
Bian telah selesai melakukan serangkaian pemeriksaan oleh dokter. Benar saja, Bian memiliki alergi pada kacang.
"Jika setelah tiga hari masih belum ada kemajuan, bica cek ke sini lagi ya," ucap dokternya.
Vano mengangguk. "Ini resep, untuk menebus obatnya bisa dilakukan di apotek depan."
Setelah itu mereka pergi dari sana dan menebus obatnya.
"Maaf ya Yah. Gara-gara Bian, acaranya jadi kacau," ujar Bian.
"Ngomong apa kamu ini. Gak ada gara-gara kamu." Vano memberikan pengertian.
"Tapi kalau Bian gak alergi, pasti semuanya lancar-lancar saja sampai sekarang."
Vano memejamka matanya dengan erat. Dia juga menghela nafasnya dalam.
"Bukan salah kamu. Kamu kan gak mau sakit. Kalau bisa milih kamu juga akan pilih alergi kan?" Vano bertanya secara rasional.
Bian menggeleng. Apa yang dikatakan ayahnya benar. Jika bisa memilih dia tak ingin alergi.
"Ya udah sekarang beres. Ini bukan salah kamu. Sekarang kita balik ke sana," ucap Vano yang kemudian mendapatkan anggukkan dari Bian.
"Nanti makan lagi di rumah. Abis itu minum obatnya!" perintah Vano.
"Iya Yah."
Dalam perjalanan mereka tak begitu banyak berbicara. Hanya menikmati perjalanan mereka yang bisa dikatakan sangat lancar.
Mereka tiba di rumahnya. Semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga menantikan kedatangan mereka berdua.
"Gimana kata dokter?" Orang pertama yang bertanya adalah Syasya.
"Alergi kacang. Tapi gak apa-apa. Kata dokter kalau masih belum mendingan nanti harus cek lagi ke sana." Vano menjelaskan semua yang dikatakan dokter padanya.
"Syukurlah kalau nggak apa-apa. Aku sangat khawatir."
"Astaga maafkan Oma, Oma nggak tahu kalau kamu alergi kacang. Kalau tahu Oma nggak akan masak makanan yang banyak kacangnya."
Bian menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa Oma. Bian minta maaf juga karena nggak bilang kalau Bian alergi kacang."
"Kayaknya kalian sangat bertentangan ya, Vano sangat maniak sama kacang dan Bian adalah kebalikannya."
Kali ini yang berbicara adalah Papinya Syasya. Mereka semua terkekeh. "Ya sudah, Bian makan dulu ya nanti minum obatnya." Vano mengingatkan putranya untuk segera meminum obat.
Bian mengangguk. "Iya Yah."
"Biar Mami temenin takutnya kamu makan yang ada kacangnya lagi." Setelah berkata begitu Syasya menggandeng tangan Bian menuju ke dapur di mana makanan masih berada di sana.
"Masih gatal?" tanya Syasya pada putranya. Bian menganggukan kepalanya pertanda rasa gatal di kulitnya memang masih ada namun tidak separah tadi.
"Jangan digaruk!" perintah Syasya saat melihat Bian akan menggaruk tangannya. Bian yang mendengar hal itu sontak membatalkan niatnya.
Bila kembali fokus pada makanan yang ada di depannya dan mengambilkan makan untuk Bian.
Dia memilah makanan-makanan mana saja yang bisa Bian makan.
"Kamu bisa makan sendiri kan atau perlu Mami suapin?" tanya Syasya.
Kemudian dia duduk di samping Bian. "Biar Mami temenin." Bian mengangguk dan mengambil alih makanan itu.
Sementara Bian makan dengan lahap Syasya memperhatikan putranya itu dengan lekat. "Lain kali kalau ada apa-apa langsung ngomong Bang. Kita kan udah bukan orang lain lagi. Abang anak Mami, Mami juga Maminya kamu jadi kalau kamu ada sakit atau keluhan apapun tinggal ngomong aja nggak usah sungkan. Mami khawatir banget loh tadi pas kamu alergi," ucap Syasya.
