Complicated Love

Complicated Love
Chapter 12



Dulu, hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Syasya dan teman-temannya. Tapi ketika hari ini datang, Syasya justru merasa sedih. Ya, hari ini adalah hari kelulusan mereka.


Jika mereka lulus berarti ia akan jarang bertemu dengan Vano. Ah membayangkannya saja sungguh mengesalkan.


Kini mereka tengah melakukan persiapan untuk acara wisuda di kelasnya masing-masing.


"yahh kita bakal pisah" kata Dina sedih.


"tapi kita kuliah bareng kan?" Lita juga bertanya.


"iya kita kuliah bareng cuma beda jurusan mungkin" timpal Syasya.


"Sya ada yang cari di luar" kata salah satu teman sekelas Syasya.


"siapa?" tanya Syasya sambil berjalan menuju pintu depan.


"loh bang ada apa? kenapa di sini?"


"engga apa-apa cuma mau mastiin adek gue baik-baik aja" jawab Tristan sambil mengacak rambut Syasya.


Dengan sigap Syasya menyingkirkan tangan Tristan dari kepalanya. Mereka tak menyadari bahwa selama kegiatan yang mereka lakukan, Vano melihatnya.


Tangannya terkepal menahan amarah. Orang yang sama seperti dulu. Orang yang merebut Bianca dari pelukannya dan saat ini orang itu tengah menggoda kekasihnya.


Vano mendekat pada dua insan yang sedang berbicara itu untuk mengetahui apa yang mereka bicarakan.


"mami ke sini kan bang?" tanya Syasya pada abangnya.


Mami? Abang? Dahi Vano mengernyit. Jadi Tristan abangnya Syasya?


Dan disinilah Vano tahu jika memang Tristan abangnya Syasya.


"iya nanti nyusul, yaudah lo masuk aja" ucap Tristan.


Syasya mengangguk kemudian masuk ke kelasnya.


Sementara Vano masih di tempat semula. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangannya memutih.


Vano melangkah tergesa-gesa setelah melihat kejadian tersebut. Tak pernah ia bayangkan bahwa wanita yang selama ini menemani hari-harinya ternyata merupakan adik dari pria yang menghadirkan luka terdalam di hatinya.


Tangannya secara spontan memegang dada yang tiba-tiba nyeri. Nafasnya mulai tidak teratur dan gejolak luar biasa dalam perutnya membuatnya mual. Dia segera berlari ke arah toilet sekolah yang letaknya lumayan jauh dari posisinya saat ini.


Setelah sampai di tempat tujuannya, Vano memuntahkan semua isi perutnya. Matanya memerah, air matanya menggenang di pelupuk matanya dengan tangan yang mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.


"kemana aja gue selama ini? kenapa baru sekarang gue tahu kalau dia adik dari bajingan itu?" seringaian muncul di bibirnya. Sangat miris, menyedihkan dia baru mengetahui kebenaran saat hatinya sudah terlampau jatuh pada Syasya.


Namun hanya sesaat perasaan menyedihkan itu datang. Kini netranya menatap pantulannya di cermin, senyum mengerikan disertai helaan nafas menjadi bukti bahwa keadaannya saat ini sudah lebih baik.


"oke, saatnya balas dendam bukan?" Ya. Vano memutuskan untuk membalas rasa sakit yang diciptakan Tristan melalui adiknya.


"gue cuma perlu nyakitin Syasya, dan semuanya selesai" Vano kembali untuk mempersiapkan acara kelulusannya.


Di tempat lain Syasya gundah karena Vano tidak kunjung datang. Berkali-kali ia melihat pintu berharap kekasihnya segera datang. Tapi yang diharapkannya tak juga menampakan batang hidungnya.


Sampai acara wisuda akan segera dimulai. Mungkin kekasihnya ada urusan mendadak. Akhirnya Syasya hanya bisa mengirim pesan kepada Vano agar cepat datang karena acara akan segera di mulai.


"Vano Alkanza" panggilan di microphone terdengar yang artinya giliran Vano untuk menerima ijazah.


Dan Vano dengan santainya berjalan menuju panggung. Dan dia tadi membaca pesan yang dikirim Syasya namun tidak ia balas.


Satu persatu nama di siswa panggil. Dan bersyukur mereka semua lulus. Ada yang menangis terharu ada juga yang melompat-lompat kegirangan.


Kini Syasya tengah berkumpul dengan keluarganya. Niatnya mereka akan merayakannya dengan makan bersama. Namun netra Syasya saat ini mengitari sekolah mencari keberadaan Vano.


