Complicated Love

Complicated Love
Chapter 42



Arjuna dan Aruna. Ya, mereka adalah buah hati Vano dan Syasya. Tak terasa kini mereka telah menjadi orang tua. Syasya belum bangun dari tidurnya setelah melahirkan beberapa jam lalu.


Entahlah mungkin dia lelah.


"sayang, kamu gak mau bangun? Juna sama Runa, kamu gak mau lihat mereka?" ucap Vano dramatis. Dia tak menghiraukan keberadaan orang tua Syasya dan juga orang tuanya, Oh dan jangan lupakan sahabat Vano dan Syasya yang juga masih setia berada di sana.


"drama banget lo!" kesal Rian. Sudah dari tadi dia menyaksikan drama Vano itu.


Vano melirik Rian dan mendelik kesal ke arahnya. Namun kemudian raut wajahnya kembali lesu setelah ia melirik istrinya.


Yang lain hanya tertawa melihat tingkah Vano.


Seorang Vano yang begitu dingin ternyata bisa bersikap seperti sekarang, sungguh pemandangan yang luar biasa.


Syasya mulai mengerjapkan matanya pertanda kesadarannya sudah kembali, dia mencoba menyesuaikan cahaya yang ada di ruangan itu setelah kemudian dia melihat Vano sebagai pemandangan pertamanya.


" kamu sadar?" Syasya mengangguk menjawab pertanyaan Vano walaupun kini pikirannya belum sepenuhnya sadar namun dia mencoba menjawab pertanyaan Vano.


" anak kita baik-baik aja kan?" kalimat pertama kali yang diucapkan oleh Syasya. Bagaimanapun sekarang dia adalah seorang ibu pasti yang menjadi kekhawatiran utamanya adalah seorang anak.


" mereka baik-baik aja. Seperti yang sudah kita sepakati anak kita bernama Arjuna dan Aruna mereka kembar"


“ Di mana mereka?" Syasya mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok yang dia cari namun nihil, mereka tak ada di sana.


Belum juga Vano menjawab pertanyaan Syasya, dua orang suster masuk ke ruangan itu dengan menggendong buah hati Syasya dan Vano.


Senyuman Syasya mengembang begitu saja. Tak hanya Syasya dan Vano yang tersenyum, teman-teman Syasya dan Vano juga terlihat bahagia dengan kehadiran anggota baru yang pastinya akan sangat mereka sayangi.


Mami Syasya mengambil alih kedua bayi tersebut dan tentu saja mereka meletakkan Arjuna dan Aruna disamping Syasya.


***


Vano sangat bersyukur memiliki keluarga yang bahagia, walaupun banyak sekali lika-liku kehidupan yang dilalui sebelum mendapatkan Syasya, namun pria itu selalu bersyukur karena Syasya bisa menjadi miliknya seutuhnya.


" yuhu Syasya gue datang" dengan riang Lita memasuki rumah Syasya dan Vano. Rumah ini diberikan oleh kedua orang tua Syasya dan Vano sebagai hadiah pernikahan mereka dulu.


" berisik gila anak gue lagi tidur" saat hendak menghampiri Lita di ambang pintu, Tristan masuk begitu saja ke rumahnya.


" main nyelonong aja lu" Syasya menghentikan langkah Tristan.


"tunggu dulu kalian datang bareng?" Lita dan Tristan saling berpandangan sebelum kemudian tawa canggung mereka menggema di ruangan itu.


" jangan bilang kalian...?" ucapan Syasya menggantung bermaksud untuk meminta kepastian pada Abang dan sahabatnya itu. Sedetik kemudian Lita menggandeng tangan Tristan lalu tersenyum simpul.


"wahh tahu gitu, kenapa gak kalian dulu yang nikah?" Syasya memegang pelipisnya tak habis pikir.


" gue sih maunya gitu cuma sahabat nih yang belum mau dihalalin" mata Tristan melirik ke arah Lita. Sementara Lita, gadis itu hanya mengerucutkan bibirnya pertanda dia merajuk.


" Ya udahlah ya Ayo masuk aja yang lain udah pada nungguin di belakang" Syasya mengalihkan pembicaraan untuk menghindari kemarahan Lita. Mereka bertiga pergi ke halaman belakang rumah Syasya, tampaklah di sana Dina, Hans, Rian dan Vano.