"Iya Mi maaf, awalnya Bian juga nggak tahu bakal separah ini. Bian kira semakin besar Bian, penyakitnya akan semakin sembuh tapi ternyata enggak."
Syasya masih memandang lekat Bian. "Bang kamu itu ganteng loh." Entah pikiran dari mana tiba-tiba saja Syasya mengatakan hal itu.
Bian yang heran langsung memandang maminya dengan aneh. "Mami kenapa sih? Kenapa tiba-tiba?" tanya Bian.
Syasya menggelengkan kepalanya dan mengalihkan perhatiannya pada objek lain. Dia terkekeh setelahnya.
"Mami kamu itu pecinta Korea dulunya. Jadi kalau lihat yang bening dikit pasti gatal banget pengen muji." Suara bariton tiba-tiba terdengar dari arah belakang mereka yaitu adalah suara Vano.
"Dih dari mana kamu tahu kalau aku suka Korea?" Syasya tak terima ketika Vano mengatakan hal itu.
Walaupun pada faktanya dia memang sangat menyukai artis-artis Korea dan itu bukan hanya dulu tapi sampai saat ini.
"Jangan bohong kamu, aku kenal kamu udah lama dan aku tahu apa yang kamu suka dan kamu nggak suka."
Bukannya menemani Bian makan, mereka berdua malah berdebat. Bian yang saat ini sudah selesai dengan makanannya berakhir memperhatikan perdebatan kedua orang tuanya.
Tak lama tawa Bian menggelegar di seluruh penjuru ruangan. Syasya dan Vano memandang putranya dengan aneh.
"Bang kamu kenapa lagi? Nggak sakit lagi kan?" tanya Syasya heran. Bian memegangi perutnya yang terasa pegal karena tertawa.
"Nggak nggak. Abang nggak apa-apa."
"Lah terus kenapa kamu ketawa, ada yang lucu?" Vano memperhatikan dirinya dari atas kepala hingga ujung kaki takutnya ada yang aneh dari penampilannya hingga membuat putranya itu menertawakannya.
"Nggak ada Yah, nggak ada yang aneh. Ayah masih ganteng kok, Mami juga cantik banget. Abang ketawa gara-gara lucu aja lihat kalian berdebat. Ayah sama mami tahu kan selama ini Abang nggak punya keluarga. Jadi pas lihat kalian itu rasanya hangat banget."
Syasya dan Vano tersenyum hangat, mereka berdua saling berpandangan sebelum akhirnya mendekati Bian dan memeluk putranya itu dengan erat.
Setelah beberapa saat, barulah mereka melepaskan pelukannya itu.
"Udah makan obatnya?" Vano kembali mengingatkan Bian.
"Oh iya Abang kan ke sini mau minum obat ya. lupa.'" Setelah mengatakan hal itu Bian segera mengambil air mineral dan menekuk obat yang ada diberikan oleh dokter.
"Kalau kamu ngantuk istirahat aja di atas nggak ada acara lagi kok setelah ini. Paling kita cuma kumpul-kumpul aja," ucap Vano.
"Nggak apa-apa Yah. Abang juga pengen kumpul sama yang lain. Kayaknya godain si kembar bakal seru," ucapnya.
Semakin lama mereka tinggal bersama rupanya sikap jahil Bian sudah mulai muncul. Seringkali dia menjahili Si kembar sampai salah satu atau mereka berdua menangis bersama dan setelahnya Bian juga yang akan memeluk dan membuat mereka berhenti menangis.
Tapi menurut Syasya itu adalah pemandangan yang indah. Entah mengapa godaan yang dilakukan Bian terpancar sesuatu seperti rasa sayang di matanya.
"Abang jangan goda mereka terus, nanti kalau mereka benar-benar marah sama kamu gimana?" Syasya memperingatkan putranya.
"Iya Mi. Enggak kok lagian cuma bercanda doang." Syasya mengangguk.
"Ya udah yuk balik ke sana. Mereka kayaknya udah nunggu kita."
Vano mengajak Syasya dan putranya untuk kembali bergabung bersama keluarga besar mereka di sana. Keluarga besarnya sedang menonton televisi ada juga sebagian yang tidur seperti Tristan dan Jo.