
Bian masih ada di ruangan keamanan setelah ketiga orang yang menghajarnya itu pergi.
"Pak, boleh saya minta tolong," ucap Bian pada Pak Ridwan, sang guru keamanan.
"Kenapa?" tanya guru itu.
"Tolong jangan bilang kejadian tadi sama siapapun terutama sama orang tua saya. Anggap aja tadi gak terjadi sesuatu." Bian meminta hal itu pada gurunya.
"Loh, kenapa? Apa benar dugaan saya kalau mereka membully? Kenapa kamu gak mau bilang sama orang tua kamu?"
Guru itu berusaha mencari tahu kebenarannya.
Sebagai seorang guru keamanan dia harus benar-benar amanah menjalankan tugasnya. Dan dia tak mungkin membiarkan begitu saja seorang anak yang terkena perundungan.
"Enggak Pak. Kejadian tadi benar-benar lagi latihan. Tentang alasan saya kenapa orang lain tak mau tau karena saya takut orang lain akan salah paham terutama orang tua saya. Saya gak mau membuat mereka khawatir, jadi tolong jangan bicarakan hal apapun pada orang tua saya."
Alasan yang diberikan Bian memang cukup masuk akal. Pak Ridwan mengangguk paham, jika itu yang ada dalam pikiran muridnya maka dia akan melaksankannya.
"Baik kalau itu yang kamu mau. Tapi jangan harap saya percaya begitu saja dengan ucapan kamu. Saya tetap akan mengawasi ketiga orang teman kamu itu dan kamu."
Bian mengangguk mengerti. "Saya pastikan hal ini tak akan terulang lagi Pak."
Setelah menyelesaikan masalah ini, Bian pergi dari sana. Namun dia tak akan langsung ke kelasnya karena dia merasa harus ke kamar mandi terlebih dahulu.
Baru saja sepersekian detik dia masuk ke toilet, ada orang yang menariknya ke salah satu bilik kamar mandi.
"Lepasin!" teriak Bian saat dia belum tahu siapa yang menariknya.
"Diem!" Waktu mendengar suara itu, Bian spontan terdiam. Dia sangat mengenal suara itu, suara yang selama ini selalu merendahkannya.
"Jangan harap dengan lo nutupin kejahatan kita, kita bisa luluh gitu aja sama lo," ancam pria itu.
Ya, pria yang baru saja menarik Bian itu adalah Rio. Kebetulan sekali Bian datang ke kamar mandi ketika dia ada di sana. Dan dia tak menyiakan kesempatan itu begitu saja.
"Lagi pula gue gak berharap apapun dari kalian dan gue ngelakuin ini murni demi diei gue sendiri," balas Bian.
Perkataan Rio sangat menyinggung perasaannya. Mana mungkin dia mau melindungi orang seperti pria itu.
"Bagus deh kalau lo sadar." Rio menghempaskan kerah baju Bian yang membuat pria itu sedikit terdorong.
Rio keluar dari sana sambil merapikan pakaiannya. Sementara Bian masih di dalam dengan degup jantung yang sangat cepat.
"Astaga! Kenapa semuanya jadi makin parah," ucapnya kesal.
Jujur saja, dia tak ingin menjadi orang yang lemah seperti ini. Dia ingin melawan, tapi dia membawa nama baik Ayah dan Maminya.
"Sabar, Bi. Demi mereka, semua demi mereka. Demi orang-orang yang peduli dan sayang sama lo," lirihnya.
Setelah berusaha menenangkan dirinya, Bian melanjutkan apa yang ingin dia lakukan di sana sebelum kemudian dia pergi ke kelasnya.
****
Kelas sudah usai dan ini giliran Bian melaksanakan janjinya pada kekasihnya, Kiana.
"Emang kamu gak dijemput? Biasanya Ayah kamu jemput tepat waktu," tanya Kiana.
Mereka saat ini sedang berjalan menuju caffe yang ada di seberang sekolah.
"Enggak. Tadi aku udah chat Ayah dan bilang kalau aku pulang telat. Tapi nanti kalau udah, aku telpon Ayah kok."
Bian menjelaskan untuk menenangkan kekhawatiran kekasihnya itu.