Akhirnya sosok yang ia cari ada di hadapannya. Ia segera menghampiri Vano dan memeluk pria itu. Namun Vano sama sekali tidak membalas pelukan Syasya. Wajahnya dingin tak ada senyum sedikitpun di wajahnya.


"happy graduation, Van" ucap Syasya.


"hmm Happy graduation" jawab Vano singkat.


"kamu kemana aja dari tadi aku cariin" tanya Syasya khawatir.


"aku pulang duluan" lanjut Vano.


Syasya menampilkan wajah bingungnya. Kenapa dengan Vano. Apa dia melakukan kesalahan?


"kamu marah sama aku" tanya Syasya.


"engga" setelah kata itu meluncur dari bibirnya tanpa memperdulikan perasaan Syasya pria itu pergi meninggalkannya.


Namun sebenarnya Vano bersembunyi di suatu tempat untuk mengamati gerak-gerik Syasya. Entah kenapa ia yang menyakiti Syasya, tapi hatinya juga yang sakit.


Tak lama setelah kepergian Vano, ada pria yang menghampiri Syasya. Vano merasa sangat familiar dengan wajah itu. Ya, Vano ingat. Itu adalah pria yang sama dengan pria yang mengantar Syasya beberapa minggu lalu saat ia menyuruh Syasya pulang sendiri.


"Sya?" tanya Brian. Ya, pria itu adalah Brian. sambil mencolekpundak Syasya.


Syasya menoleh dan kemudian senyum manis muncul di bibirnya.


"Bri, kok bisa disini sih?" tanya Syasya antusias.


"iya kemarin lihat postingan sekolah lo, katanya hari ini ada wisuda. Gue langsung keinget lo dong jadi gue datang" jelas Vano.


"eh btw, happy graduation yah Sya" ucap Vano sambil menyerahkan bucket bunga yang telah ia siapkan.


"eheheh makasih yah, Bri. Tapi gue buru-buru soalnya ada janji sama keluarga" jelas Syasya.


"yaudah gak apa-apa. Gue juga mau samperin teman gue" jawab Brian.


"okee bye" Syasya melambaikan tangannya antusias sebelum kembali menemui keluarganya.


"pi, jadi kan?" tanya Syasya untuk memastikan acara mereka.


"iya jadi sayang, tapi kita pulang dulu yah. Ganti baju" jawab papinya.


Akhirnya mereka pulang dulu untuk bersiap-siap. Namun di jalan menuju rumah pikiran Syasya benar-benar kalut. Ia memikirkan alasan kenapa Vano menjadi dingin padanya.


Ia mencoba mengirim pesan pada Vano namun tak ada satupun pesannya yang Vano balas. Ia hanya sekedar membaca pesannya saja.


"Sya woy lu gak mau turun?" sentak Tristan . Sudah beberapa kali ia memanggil Syasya namun tak ada sahutan dari adiknya itu. Pada akhirnya Vano menyentak Syasya agar tersadar dari lamunannya.


"Ah oh iya ini mau turun" Lamunan Syasya buyar karena panggilan abangnya. Sekarang ia benar-benar tidak fokus, pikirannya terus saja tertuju pada Vano dan alasan kenapa pria itu marah.


Syasya dan keluarganya bersiap-siap untuk acara mereka. Setelah selesai mereka pergi ke tempat yang mereka tuju. Tempatnya memang tidak terlalu mewah, namun cocok untuk selera mereka.


Suasana remang yang diciptakan di tempat makan itu membuat pengunjung santai dan sangat cocok untuk suasana hati Syasya saat ini.


"Sya. Kamu mau makan apa?" tanya maminya.


"samain aja sama mami" semangatnya benar-benar sudah hilang.


"yaudah mami pesan ini aja ya" ucap maminya sambil menunjuk menu yang akan mereka pesan.


"iya mi"


"abang mau apa?"


"abang mau nasi goreng special aja mi" Tristan nyengir tanpa dosa.


"kamu jauh-jauh ke sini cuma mau makan nasi goreng?" tanya papinya.


"ya gak apa-apa kali pi, lagian emang lagi pengen nasi goreng" ucap tristan.


Keluarganya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak-anaknya. Sementara Syasya sibuk dengan lamunannya. Matanya terus saja berputar melihat-lihat isi restoran.


"mami, Syasya jalan-jalan dulu yah sebentar ke luar" ijin Syasya.


"iya sayang hati-hati yah"


Syasya mengangguk menjawab maminya. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju halaman belakang yang terlihat sangat indah. Pengunjung di sini rata-rata anak muda semua. tak sengaja netranya melihat sosok yang ia kenal, Vano. Namun kenapa pria itu bersama seorang wanita sementara pesan yang ia kirim tak dibalas sama sekali?