
Setelah melemparkan sebuah protes pada Ayahnya, akhirnya Arjuna dan Aruna juga mendapat kecupan dari Ayahnya.
Keduanya sangat berseri ketika mendapatkannya. "Mau jalan-jalan kemana, Yah?" tanya Aruna kecil.
Setelah mendapatkan ceramah dari Maminya, akhirnya dia kembali ceria.
"Kita makan dulu ya. Abis makan baru jalan-jalan," jawab Vano.
Kedua anaknya duduk di belakang karena bagian depan tentu saja diisi oleh Syasya.
Mereka mengangguk secara bersamaan. Keduanya sibuk bernyanyi sepanjang perjalanan yang membuat Vano dan Syasya terkekeh geli.
"Udah sampai!" seru Vano setelah memarkirkan mobilnya.
"Yeeaayyy!!!!" Setelah Syasya turun lebih dulu, gadis itu membukakan pintu untuk kedua anaknya.
"Hati-hati," ucap Syasya.
Mereka mengunjungi salah satu restoran yang terbilang populer di kalangan remaja. Vano mendatangi tempat ini karena dia rindu masa remajanya.
Bel berdenting begitu mereka membuka pintu restoran. Ada banyak sekali anak muda di sana.
"Kita salah tempat gak sih?" tanya Syasya sedikit tak enak karena tak ada yang membawa anak ke sana.
"Enggak, ini udah paling bener kok. Ayo duduk." Berbeda dengan Syasya, Vano sama sekali tak mempedulikan pandangan orang-orang terhadapnya. Dia hanya akan menikmati setiap momen bersama dengan keluarganya.
"Kalian mau apa?" tanya Vano pada kedua buah hatinya.
"Mau es krim," jawab Aruna. Memang pada dasarnya gadis itu pecinta manis, jadi tak aneh jika Aruna langsung meminta es krim.
"Kamu boleh makan es krim, tapi makan nasi dulu ya. Ayah gak mau kamu sakit," jawab Vano.
Aruna sedikit mengerucutkan bibirnya, namun dia juga mengangguk. Bagaimanapun dia tak mungkin makan es krim tanpa makan makanan berat terlebih dulu.
Akhirnya Vano memesan ayam bakar lengkap dengan nasi untuk mereka berempat.
Mereka makan dengan tenang hingga makanan yang ada di hadapan mereka mulai habis.
"Ahh kenyang banget," ucap Arjuna sambil mengelus perutnya yang terlihat buncit.
Sementara itu mereka bertiga yang melihatnya hanya terkekeh geli melihat tingkah Arjuna.
"Es krimnya jadi?" Vano bertanya takut Aruna membatalkan keinginannya karena sudah kenyang.
"Jadi dong." Aruna berseru dengan girang. Dia memang sangat kenyang saat ini.
"Emang gak kenyang?" Syasya bertanya karena dia yakin putrinya itu sebenarnya sudah kenyang.
"Kenyang sih, Mi. Tapi tenang aja, perut bagian kanan Runa masih kosong kok. Masih muat." Syasya terkekeh mendengar penuturan putrinya.
"Bisa aja kamu. Kamu mau?" Syasya bertanya pada Arjuna yang dijawab dengan gelengan dari anak itu.
Akhirnya Syasya kembali memesan es krim yang ada di sana. Sebenarnya mereka bisa saja membeli es krim di luar, hanya saja terlalu malas karena nanti mereka hanya akan fokus pada acara jalan-jalan mereka saja.
Tak lama, es krim Aruna datang. Memang terlihat sangat menggiurkan. Tapi Syasya tak mau karena perutnya sudah penuh.
"Kalau kekenyangan gak usah dipaksain ya." Syasya mengelus surai aruna.
Aruna mengangguk sebelum kemudian memakan es krimnya. Matanya berbinar saat satu suap es krim masuk ke mulutnya.
"Enak," ucapnya. Vano terkekeh melihat putrinya. Tak terasa dia sudah memiliki dua anak. Padahal rasanya baru kemarin dia mengenal Syasya.
****
Acara jalan-jalan mereka dilanjut setelah mereka makan siang. Tak ada tujuan yang tepat, mereka hanya berkeliling menggunakan mobil hingga hari mulai sore.
"Mi, sore-sore gini enak kali ya liat matahari tenggelam di pantai," celetuk Aruna yang membuat Syasya mengalihkan pandangannya pada gadis itu.
