Complicated Love

Complicated Love
S2 - Hancur



Hari-hari bahagia bagi Bian adalah hari-hari di mana dia berlibur dengan keluarganya dan momen di mana dia sedang bersama dengan Kiana. 


Sisanya, dia hanya sedang menjalankan sandiwara luar biasa. 


Setiap berangkat ke sekolah, sekarang dia tidak diantar lagi karena dia sudah memiliki mobil. 


"Mau sarapan dulu?" Dalam perjalanan, Bian menawarkan makan pada kekasihnya. 


Ya, dia selalu menjemput Kiana dan kebetulan hari ini Kiana belum sarapan. 


"Kamu juga?" Kiana balik bertanya. 


"Iya aku juga." Kiana memang enggan jika Bian hanya mengantarnya untuk sarapan. Dia bilang tidak adil. 


Jadi, jika dia sarapan sendiri, dia lebih memilih melakukannya di kantin sekolah. 


Tapi karena sekarang Bian juga belum sarapan, jadi Kiana setuju untuk mencari sarapan di luar. 


"Mau makan apa?" tanya Bian. 


"Apa ya, paling bubur ayam. Soalnya jam segini jarang penjual yang udah buka," jawan Kiana. 


Bian mengerti, dia berputar mencari tukang bubur di sekitar sana. 


"Itu!" seru Kiana saat dia melihatnya. 


Mereka berhenti di sana dan memesan makanan mereka. 


Tak membutuhkan waktu lama untuk mereka menyelesaikan makannya. 


Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju sekolah. 


"Beda banget ya sekarang. Liat, dia pake mobil mewah."


"Iya, padahal dulu jual koran dan gelandangan."


"Orang macam apa sih yang adopsi dia?" 


Semua ucapan-ucapan teman sekolahnya selalu sampai ke telinga Bian. Seperti biasa, dia hanya perlu menulikan telinganya. 


Setiap hari selalu saja ada bahan pembicaraan yang ditujukan pada pria itu. 


"Udah jangan didengerin." Kiana memperingatkan. 


Bian memang berusaha mengabaikannya. Tapi ada kalanya dia tak bisa. Ada kalanya setiap ucapan orang-orang itu sampai ke hatinya. 


Bian mengangguk dan tersenyum ke arah Kiana berusaha baik-baik saja agar gadis itu tak khawatir. 


Mereka menuju ke kelas. Dulu pandangan orang pada Bian seperti melihat berlian karena tampang Bian yang luar biasa tampan. 


Tapi sekarang semuanya beda setelah rumor tentang masa lalu Bian terungkap. 


Bian mencoba tegar atas semuanya. Dia membutuhkan dua tahun lagi untuk bersabar dan kemudian semuanya akan baik-baik saja karena dia akan lulus dari sekolah ini. 


"Kuliah nanti aku gak akan gini lagi," ucap Bian pada Kiana. 


Dia tak ingin bertemu dengan orang-orang yang memiliki pemikiran sempit tentang hidup. 


"Woii Bian!! Sini lo!!" Seperti biasa, Rio datang dengan kedua temannya. 


Sejenak, Bian menoleh pada Kiana. "Kamu duluan ke kelas ya." 


Sebenarnya Kiana agak ragu meninggalkan pria itu, tapi Bian sudah memintanya untuk pergi. 


Karena tak memiliki pilihan lain, Kiana pergi dari sana. 


Bian menghampiri mereka dengan raut wajah datarnya. 


"Apa lo liat-liat?" Mahesa bertanya pada Bian karena Bian seperti memandang mereka dengan sombong. 


Tangan Bian mengepal kuat menahan amarah yang ingin sekali meledak. 


"Woohh wohh lihat? Dia ngepalin tangannya," timpal temannya yang satunya. 


Bian perlahan mengendurkan kepalannya karena dia tak ingin membuat masalah ini lebih besar. 


"Kenapa?" tanya Bian pada orang-orang itu. 


"Beliin kita makanan di kantin. Lapar nih!" ucap Rio sambil memegangi perutnya. 


Bian mengulurkan tangannya meminta uang dari Rio. 


Rio menatap bingung Bian. "Apa?" tanyanya. 


"Uangnya?" jawab Bian. Sebenarnya dia sudah tahu jika Rio akan meminta memakai uangnya, tapi dia penasaran dengan reaksi Rio kali ini. 


Benar saja, Rio terkekeh sebelum sepersekian detik kemudian tinju melayang dan menghantam perut Bian. 


"Itungan banget lo!! Pake uang lo lah!" bentak pria itu setelahnya. 


