Complicated Love

Complicated Love
S2 - Piknik



Setelah sukses membuat Tristan kesal, Vano pergi untuk mandi sementara Syasya menghampiri Lita dan anak-anaknya di bawah.


"Hai," sapa Syasya saat dia beda di anak tangga terakhir. Dilihatnya kedua anaknya sedang asik bermain dengan Jo, sementara Lita hanya mengawasi mereka.


Lita menoleh pada Syasya. "Sombong amat lu gak main ke rumah gue," ucap Lita.


"Kita sibuk. Kemarin aja kita abis jalan-jalan dari pantai," goda Syasya. Dia tahu Lita tak pernah bermain seperti itu karena memang Abangnya adalah tipe orang yang malas bepergian.


Lihat saja sekarang, pria itu masih betah rebahan si sofa dengan ponsel miring di tangannya. Apa lagi yang sedang dia mainkan jika bukan game?


Ya, Syasya sangat tahu. Hari libur Abangnya pasti dia habiskan dengan bermain game online.


"Iya deh yang doyan banget jalan," kesal Lita. "Tuh Yang, jalan-jalan kenapa sih?! Syasya juga jalan-jalan, masa kita kalah!!" sentak Lita yang membuat Tristan terlonjak.


"Ah kaget aku. Iya nanti jalan-jalan." Itu adalah bualan keseribu kali yang dikatakan Tristan karena setelah itu dia pasti akan melupakannya begitu saja.


Tak lama, Vano datang dengan rambut setengah basah. Baju rumahan yang dia kenakan terlihat sangat cocok pada pria tampan itu.


"Usap iler lu tuh," goda Tristan pada Syasya yang memang terus memperhatikan suaminya tanpa berkedip.


"Kurang ajar!" desis Syasya sebelum kemudian dia beranjak.


"Gue mandi dulu ya." Syasya berpamitan yang kemudian diiringi anggukan Lita.


"Game mulu bang. Tuh istri lo dianggurin gitu aja?" Kali ini Vano yang giliran menggoda abang iparnya itu.


"Nunggu gue direbut orang lain kali." Bukannya Tristan yang menjawab, tapi Lita yang terlanjur gemas.


Akhirnya Tristan menyimpan ponselnya dan fokus pada orang-orang yang ada di depannya.


"Kalian mau ngomong apa? Kalau mau ngomong, sekarang. Mumpung gue gak lagi main game," ucapnya.


"Piknik yu!" ajak Lita yang membuat Tristan tersedak ludahnya sendiri. "Kok tiba-tiba piknik sih?" tanya Tristan pada istrinya.


"Mumpung kamu gak lagi main game, mumpung Syasya sama Vano juga lagi ada di rumah," jawab gadis itu.


Tristan tak bisa lagi menjawab. Dia menghela nafasnya berat. Menurutnya pergi piknik hanya akan membuang waktunya.


"Ayo!!" paksa Lita berusaha membuat suaminya berkata 'Ayo'.


Akhirnya Tristan mengalah, dia mengangguk lesu. Ya, hari ini agenda mereka adalah piknik keluarga.


Syasya turun setelah selesai mandi. "Ganti baju kamu, Yang." Ucapan Vano membuat Syasya terhenti di tengah tangga.


"Loh kenapa? Ini ketutup kok," protes Syasya. "Iya aku tau itu ketutup. Tapi hari ini kita mau piknik, jadi ganti baju kamu." Syasya akhirnya mengerti setelah Vano menjelaskannya.


"Emangnya piknik ke mana?" tanya Syasya berbalik setelah dia sadar dia tak tahu kemana dia akan pergi.


"Ganti dulu aja kenapa sih? Ribet amat lo." Bukan Vano yang menjawab melainkan Tristan.


Akan ditendang dari rumah jika Vano berbicara seperti itu pada istrinya.


"Kita mau ke mana, Yah?" Arjuna bertanya setelah dia mendengar beberapa percakapan antara Ayahnya dan Omnya.


"Kita mau piknik. Abang suka main keluar kan?" tanya Vano yang dijawab dengan anggukan oleh Arjuna.


