
Ini sudah empat jam setelah kedatangan Syasya, Vano dan Si Kembar.
Setelah kedatangan mereka, suasana rumah sangat ramai. Bian dan Beno juga tak lagi membicarakan perihak masa lalu mereka.
"Bantu Mami di dapur aja yuk, Kak," ajak Kiana saat dia melihat para pria di ruang tamu yang sedang asik dengan gadget miring mereka.
Ya, kalian pasti tahu apa yang akan terjadi jika para pria sudah berkumpul.
Bersiap-siap dengan gadget mereka, memiringkan gadget itu kemudian mempersiapkan diri. Bermain game.
Itulah yang sedari tadi mereka lakukan hingga membuat Kiana dan Aruna bosan sendiri.
"Ayo!! Di sini gak seru," jawab Aruna. Kalian tahu sendiri apa yang disukai Aruna.
Kedua gadis itu akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana memilih untuk membantu Syasya memasak di dapur.
"Mami!! Mau Kia bantuin gak?" Kiana berlari ke dapur bersama dengan Aruna.
Mereka menghampiri Syasya yang sedang sibuk memotong sayuran.
"Boleh, emang kamu gak sama Bian?" tanya Syasya. Dia takut mengganggu waktu gadis itu bersama anaknya.
"Enggak ah. Cowok-cowok gak seru," jawab Kiana sambil mengambil alih sayuran yang sedang dipotong Syasya.
"Hhmm mereka asik aja main game. Sampai berisik itu di ruang keluarga." Kali ini Aruna yang menambahkan.
"Ck ck ck, kalian ini. Kaya gak tau aja gimana cowok kalau udah kumpul," ucap Syasya yang diangguki oleh Kiana dan Aruna.
"Makanya kita ke sini, Mi. Mening bantu Mami masak daripada dengerin mereka teriak-teriak gak jelas."
Syasya terkekeh mendengar apa yang diucapkan Kiana. Dia kira hanya dia saja yang sangat jengah jika melihat suami dan anaknya main game.
Rupanya dia masih punya teman untuk menghilangkan kejenuhan itu.
Syasya beralih membilas daging ayam yang sudah dipotong.
"Masak sayur sop sama ayam goreng, Mi?" tanya Aruna.
Gadis itu tak membantu. Dia malah duduk di kursi makan dan memperhatikan mereka berdua.
"Iya. Menu sekarang ini aja ya." Aruna mengangguk.
Dia tak pernah mengeluh akan makan dengan apapun. Tapi dia memang agak enggan untuk memasak.
Dia sangat tak suka bau bawang. Pernah dia sekali membantu Syasya memasak dan bau bawang di tangannya tak hilang seharian.
Sejak itulah dia tak ingin membantu memasak lagi.
Sibuknya para wanita di dapur, para pria malah sedang tertawa di ruang keluarga.
"Harusnya Abang gak maju, jaga jarak!" teriak Arjuna pada Bian. Dalam game memang Arjuna yang paling hebat. Dia selalu menang melawan siapapun.
"Iya maaf maaf," jawab Bian. Dia memang tidak sehebat Arjuna dalam bermain game, tapi dia suka.
Tak jauh berbeda dengan Bian, Vano dan Beno juga selalu mendapar peringatan ringan dari Arjuna karena mereka bermain tak sebaik Arjuna.
"Yess menang!!" Arjuna mengepalkan tangannya senang ketika mereka berhasil memenangkan permainan.
"Lagi gak?" tanya Arjuna pada semua orang.
Perlu kalian ingat jika mereka bermain sudah empat jam lamanya dan Arjuna mengajaknya lagi.
"Abang gak cape apa? Ayah aja cape hati main ginian," ucap Vano. Dia merebahkan badannya di karpet.
"Enggak. Ini seru loh," jawab Arjuna. Memang ini yang dia sukai jadi dia tak pernah bosan.
"Udah ah, Ayah nyerah. Pusing banget." Akhirnya Vano gugur dalam permainan kesekian.
Sementara yang lainnya kembali bermain, Vano berjalan menuju dapur untuk melihat istrinya.