"Gimana? Mau?" Syasya meminta pendapat dari suaminya.
memerlukan waktu cukup lama hingga mereka bisa sampai di pantai kurang lebih tiga puluh menit. Hal itu membuat Aruna dan Arjuna tertidur di jok belakang.
"Kayaknya mereka kelelahan," ucap Syasya yang melihat kedua putranya tertidur.
Vano terkekeh dan menggelengkan kepalanya. "Mending bangunin mereka. Sebentar lagi kita sampai," ucap Vano.
"Sayang, bangun yuk. Katanya kalian mau lihat matahari tenggelam." Syasya menggoyangkan tubub kedua anaknya.
Arjuna dan Aruna menggeliat saat dirasa ada yang mengganggu tidurnya.
"Eengghh," lenguhnya. Syasya yang menyaksikan itu terkekeh ringan.
"Udah sampai, Mi?" tanya Arjuna sambil mengucek matanya.
"Bentar lagi kita sampai. Jangan dikucek matanya. Nanti iritasi." Syasay berusaha menjauhkan tangan anaknya itu dari matanya.
Akhirnya kedua bangun sepenuhnya walaupun masih terlihat jelas jika mereka masih sangat mengantuk.
Tak lama, pantai sudah terlihat jelas di indera penglihatan mereka. "Waahh pantai, lihat itu!!" seru Aruna.
Mereka memang jarang main ke tempat seperti ini. Itu sebabnya anak-anak mereka terlihat sangat antusias.
Vano memarkirkan mobilnya sebelum kemudian mereka turun. Suasana pantai cukup ramai dengan para wisatawan mancanegara.
"Van, beli baju dulu buat mereka gak sih? Kasian, masa mereka pakai seragam sih," saran Syasya.
Vano yang setuju dengan hal yang dikatakan Syasya akhirnya mengangguk. Mereka mampir ke penjual baju pantai yang ada di sana dan membelikan kedua anaknya baju dengan motif yang sama.
"Wihh baju baru!" seru Arjuna saat mereka sudah mengganti bajunya.
"Suka?" tanya Vano.
"Suka banget. Makasih Yah, Mi." Keduanya berterima kasih pada kedua orang tua mereka.
Itulah yang selalu diajarkan Syasya pada mereka. Mengucapkan terima kasih dan maaf.
"Ayo kita ke pantai!!" seru Vano. Pria itu menggandeng tangan Aruna, sementara Arjuna ada di tangan Syasya.
"Mami kedinginan?" tanya Arjuna sambil memandang Maminya lekat. Dia tahu karena tangan Maminya sangat dingin.
"Lumayan," kekeh Syasya. Tapi rasa dingin itu tak terlalu fatal baginya.
Lain halnya dengan Vano. Pria itu mendengar dengan jelas apa yang dikatakan putranya segera membuka jaket yang dikenakannya.
"Udah aku bilang, kalau mau pergi itu bawa jaket," ucap Vano sambil memakaikan jaketnya pada Syasya.
"Iya maaf, tadi lupa," jawabnya berusaha lebih mengeratkan jaketnya itu sebelum kemudian dia kembali menggandeng tangan Arjuna.
"Kalian dingin gak?" Vano mengalihkan pandangannya pada Arjuna dan Aruna.
Keduanya dengan kompak mengangguk. "Kita boleh berenang, Yah?" tanya Arjuna pada Vano.
"Lain kali ya. Sekarang kan udah sore, takutnya kalian nanti kedinginan. Lain kali kita pergi ke sini siang, biar kalian bisa berenang." Sangat jelas.
Memang harus seperti itu jika memberikan jawaban pada kedua anak mereka. Harus jelas alasan dan solusinya. Jika tidak, maka mereka akan bertanya lagi.
"Oke siap, Bos." Arjuna menghormat pada Ayahnya yang membuat Vano menggelengkan kepalanya.
Mereka berjalan ke tepi pantai untuk menyaksikan matahari tenggelam. Kebetulan sekali di sana ada gazebo yang kosong.
Mereka duduk di sana memandang pemandangan yang indah di hadapan mereka.
"Juna suka banget jalan-jalan kaya gini." Pria kecil itu menarik nafas dalam berusaha menghirup udara segar khas pantai di sore hari ini.
"Lain kali mau ke sini lagi."