Aruna yang mendengar hal itu kembali menghela nafas. Lagi-lagi dia yang harus mengalah dan mengerti dengan keputusan keluarganya.


Kalian tahu sendiri kan jika Aruna tak suka berada di keramaian. Dia lebih suka diam di rumah yang sepi.


Akhirnya Arjuna dan Aruna pergi ke kamar mereka untuk mengganti baju begitupun dengan Vano. Sebenarnya pria itu hanya tinggal mengambil jaketnya saja.


Selesai dengan persiapan mereka, mereka akhirnya berangkat satu mobil menggunakan mobil Vano.


"Mampir super market dulu. Mau beli camilan," ucap Syasya.


Piknik memang identik dengan berbagai macam camilan, itulah kenapa mereka harus membeli banyak makanan di sini.


Hanya Syasya, Lita dengan Jo di gendongannya yang masuk ke super market. Sementara yang lainnya menunggu di dalam mobil.


"Beli ini gak sih?" Syasya menunjuk kue yang terlihat sangat lezat.


"Beli aja kalau lo mau. Suami lo kerja kan juga buat lo," kekeh Lita.


"Jadi selama ini lo porotin Abang gue?" tanya Syasya penasaran.


Lita terkekeh sebelum kemudian mengangguk. "Emang itu kan gunanya suami? Kalau gue bisa cari duit sendiri, gak usah lah gue nikah," ujarnya.


Mereka kembali belanja setelah selesai dengan percakapan random mereka. Bukan main memang jika seorang wanita sudah belanja.


Hal yang tak ada di list sejak awalpun juga mereka beli. Satu troli penuh dengan makanan dan mereka membawa tiga kantong plastik besar belanjaan mereka.


"Astaga! Mereka abis belanja atau abis ngerampok super market ini?!" kaget Tristan setelah melihat banyaknya belanjaan itu.


Vano hanya menggelengkan kepala. Dia tak peduli seberapa banyak belanjaan istrinya karena memang itu yang dia inginkan.


Selama ini Syasya selalu sangat irit dengan uang, padahal Vano berkata puluhan kali, "Beli apapun yang kamu mau."


Tapi Syasya selalu menjawab, "Jangan boros."


Akhirnya kini Vano bisa bernafas dengan lega. Sepertinya Syasya benar-benar membeli apa yang dia inginkan.


"Kalian belanja atau ngerampok sih?" tanya Tristan saat mereka sudah masuk mobil. Belanjaan mereka simpan di belakang.


"Kita kan juga banyak, makanannya juga harus banyak dong." Lita berusaha membela diri.


Tristan menghela nafas sebelum kemudian dia kembali melajukan mobilnya. Tujuan mereka saat ini adalah danau.


Entah apa namanya, namun tempat wisata dengan pemandangan danau dan rumput hijau di bagian pinggiran danau itu.


Sampai. Tempat ini sepertinya memang di desain untuk piknik. Banyak sekali wisatawan yang datang ke sini hanya sekedar untuk bersantai.


"Wahh indah banget." Arjuna berteriak dan berlarian ke sana kemari. Beda halnya dengan Aruna yang hanya diam mengikuti kedua orang tuanya kemanapun.


Tristan dan Vano menggelar tikar yang mereka bawa kemudian menata makanan yang tadi mereka beli. Banyak sekali hingga tikar itu penuh dengan makanan.


"Nah liat kan? Siapa yang bakal abisin ini semua?" tanya Tristan. Lita tersenyum kering. Tidak disangka jika makanan yang mereka beli memang benar-benar sebanyak itu.


"Ya udah sih Bang. Kan bisa dibawa pulang, gak harus habis semua." Syasya mencari pembelaan.


"Loh Kak, kok kamu gak main sama Abang kamu?" Syasya bertanya pada Aruna saat sadar gadis itu selalu berada di sampingnya.


"Ah Mami lupa lagi? Aruna kan gak terlalu suka tempat ramai." Aruna tersenyum miris.


Hanya kesukaan Abangnya yang selalu diingat oleh Maminya.