
"bang ada berita penting, lo mau pulang atau gue kasih tahu di telpon aja?" tanya Lita pada sambungan telponnya.
"ada apa emangnya?" tanya Tristan dari sebrang sana. Mengapa sepertinya apa yang ingin dikatakan Lita begitu serius.
"ini soal kecelakaan Syasya bang. Gue saranin lo balik dulu aja sini biar bisa langsung diselesaikan" desak Lita karena memang begitulah baikknya.
"jangan bilang?...." Tristan menggantungkang kalimatnya.
"iya bang lo benar. Jadi gimana?" tanya Lita.
"gue pulang sekarang" Tristan segera memutuskan sambungan telponnya. Tak hanya itu, di samping Lita, Dina sedang menelpon Vano.
"Van, lo bisa ke caffe samping kampus sebentar. Penting, soal Syasya" ucap Dina seadanya.
"oke, gue ke sana sekarang" Vano memutuskan sambungannya.
Tak lama setelah itu, lonceng yang ada di pintu caffe terbuka menandakan ada orang yang masuk ke dalam caffe.
Lita dan Dina menolehkan kepalanya ke arah pintu. Sosok yang mereka tunggu ternyata sudah ada di sana.
"jadi kenapa?" tanya Vano dengan nafas tak beraturan. Mungkin dia berlari dari parkiran tadi.
"duduk dulu. Gue mau lo tenang dan jangan emosi, oke?" Dina berusaha membuat Vano lebih tenang dulu. Dia tak mau mengambil resiko Vano akan melabrak Bianca setelah apa yang dia katakan.
"lo denger baik-baik" Vano mulai menajamkan pendengarannya saat Dina mendekatkan ponsel ke arah telinganya.
Percakapan kedua orang tadi terus mengalun memenuhi indera pendengaran Vano. Perlahan kedua tangan Vano mengepal hingga buku tangannya memutih saking kencangnya kepalan Vano.
Lita yang ada di samping Vano menepuk-nepuk pundak Vano mencoba memberitahu Vano untuk menahan emosinya. Dan beruntunglah caranya itu berhasil. Vano menarik nafasnya kemudian menghembuskannya secara perlahan saat rekaman itu berakhir.
"kita udah hubungin bang Tristan dan dia langsung terbang ke sini. Kita tunggu dia dulu oke" ucap Dina. Itu lebih seperti sebuah perintah.
Vano hanya mengangguk pasrah. Sedari tadi dia terus menggigit jari telunjuknya yang menandakan bahwa dia sedang tegang. Apa salah Syasya hingga harus melalui cobaan yang sangat berat seperti ini.
***
Tristan, pria itu tengah berjalan dengan cepat menuju rumah Lita setelah ia memarkirkan mobilnya di depan komplek. Ia tahu rumah Lita karena pernah mengantar Syasya untuk menginap di sana.
Setibanya di sana, Lita tengah menunggunya di sebuah gazebo di depan rumah. Vano dan Dina juga ada di sana.
"hai apa kabar?" tanya Tristan.
"baik bang" Vano menjawab sapaan Tristan seraya berjabat tangan. Sementara Lita dan Dina hanya mengangguk menandakan bahwa mereka juga baik-baik saja.
"jadi kabar apa yang lo dapat?" tanpa basa-basi Tristan menanyakan kabar yang mereka dapat sembari duduk di sana.
"ini bang" Dina menyodorkan ponselnya setelag sebelumnya dia menyalakan rekaman yang waktu itu dia ambil.
"kalian tahu siapa mereka?" tanya Tristan. Kini rahangnya sudah mengeras, bahkan giginya bergemeletuk ditambah wajah merah yang menyiratkan kemarahannya.
"tau bang. Kita lihat sendiri pas mereka lagi ngomong ini" ujar Lita.
"Brian sama Bianca" kedua mata Tristan terbelalak saat nama Bianca disebutkan.
"maksud lo?" tanya Tristan.
"iya bang, Bianca mantan lo dan Brian. Lo kenal dia? yang waktu wisudaan Syasya dia ngasih bunga"
"gue ingat. Cowo itu"
"jadi rencana lo sekarang gimana bang?" tanya Vano tak sabar.