Kiana mengangguk, mereka tiba di sana dan seperti dugaan mereka, tempat itu sangat penuh.
Bahkan hampir tak ada ruang untuk mereka duduk.
Dan seperti yang dia duga, Kiana memang tak nyaman. Akhirnya gadis itu mengangguk.
"Yuk duduk di sana." Beruntunglah lantai atas tak begitu ramai.
Mereka memesan makanan dan minuman untuk menemani pembicaraan mereka.
"Jadi, mau mulai dari mana?" tanya Bian.
"Dari awal, aku mau tentang kamu dari awal."
Bian mengangguk, rupanya memang benar semua orang penasaran dengan kehidupannya setelah rumor itu tak terkecuali dengan Kiana.
"Rumor itu benar. Aku mantan penjual koran, mantan gelandangan. Itulah kehidupan asliku. Tapi beberapa waktu ke belakang, ada orang baik yang menawari aku buat jadi anaknya. Dia bilang akan membiayai semua kebutuhanku."
Kiana sedikit berpikir merasa ada yang janggal dengan cerita Bian.
"Terus orang tua kandung kamu?" Bian menggeleng. Itu juga yang ada dalam benaknya selama ini.
"Aku sama sekali gak tau di mana orang tua aku. Bahkan mereka masih hidup atau enggak aku juga gak tau." Bian menjawab apa adanya.
"Maaf," lirih Kiana. Bian menggeleng dengan senyum di wajahnya.
"Lanjut ya. Orang yang mau rawat aku itu ya orang tua aku yang sekarang. Aku punya dua orang saudara dari orang tuaku yang sekarang. Mereka kembar." Bian terkekeh membayangkan bagaimana lucunya Si Kembar.
"Selama ini aku sangat disayangi dan aku baru merasakan hal itu. Sebelumnya semua yang aku rasakan ini hanya sebuah angan-angan. Tapi siapa yang tau sekarang malah jadi kenyataan," jelas Bian.
"Gimana? Udah ilfeel sama aku?" Bian bertanya pada Kiana. Siapa tahu setelah mendengar ceritanya, gadia itu menyesal telah menjadi kekasihnya.
"Enggak aku gak ilfeel sama sekali. Aku justru senang bisa dengar cerita kamu. Dan lagi, gak ada salahnya kan jualan koran. Orang-orang itu aja yang gak bisa hargain hidup."
Kiana malah mengomeli orang-orang yang berkomentar jahat tentang Bian.
Bian yang melihat Kiana kesal justru malah terkekeh. Wajah gadis itu sangat lucu ketika dia kesal.
Bian mengacak rambut Kiana sambil terkekeh.
"Kok malah ketawa sih?!" sentak Kiana yang tak terima dengan sikap Bian.
Bukannya berhenti, Bian malah melanjutkan kegiatannya.
"Lucu aja liat kamu marah." Mendengar hal itu sukses membuat wajah Kiana memerah dan terasa panas.
"Ih kamu!" Gadis itu menghempaskan tangan Bian dari kepalanya dan memalingkan wajahnya agar tak menghadap Bian. Dia terlalu malu untuk menatap pria itu.
"Udah ah, selesai kan ceritanya?" tanya Bian yang diangguki oleh Kiana.
"Kamu gak mau cerita tentang kamu?" tanyanya pada gadis itu.
"Enggak. Nanti aja kalau aku udah siap," jawabnya.
Bian mengangguk mengerti dengan keinginan kekasihnya itu.
"Ya udah, kita pulang?" tanya Bian yang diangguki oleh Kiana.
Bian mengeluarkan ponselnya untuk meminta Ayahnya menjemput.
Tanpa dia tahu jika sebenarnya Vano sedari tadi sudah ada di depan gerbang sekolah Bian.
Seperti yang dia katakan tadi, dia ingin bertanya pada gurunya jika saja ada terjadi sesuatu pada Bian di sekolah.
Bian dan Kiana keluar dari caffe itu menuju ke halte depan sekolah.
"Loh ini kan mobil Ayah?" tanya Bian bingung karena hanya melihat mobilnya saja di sana. Sementara orangnya tak ada.