"otak lo, lo taro di mana? Bukannya tadi gue udah bilang kalau mereka lagi tidur" kesal Syasya.


Lita menyengir tanpa rasa bersalah. Kemudian mendudukan bokongnya di samping Dina.


Lain halnya dengan para gadis, Vano dan sahabatnya tengah sibuk memanggang berbagai makanan untuk perayaan ini.


Ya, Vano mengadakan sebuah pesta kecil-kecilan untuk merayakan lahirnya si kembar.


"ini pesta buat bayi kembar, kenapa yang ada di sini tua semua sih?" ucap Tristan. Mulutnya sibuk mengunyah sosis yang baru selesai di panggang.


"heh, enak banget lo makan. Lagian gue gak bakal bawa bayi gue ke sini sekarang. Nanti mereka bau apek kaya lo!" sindir Syasya. Walaupun Syasya sudah menikah, namun tetap saja dia akan selalu menjadi adik kecil abangnya.


"ya udah Van cepat panggangnya. Biar kita bisa makan di dalam sama si kembar"


"ya kali gue kasih anak gue sosis" desis Vano. Namun naas perkataannya itu terdengar oleh Tristan.


"enggak bang, gue cuma lagi ngomong sendiri kok" Vano merapatkan kedua tangannya di depan dada. Dia memohon maaf pada abangnya karena telah berbicara yang tidak-tidak.


Sementara Tristan masih anteng dengan makanan yang ada di hadapannya.


***


Suara bayi terdengar begitu nyaring di tengah kebisingan yang teman-teman Syasya lakukan. Mereka tengah bergurau setelah menyelesaikan acara makan mereka.


"lo sih berisik! bangun kan bayi gue" ucap Syasya pada Hans. Syasya melangkahkan kakinya menuju kamar Arjuna dan Aruna diikuti oleh Vano.


"ssttt sayang, kaget ya sayangnya mami" Syasya menggendong Aruna yang menangis kencang, sementara Arjuna ditenangkan oleh Vano. Beginilah bayi kembar. Mereka seperti memiliki perasaan yang sama, di saat yang satu menangis, maka yang lainnya juga akan menangis.


Syasya memberikan asi pada Aruna terlebih dahulu karena dilihatnya Arjuna sudah semakin tenang. Senyaman itukah gendongan Vano? Iya sih, Syasya juga sangat nyaman jika berada di pelukan Vano, apalagi anaknya.


Aruna dan Arjuna tak lagi tidur. Akhirnya Vano membawa kedua anaknya ke ruangan tengah di mana teman-temannya berkumpul.


"heyy ponakan aunty!" Lita dengan heboh menghampiri si kembar. Beda halnya dengan Dina, gadis itu tak bereaksi. Hanya ada senyuman kecil di bibirnya. Syasya bisa mengerti karena Dina memang kurang menyukai anak kecil. Bukan karena benci, namun dia akan bingung jika dihadapkan dengan anak kecil, apalagi bayi.


"ihhh Lita jangan cubitin pipi anak gue mulu. Kasian sakit dianya" Syasya menyingkirkan tangan Lita dari wajah Aruna.


"ya maap, abisnya gemes banget. Boleh gendong gak?"tanya Lita.


Syasya mengangguk menyetujui keinginan sahabatnya itu.


"hati-hati" bisik Syasya. Walaupun dia agak khawatir, namun dia mencoba meyakinkan hatinya bahwa tak akan ada yang terjadi.


Sementara Arjuna yang ada di gendongan Vano kini tengah bermain dengan Hans dan Rian yang terus mengeluarkan wajah lucunya berusaha membuat bayi itu tersenyum.


Kedua bayi itu sama-sama mengeluarkan senyum tipisnya karena candaan teman-teman Syasya dan Vano. Sementara suara tawa didominasi oleh suara orang-orang dewasa yang berusaha membuat kedua bayi itu tersenyum. Syasya tersenyum simpul melihat semua orang yang dia sayang tertawa bahagia.


Sesimple itulah sebuah kebahagian. Hanya saja kita yang memperumit jalan menuju kebahagiaan tersebut.