"bawa kasus ini ke jalur hukum" Tristan beranjak dari duduknya dan berjalan beberapa langkah. Namun setelah itu ia berhenti dan menoleh pada Vano, Lita dan Dina.
"kalian ikut?" tanya Tristan.
Tanpa berpikir panjang, mereka segera menganggukkan kepalanya dan bangkit dari posisinya semula. Mereka segera menuju mobil Tristan.
Tujuan mereka saat ini adalah kantor polisi. Beruntung di sana ayah Dina bekerja sehingga mungkin akan mempermudah gugatan ini.
Seperti kantor polisi pada umunya, jeruji besi yang terlihat saat mereka telah melewati lorong. Di sana terlihat sosok paruh baya yang tengah berkutat dengan beberapa dokumen.
"ayah?!" seru Dina.
"sayang, ada apa? Kenapa ke sini?" Ayah Dina bangun dari duduknya dan menghampiri putrinya sebelum kemudian mengusap pucuk kepala Dina.
"teman Dina. Dina ke sini mau bantu teman Dina yah, iya itu" Dina memang jarang ke tempat seperti in, itu sebabnya dia agak grogi sekarang.
"kenapa teman kamu?" ayah Dina mulai menelisik satu-satu wajah teman Dina yang tak lain Tristan, Vano dan Lita.
"bukan mereka ayah, sebentar" Dina segera mengeluarkan ponselnya dan kemudian memperdengarkan rekaman itu pada ayahnya.
"oke. Kalian tenang, saya akan proses kasus ini"
"oh ya. Kalau boleh saya mau minta foto dari orang yang ada pada rekaman ini. Kalian gak keberatan?" lanjutnya.
"tentu saja tidak om. Nanti kami akan kirim fotonya" Tristan menjawabnya. Seingatnya dia masih punya foto Bianca, tapi untuk Brian entahlah.
"untuk sekarang kalian bisa pulang" ucap ayah Dina.
"baik ayah. Dina pulang dulu" mendapat kecupan singkat di dahinya dari sang ayah membuatnya malu, pasalnya ayah Dina melakukan itu di depan teman-temannya. Sementara teman-teman dina hanya terkekeh melihat keharmonisan ayah dan anak itu
Mereka pulang dengan harapan pelaku kejahatan itu segera tertangkap. Tristan juga telah menelpon orang tuanya untuk memastikan keadaan Syasya.
Mengingat tentang gadis itu, seperti biasa dia tengah berbaring di ranjang. Namun bedanya saat ini tangan dan kakinya tidak terikat.
Waktu demi waktu keadaannya mulai membaik walaupun ingatannya tak kunjung kembali. Setiap dua minggu sekali, ia dipertemukan dengan seorang psikolog untuk terapi.
Dan hasil terapi itu memang terlihat. Walaupun pandangan Syasya kerap sekali kosong, namun setidaknya sekarang ia tak lagi histeris jika bertemu orang. Pikirannya seperti kosong.
Sesekali gadis itu memegangi kepalanya yang kerap terasa sakit. Memori itu samar-samar masuk dalam ingatan Syasya namun belum total. Itu sebabnya Syasya menjadi lebih sering melamun untuk memikirkan memori apa yang datang dalam ingatannya.
Sejauh ini yang dia ingat hanya hari-hari kelam dimana Vano menyakiti hati dan fisiknya. Itu sebabnya ia menjadi takut bertemu Vano, bahkan sebelumnya ia takut bertemu orang-orang. Mungkin itu yang dinamakan trauma.
"sayang, makan dulu ya. Mami suapin" dengan lembut Mami Syasya mengusap rambut putrinya. Dia menahan habis-habisan air mata yang hendak meluncur bebas di pipinya.
Syasya tak menjawab ia hanya memandang maminya dengan pandangan aneh. Entahlah dia bingung bahkan hanya untuk menjawab pernyataan maminya.
Namun ketika mami Syasya memberikan sesendok nasi di hadapan Syasya, gadis itu mulai membuka mulutnya dan menerima suapan itu.
"mami?"