuma satu? Kamu gak beli?” tanya Syasya.


“enggak, aku lagi gak pengen. Kamu aja” akhirnya Syasya mengangguk mengiyakan Vano.


Setelah membayar es krim itu mereka pergi mengitari taman dan mencari tempat yang enak untuk berbincang. Bangku di sudut taman tampak menarik perhatian mereka, apalagi suasana teduh yang diciptakan pohon rindang yang ada di sana.


“disana aja” mereka saling bertatapan dan akhirnya mengangguk setuju.


Setelah duduk dengan posisi nyaman, Syasya memulai pembicaraan sambil terus menjilati es krim yang ada di tangannya.


“kamu baik-baik aja?” tanya Syasya.


“maksud aku, wanita kemarin” lanjut Syasya dirasa Vano tidak berhasil menangkap maksudnya.


“hhmm aku baik-baik saja” bohong Vano. Saat ini ia tidak baik-baik saja mengingat potongan-potongan masa lalu berhasil masuk kembali dalam kepalanya.


“kamu bisa cerita sama aku. Aku kan bukan orang asing” ucap Syasya meyakinkan Vano agar mau bercerita.


Terdengar helaan nafas dari Vano. Sebenarnya ia sangat berat untuk menceritakan semuanya.


“tapi kalau kamu belum siap, ga apa-apa” Syasya mengelus punggung Vano untuk menenangkan pria tampan itu. Syasya mengalihkan pandangannya. Ia sedikit sedih karena Vano tidak mempercayainya. Tapi kemudian...


“dia, wanita itu namanya Bianca” akhirnya Vano membuka pembicaraan.


“dia mantan aku dua tahun yang lalu” Syasya menggenggam tangan Vano dan mengusapnya. Sementara Vano, ia memandang mata Syasya sangat dalam. Syasya mengangguk memberi isyarat agar Vano melanjutkan ceritanya.


“dulu, aku sayang banget sama dia. Aku serius sama dia. Awalnya semua baik-baik aja, yang aku lihat dia wanita polos yang benar-benar perlu perlindungan, apalagi kedua orang tuanya berada di luar negeri untuk bekerja” nafas Vano mulai berat dan tidak teratur. Syasya mengelus punggung Vano sampai nafasnya kembali normal.


“tiba di hari jadi kita yang ke dua tahun, aku pergi ke rumahnya untuk memberikan kejutan. Aku kira dia juga akan ingat hari jadi kita. Tapi setelah aku sampai di rumahnya...” cukup lama Vano diam.


“aku melihat dia melakukan hal yang tak senonoh dengan pria lain” akhirnya dia menyelesaikan ceritanya.


Dengan spontan Syasya memeluk Vano dan mengusap punggungnya. Bahu Syasya terasa basah. Syasya yakin kekasihnya menangis. Syasya menjauhkan badanya dari Vano untuk melihat keadaan kekasihnya itu.


Ternyata Vano yang selama ini ia kenal adalah pria rapuh yang sangat butuh kasih sayang.


“tapi Van, kamu yakin Bianca bukan korban? Maksudku seperti pemerkosaan?” tanya Syasya. Ia takut Vano hanya salah paham dengan kejadian itu.


“bagaimana bisa dia korban sementara dia juga terlihat menikmati permainan itu?” ya, Vano mendengar sangat jelas suara-suara itu.


Syaysa mengangguk mengiyakan Vano kemudian mengusap air mata yang terus mengalir dari mata pria itu.


Setelah merasa tenang,  Vano mengantar Syasya kembali ke rumahnya  mengingat hari ini sudah sore.


“mau mampir dulu gak?” tanya Syasya. Ia tak malu lagi untuk mengajak Vano mampir karena maminya sudah mengetahui hubungannya dengan Vano.


“enggak deh. Tapi besok pagi aku jemput yah” Vano mengedipkan sebelah matanya merayu Syasya.


Pipi Syasya memerah karena godaan Vano. Namun kemudian ia mengangguk mengiyakan ajakan Vano.


***


Seperti yang dijanjikan Vano, saat ini ia sudah ada di depan rumah Syasya. Sementara gadis itu baru keluar dari kamarnya dengan tas yang ia gendong.


“Sya, sarapan dulu sayang” ucap maminya.


“nanti aja mi di sekolah” setelah sampai  di ruang keluarga, Syasya kembali ke dapur dan mengambil roti yang  sebelumnya sudah diolesi selai.


Sesampainya di depan rumahnya, Syasya melihat sudah ada Vano.


“pagi sayang” sapa Vano. Syasya yang tidak biasa dipanggil begitu tersedak ludahnya sendiri. Namun ia juga menyapa sapaan Vano.


“pagi juga, Van” tanpa menunggu Vano selesai memasangkan helm Syasya langsung naik ke motor itu yang membuat motor itu sedikit oleng karena bebanya bertambah.


“jadi kemana kita hari ini?” goda Vano.


“ya kesekolah lah, kamu ini kenapa?” tanpa ragu Syasya melingkarkan tangannya di pinggang Vano.


“oke. Kita berangkat” Syasya tersenyum. Vano yang dulu sulit digapai dan tidak tersentuh ternyata adalah pria humoris dan romantis.


Jantung berduanya berdegup kencang. Mungkin jika orang-orang mendengarnya itu akan seperti irama yang saling bersahutan.


Tak butuh lama untuk mereka sampai di sekolah. Syasya membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan dibantu oleh Vano.


“sebentar lagi kita lulus. Kamu kuliah dimana?” tanya Syasya.


“aku ngikut kamu aja deh” jawab Vano dengan kekehannya.


Syasya memukul lengan Vano sangat pelan.


“aku belum tahu, nanti aku pikirin lagi. Kalau kamu?” tanya Vano.


“aku jga belum tahu. Tapi aku mau jadi dokter”


Vano tersenyum dengan cita-cita tinggi kekasihnya. Ia akan mendukung kekasihnya apapu yang terjadi. Mereka berjalan berdampingan menuju kelas jangan lupakan tatapan siswa lain pada mereka.


Begitulah keseharian mereka selama ini. kadang mereka bertengkar karena hal kecil seperti Syasya yang mau ke toilet dan Vano yang ingin mengantar Syasya. Tapi mereka selalu punya cara untuk menyelesaikannya.