Complicated Love

Complicated Love
S2 - Bahagia Untuk Sehari



Sebah rumah yang cukup besar tampak di depan Bian. Vano masih memarkirkan mobilnya dan seorang wanita datang dari dalam rumah itu.


Setelah selesai memarkirkan mobil, Vano meminta anak-anaknya keluar begitupun dengan Bian. Syasya yang melihat ada orang baru mengerutkan keningnya bingung.


Namun Vano menghampirinya dan segera menjelaskan apa yang telah terjadi. Syasya tersenyum sebelum kemudian menghampiri anak-anak itu.”


“Ayo masuk,” ucap Syasya. Dia menggandeng tangan Arjuna yang juga menggandeng tangan Aruna. Dan sat lagi tangan Syasya yang bebas dia gunakan untuk menggandeng Bian.


“Kita makan bareng ya,” ucap Syasya. Mereka duduk di kursi makan. Bian sekarang ada di tengah-tengah keluarga bahagia ini.


Ya, akhirnya dia memutuskan untuk ikut setelah Vano mengajukan persetujuan dengannya.


Vano berkata padanya jika dia akan membeli semua koran yang dibawa oleh Bian karena Vano memiliki banyak teman kantor yang setiap saat sangat menantikan berita terkini.


Dengan tawaran itu, Bian akhirnya mau untuk diajak makan di rumah mereka.


“Siapa nama kamu?” tanya Syasya pada Bian. “Nama saya Bian, Tante,” jawab Bian. Syasya mengangguk.


Mereka makan bersama dengan tenang. Hingga mereka selesai dan giliran Syasya bertanya pada kedua anaknya.


“Gimana sekolah kalian?” tanyanya.


“Biasa aja Mi. Tadi guru minta kita buat ngumpulin tugas, abis itu kita ngerjain soal yang ada di buku. Oh iya, bu guru bilang besok kita harus bawa kerajinan tangan ke sekolah,” jelas Arjuna.


Aruna mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Abangnya. Syasya mengangguk. “Oke, nanti malam kita cari bahannya ya.”


“Kamu balik lagi ke kantor?” tanya Syasya pada Vano. “Kayanya iya, soalnya jam dua nanti aku ada meeting sama para pemegang saham,” jelas Vano.


Syasya mengangguk. “Kamu nginep aja di sini ya,” tawar Syasya pada Bian. “Gak usah Tan, makasih. Saya pulang aja.”


Syasya menunduk kecewa namun dia juga tidak bisa memaksa anak itu. “Kalau gitu nanti Om anterin kamu sekalian balik ke kantor.” Bian mengangguk. Dia juga tak bisa menolak karena memang rumahnya cukup jauh dari sana ditambah dia tak tahu jalan pulang.


“Ganti baju dulu yu.” Syasya mengajak kedua anaknya ke kamar untuk mengganti seragam mereka. “Tente tinggal dulu ya,” pamit Syasya pada Bian yang dangguki oleh anak itu.


“Boleh Om ngobrol sebentar?” tanya Vano. “Boleh Om.”


“Bukan Om lancang, tapi kamu tinggal sama siapa di rumah?” tanya Vano. Bian tersenyum simpul. “Saya tinggal sendiri, Om. Sejak kecil saya sudah kehilangan orang tua, jadi waktu itu saya Cuma hidup dari belas kasihan orang lain. Sekarang saya sudah dewasa, jadi saya mencari uang sendiri buat makan.”


Vano terenyuh mendengar hal itu. “Berarti kamu belum pernah sekolah?” Vano kembali bertanya.


“Enggak, Om. Tapi kadang saya suka pergi ke sekolah dan melihat guru mengajar dari luar. Ada beberapa materi yang saya tangkap.”


Salut. Itu yang dapat mendefinisikan pandangan  Vano pada anak ini sekarang.


“Berarti kamu ingin sekolah?” Bian terdiam. Ingin sekali, tentu saja dia ingin sekolah seperti orang lain. Tapi apa daya, dia tak memiliki biaya. Kalaupun hasil kerjanya dia gunakan untuk sekolah, dia tak akan bisa makan setiap hari.


“Kalau Om sekolahin kamu, kamu keberatan?” Bian mendongakan kepalanya untuk melihat Vano. Apa Vano benar-benar atau hanya bercanda.