"Lagi pada ngapain nih??" tanya Vano ketika dia melihat para gadis sedang berada di dapur.
"Lagi masak dong buat para pria yang lagi berjuang," sindir Syasya pada suaminya.
Vano menghampiri istrinya itu dan memeluknya dari belakang.
"Gak apa-apa, iya kan?" tanya Vano sambil meminta pendapat anak-anaknya.
"Iya gak apa-apa, Mi." Kiana yang menjawab. Lagipula hal itu sudah biasa bagi dia karena Vano memang sering bermesraan dengan Syasya di depan mereka.
"Gamau ah. Lepasin, aku lagi pegang pisau loh." Syasya mengangkat pisaunya. Kebetulan sekali dia sedang memotong ayamnya.
Vano mengangkat tangannya dan mulai menjauh dari Syasya.
Aruna dan Kiana terkekeh melihat hal itu. Sangat langka, karena biasanya Syasya yang akan mengalah pada Vano.
"Gak dibolehin masa, Kak." Vano akhirnya memilih duduk di samping Aruna dan mengadu pada putrinya itu.
"Lagian salah sendiri manja-manja di saat yang gak tepat," jawab Aruna.
Vano terdiam saat dia tak mendapatkan dukungan dari siapapun.
"Yang lainnya belum pada kelar main game?" tanya Syasya masih dengan kegiatannya.
"Hhmm kayanya mereka main buat ronde terakhir," jawab Vano.
"Jangan lama-lama kalau main game. Kasian mata mereka nanti sakit," ucap Syasya.
"Iya nanti aku bilangin." Vano berakhir hanya memandang istrinya dan Kiana memasak hingga wangi makanan mulai semerbak.
"Wahh lapar banget," cicitnya. "Hhm gak ada lawan kalau udah Mami yang masak. Apalagi sekarang dibantuin sama Kak Kia," timpal Aruna.
Vano mengangguk. "Mening sekarang kamu panggil mereka buat makan. Ini bentar lagi juga kelar," ucapnya Syasya.
Vano bangkit dari duduknya untuk memanggil anak-anak itu.
"Udah dulu yuk main game-nya. Itu Mami udah masak, kita makan dulu," ajak Vano pada anak-anak itu.
"Iya bentar Yah. Nanti nyusul. Ini nanggung bentar lagi," jawab Bian.
Vano sangat mengerti jika sedang bermain game, mereka tak bisa diganggu.
"Yaudah, ini pertandingan terakhir ya. Setelah itu kalian makan ke dapur ya."
"Iya yah siap." Kali ini Arjuna yang menjawab.
"Gimana? Udah kelar?" tanya Syasya pada Vano yang baru saja kembali.
"Belum. Sebentar lagi katanya. Tungguin aja, kayanya gak bakal lama ini."
Semuanya mengangguk dan mulai menata makanan mereka di meja makan.
Tak lama mereka menunggu, akhirnya anak-anak yang bermain game itu kini berdatangan ke dapur.
"Wahhh enak nih," ucap Arjuna. Pria itu mengambil tempat duduk di samping Aruna dan diikuti oleh Bian dan Beno.
"Gak apa-apa nih, Tan, Om saya makan di sini?" tanya Beno basa-basi.
"Anggap aja rumah sendiri. Lagian Tante masak banyak kok. Yuk makan!" ucap Syasya.
Mereka mengambil tempat masing-masing dan mulai mengambil makanannya untuk makan.
Mereka makan dengan tenang namun masih ada beberapa percakapan yang menghangatkan suasana.
"Kalian ini kalau main game emang suka lupa waktu ya. Lain kali gak boleh gitu," ucap Syasya.
Bukan karena game-nya, tapi Syasya mengkhawatirkan kesehatan mata anak-anaknya.
"Iya Mi. Lagian kan baru juga, enggak tiap hari kok." Arjuna berusaha mencari alasan.
"Iya Mami tau, tapi tetap aja tadi kalian main lama banget loh."
"Iya Mami, enggak lagi deh."
Mereka semua terkekeh melihat Arjuna yang pasrah seperti itu.
Sisanya mereka hanya bercerita ringan seputra kehidupan mereka masing-masing.