Complicated Love

Complicated Love
S2 - Sekolah Baru dan Baju Baru



Hari ini di sela kegiatannya, Vano menyempatkan diri untuk mengurus sekolah Bian. Istirahat sekarang dia pergi ke SMA yang cukup terkenal di kota itu.


"Siang Pak," ucap Vano pada seorang pria paruh baya yang mengenakan seragam satpam.


"Siang. Ada yang bisa saya bantu?" Satpam itu bertanya.


"Bisa saya bertemu dengan kepala sekolahnya? Saya mau mendaftarkan anak saya," ucap Vano.


Setelah mendengar Vano akan mendaftarkan anaknya, satpam itu segera membuka gerbang.


"Silahkan Pak. Biar saya antar." Vano mengangguk dan mengekor di belakang satpam itu.


Vano di bawa ke sebuah ruangan dengan tulisan 'Ruang Kepala Sekolah'. "Silahkan masuk, Pak. Beliau ada di dalam." Satpam itu mempersilahkan Vano masuk.


Akhirnya Vano masuk setelah sebelumnya dia mengucapkan terima kasih pada sang satpam.


"Permisi," ucap Vano saat memasuki ruangan tersebut.


Seorang pria yang sedang menunduk fokus pada sebuah dokumen sontak mendongakkan kepalanya saat merasa terpanggil.


"Silahkan masuk." Vano segera masuk setelah dia mendapatkan persetujuan dari orang itu.


"Ada apa? Silahkan duduk." Mereka berdua duduk saling berhadapan. 


"Saya mau mendaftarkan anak saya di sekolah. Umurnya sudah tujuh belas menginjak delapan belas. Tapi saya mau dia sekolah dari kelas satu karena berbagai alasan dan pertimbangan," pinta Vano.


"Silahkan isi formulir ini dan melengkapi persyaratannya." Vano mengambil formulir yang diserahkan oleh kepala sekolah.


Dengan hati-hati Vano mengisi formulir itu. Beruntung dia juga membawa perlengkapan persyaratan sehingga dia bisa menyelesaikan pendaftaran hari itu juga.


"Kapan anak saya bisa sekolah?" Vano kembali bertanya.


"Besok dia sudah bisa datang. Temui saya dulu di sini dan kemudian saya akan mengantarnya ke kelasnya," jelas kepala sekolah.


Vano mengangguk paham. "Baik Pak. Terima kasih atas waktunya. Kalau begitu saya permisi," izin Vano yang kemudian diangguki oleh kepala sekolah.


Vano pergi dari sana. Seketika dia mengingat masa-masa SMA-nya dulu. Masih sama, sekolah ini adalah sekolahnya dulu.


Tak ingin terlalu mengingat masa lalu, Vano segera pergi dari sana. 


Bukan pulang ke rumah, tapi Vano kembali ke kantor karena pekerjaannya belum selesai.


**** 


"Ayo siap-siap," ucap Syasya. Gadis itu saat ini sedang menunggu anak-anaknya berganti pakaian.


"Mami, kita mau ke mana sih?" Arjuna yang merasa tak ikut diskusi akhirnya bertanya.


"Kita jalan-jalan dong sekalian beli baju buat Bang Bian. Kalian mau kan?" tanya Syasya pada si kembar.


Aruna dan Arjuna mengangguk dengan girang. "Mau!! Tapi Abang juga ikut kan?" Arjuna kembali bertanya.


Syasya mengangguk. "Abang ikut kok, kita pergi sama-sama." 


Keduanya bersorak. Untuk pertama kalinya bagi mereka pergi belanja dengan sang Abang.


"Abang Bi, udah selesai siap-siapnya?" Syasya menuju kamar Bian yang berada di sebelah kamar si kembar.


"Sebentar Mi. Lagi pakai jaket," jawab Bian. Pria itu mengenakan pakaian terbaiknya.


Dia tak mau mempermalukan Mami dan Adik-adiknya, jadi dia harus tampil sebaik mungkin.


"Oke, kalian semua Mami tunggu di bawah ya!!" seru Syasya. Dia turun dengan tas selempangnya.


Tak membutuhkan waktu lama, ketiga anaknya itu sudah menghampirinya yanh sedang duduk di sofa.


"Hhmmm tak buruk," ucapnya saat melihat penampilan ketiga anaknya.


"Kita berangkat!!" Mereka menaiki mobil yang tentu saja akan dikendarai oleh Syasya. 