Bian yang semula agak membungkuk karena perutnya terasa nyeri, mulai membangkitkan tubuhnya. 


Tanpa mengatakan apapun  lagi, Bian pergi dari sana dengan wajah datarnya. 


"Enak banget minta duit dari kita," ucap Rio yang tentu saja hal itu didengar oleh Bian. 


Kiana hanya menatap kekasihnya dengan iba. Dia juga merasa sakit atas apa yang dialami kekasihnya. 


"Thank's," ucap Rio basa-basi. 


Tanpa menunggu pria itu melanjutkan kalimatnya, Bian melenggang pergi dari kelas. 


Dia butuh suasana sepi sekarang. Kiana yang melihat kekasihnya itu pergi segera mengikutinya. 


Seperti biasa, rooftop tempat yang sangat dia sukai belakangan ini. 


"Bi tunggu!" teriak Kiana tepat sekali ketika mereka tiba di rooftop. 


Bian menoleh dan tak mengira jika kekasihnya mengikutinya. 


"Kenapa kamu ke sini?" tanya Bian. Kiana terus menghampiri pria itu hingga mereka saling bersampingan. 


Kiana menggeleng. "Gak kenapa-kenapa. Di kelas gak seru," ucapnya. 


Padahal Kiana memiliki dua sahabat di kelasnya, tapi rupanya gadis itu lebih memilih menghampirinya ke sini. 


"Jangan bolos. Kalau bel udah bunyi, balik ke kelas," perintah Bian. 


"Kamu juga, jangan nyuruh aku doang," jawab Kiana. 


Bian terkekeh mendengar penuturan gadis itu. Tangannya terangkat untuk mengelus kepala gadis itu. 


"Iya," jawab Kiana. 


"Kamu yakin mau nahan ini semua?" tanya Kiana tiba-tiba. Dia tahu sebenarnya Bian sudah tak kuat, tapi pria itu berusaha untuk menahannya. 


"Hhmm, lagian cuma tinggal dua tahun lagi, kan." Bian berusaha optimis dengan keyakinannya. 


"Seenggaknya kamu bilang semua ini sama orang tua kamu, Bi." 


Kiana kembali memperingatkan Bian karena semakin lama, perbuatah Rio pada Bian semakin menjani. 


"Gak usah. Aku masih bisa nahan kok." Bian kembali meyakinkan kekasihnya. 


"Cukup kamu aja yang tau," lanjut Bian. 


"Bian!!!" Sebuah teriakan membuat Bian dan Kiana tersentak. 


Di sana, di pintu masuk rooftop lagi-lagi ada Rio dan kedua temannya. 


Ketiga pria itu berjalan cepat menghampiri Bian dan Kiana. 


Dengan kasar, Rio menyingkirkan Kiana hingga gadis itu tersungkur ke samping. 


"Lo apa-apaan sih?!" Bian naik pitam saat melihat kekasihnya terjatuh. 


Dengan cepat Bian menghampiri Kiana untuk membantu gadis itu bangun. 


"Na - " 


Belum sempat Bian mengucapkan kalimat pelengkapnya, kerah bajunya ditarik oleh Rio hingga dia berdiri. 


Kemudian wajahnya dihantam dengan brutal. 


"Bian!!" Kiana berteriak saat melihat kekasihnya dihajar oleh Rio. 


"Apa?! Mau saling jadi pahlawan kalian?" sentak Rio.


"Jangan bentak pacar gue!!" Bian berteriak sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah. 


Rio berdecak saat dia mendengar ucapan Bian.


"Ohh dia pacar lo?" goda Rio. Pria itu malah mendekati Kiana dan mencoba menyentuh gadis itu. 


Dengan cepat Bian menahan kaki Rio agar tak lebih dekat dengan kekasihnya. 


"Lari Na!" perintah Bian. 


Satu kali, perintahnya belum dilakukan oleh Kiana hingga Bian meminta gadis itu kembali. 


"Lari!!!" teriaknya. Kiana bangun dari duduknya dan segera keluar dari sana. 


Fokus Rio sekarang hanya kepada Bian yang masih terduduk. 


"Mau bunuh gue, lo?!" bentak Rio. 


"Apa maksud lo?" tanya Bian bingung. 


"Berapa banyak cabe yang lo masukin ke makanan gue, sialan!!"


Rupanya hanya karena itu dia menjadi murka. 


"Lo aja yang lemah," desis Bian yang tentu saja didengar oleh Rio. 


"Sialan!!" 


Setelah itu di rooftop hanya terdengar suara pukulan dan erangan saja. Bian benar-benar hancur saat ini karena ulah Rio.