“Ini bukan kasihan, tapi saya bangga sama kamu. Di saat orang-orang yang berkecukupan selalu bolos sekolah karena mau bermain, tapi kamu malah pergi ke sekolah dan mendengarkan guru walaupun dari luar kelas,” jelas Vano. Dia tak mau Bian berpandangan jika dia mengasihani anak itu.


Vano menggelengkan kepalanya. “Gak ada kata terlambat buat mencari ilmu. Kamu juga setidaknya sudah bisa beberapa materi kan? Kalau kamu mau, saya akan mengurus semuanya. Saya juga akan menanggung semua biayanya.”


Tak lama setelah itu Syasya datang. Dia mendengar apa yang dikatakan suaminya. Bian semakin tak bisa menjawab karena Syasya ad di sana. Dia takut wanita itu tak menyetujuinya.


“Tante setuju. Kalau kamu mau, kamu juga bisa tinggal di sini.”


“Dengan kata lain kita adopsi kamu.” Perkataan yang membuat Bian tercengang. “Ini berlebihan Om. Om cuma gak sengaja tabrak saya. Gak perlu seperti ini hanya untuk bertanggung jawab,” ucap Bian.


Vano menggeleng. “Ini bukan bentuk tanggung jawab. Tapi sudah saya katakan tadi, saya kagum sama kamu. Kayanya anak-anak juga bakal senang kalau kamu mau kita adopsi.”


Vano mengalihkan pandangannya pada Aruna dan Arjuna yang sedang memperhatikan mereka di anak tangga terbawah. Mata mereka berbinar seolah memohon pada Bian untuk menerima tawaran Ayahnya.


“Bisakah Om berikan saya waktu. Saya butuh waktu untuk mencerna semua ini,” ucap Bian.


Vano menghela nafasnya. Dia juga tak bisa memaksakan kehendaknya. Dia akan memberikan Bian waktu untuk berfikir.


“Baiklah. Tiga hari apa cukup?” tanya Vano yang kemudian diangguki oleh Bian.


“Oke tiga hari dari sekarang.”


****


Setelah persetujuan itu, Vano mengantarkan Bian pulang sebelum dia berangkat ke kantor. Terkejut? Tentu, Vano sangat terkejut melihat keadaan rumah Bian.


Rumah kecil yang terlihat sangat kumuh. “Saya pergi dulu. Tiga hari lagi saya akan datang ke sini,” ucap Vano.


“Iya Om. Makasih, hati-hati di jalan.” Setelah mengatakan hal itu, Vano segera pergi dari sana.


“Ah bahkan rumahnya saja sangat jauh berbeda dengan punyaku. Mungkin rumah ini cuma kamar mandi buat mereka,” kekehnya.


Sepanjang hari dia memikirkan penawaran Vano dan Syasya. “Kalau aku gak setuju, aku bakal hidup kaya gini selamanya,” lirihnya.


“Apa gak keterlaluan kalau aku menyetujui tawaran mereka?” tanyanya. Dia masih merasa tak enak hati.


Entahlah, dia hanya ingin terlelap untuk saat ini. Tak ingin bingung memikirkan hal itu, akhirnya Bian memilih tidur untuk saat ini.


Memang di sini tak hanya dia yang hidup dalam gubuk sempit yang kumuh itu. Ada beberapa yang lainnya, tapi mereka memiliki orang tua. Sementara Bian hanya sebatangkara yang mencari makan sendiri.


Jika ini adalah anugerah dari tuhan untuk mengubah kehidupan Bian, Bian akan sangat bersyukur dan mungkin dia akan sangat berterima kasih pada Vano dan Syasya.


Tapi saat ini anak it masih bingung apakah harus menerima tawaran orang baik itu atau tidak.


Bahkan Bian tak pernah sekalipun bermimpi untuk diadopsi oleh orang kaya. Sejak dulu dia hanya selalu pasrah dengan keadaan karena dia yakin tak ada orang yang mau membantu orang miskin sepertinya.


Tapi tuhan berkata lain, ada orang baik yang justru menawarkan kebahagiaan padanya. Bian berjanji akan membalas budi jika dia berhasil menjadi orang sukses suatu saat nanti.