Tujuan mereka saat ini adalah sebuah pusat perbelanjaan karena tujuan mereka memang untuk belanja.


"Kakak mau beli apa?" tanya Syasya pada Aruna yang sedari tadi lebih memilih diam.


Sejauh ini dia memang tak memiliki keperluan yang sangat mendesak.


"Kalau Abang?" Syasya beralih pada Arjuna. "Kayanya Abang mau beli mainan atau mungkin jaket?" Arjuna masih bimbang dengan apa yang akan dia beli.


"Abang mau apa?" Kali ini Syasya bertanya pada Bian.


"Terserah Mami aja." Mungkin karena masih canggung, Bian tak berani mengutarakan apa yang dia inginkan.


Jalanan tak terlalu padah hingga mereka tiba di tempat tujuan dengan cepat.


Mereka masuk ke dalam sana di mana berbagai macam barang ada di sana.


"Kita ke toko baju dulu ya," ucap Syasya. "Mami mau beliin Bang Bian baju seragam buat sekolah," lanjutnya.


Merek beriringan pergi ke toko baju yang dikatakan Syasya.


"Saling pegangan tangan, jangan melamun." Bila tak pernah bosan mengingatkan ini pada anak-anaknya.


Dia tak ingin anak-anaknya kehilangannya atau sebaliknya.


"Mbak, mau seragam sekolah buat SMA ya," ujar Syasya pada pelayannya. 


Sebenarnya Syasya bisa saja memilih sendiri baju seperti apa yang sesuai dengan sekolanya dab urukurannya.


Tapi dia terlalu malas untuk itu ditambah dia juga tak terlalu mengerti dengan seragam sekolah.


"Bagus, yang ini pas sama ukuran badan kamu," ujar Syasya saat dia menemukan baju yang sesuai dengan ukuran badan Bian.


"Baju seragam Abang sama Kakak masih bagus kan?" Syasya bertanya pada kedua anaknya. 


Dia tak ingin kedua anaknya itu iri karena dia membelikan Bian baju tapi mereka tidak.


"Masih bagus kok Mi," jawab Aruna.


"Jadi kalian gak perlu beli baju seragam lagi?" Syasya memastikan yang kemudian dianggukki oleh si kembar.


Lanjut mereka berbelanja ke sana kemari membeli dari mulai baju, celana, sepatu, alat sekolah dan barang-barang lain yang memang mereka perlukan.


"Mi, kita belanja gak kebanyakan?" tanya Bian. Sebenarnya dia agak canggung untuk bertanya seperti itu, tapi dia melihat belanjaannya itu sudah luar biasa banyak.


"Astaga! Kamu benar. Mami gak sadar karena Mami jarang banget belanja." Syasya terkaget-kaget saat melihat jumlah belanjaannya.


"Udah ayo pulang aja," ujar Arjuna. 


Bocah kecil itu juga punya perhitungan. Maminya itu sudah berbelanja terlalu banyak.


Syasya mengangguk, dia bersyukur bisa diberikan anak-anak yang memiliki pemikiran seperti itu.


Akhirnya mereka pulang setelah selesai dengan belanjaan mereka. 


Sesampainya di rumah, mereka menata barang masing-masing. Sementara Bian dan Syasya masih berada di ruang tamu.


"Makasih Mi udah beliin Bian banyak barang. Harusnya kalian gak perlu lakuin sebanyak ini." Bian menyesal karena merasa sudah merepotkan Syasya.


"Gak perlu sungkan. Sekarang Abang udah jadi bagian dari keluarga ini. Mami hargain ucapan terima kasih Abang, tapi tolong, jangan sungkan, oke?" ucap Syasya.


"Maaf Mi. Bian akan berusaha buat gak sungkan. Tapi kayanya Bian perlu waktu," jawabnya.


Syasya mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan Bian.


"Sini, Mami mau peluk." Syasya merentangkan tangannya menunggu Bian berhambur ke dalam pelukannya. 


Bian mendekati Syasya dan akhirnya memeluk Maminya dengan erat. Pelukan yang baru kali ini dia rasakan. Ada ketenangan dan rasa nyaman ketika dia memeluk Syasya.


"Anak Mami baik banget," ucap Syasya sambil mengelus punggung anaknya.


Untuk seorang anak berumur delapan belas tahun, Bian rasanya masih terlalu kekanakan. Mungkin itu semua karena selama ini Bian tak pernah merasakan kasih sayang orang tua.