Complicated Love

Complicated Love
S2 - Pertemuan Vano dan Hans



"Enak aja lo ngatain gue gak pernah kerja," protes Tristan tak terima ketika Syasya mengatakan hal itu.


"Lah kan emang gitu kenyataannya. Emangnya lo kerja di mana?" tanya Syasya penasaran.


"Lo gak perlu tahu gue kerja di mana. Yang penting gue bisa nafkahin anak istri gue pakai duit halal."


"Lo yakin duit lo halal?" goda Syasya.


Tristan yang sudah naik darah menghampiri adiknya dan memitingnya.


"Lo makin gede makin kurang ajar ya sama abang lo," ujar Tristan.


Syasya menggerakkan badannya berusaha melepaskan diri.


"Lepasin gue! Lo apaan sih?" Sementara dua bersaudara itu sibuk ribut, mereka semua yang memperhatikan hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


Bagaimana bisa dua orang yang sudah menjadi Ayah dan Ibu itu bertengkar layaknya anak kecil.


"Apa lo liat-liat!" bentak Tristan pada Hans dan Rian.


Dua orang yang kena bentakkan itu sontak terlonjak karena terkejut.


"Lah, apaan lo Bang. Orang dari tadi gue lagi nyebat." Hans mencari pembelaan dengan memperlihatkan satu batang rokok di tangannya. 


Tristan yang masih memiliki rasa malu segera menghentikan pertengkarannya dengan Syasya. 


"Nyerah lo?" Syasya bertanya dengan badan yang siap menyerang Tristan. 


"Gila lo!" Setelah mengatakan hal itu, Tristan pergi dari ruang tamu menuju dapurnya. 


Setelah perkelahian sengit itu dia merasa haus.


"Lagian kenapa lo gak bilang kalau di sini rame banget?" ucap Syasya. Lita yang sedang sibuk menggendong Jo memandang Syasya.


"Gue yang nggak bilang sama lo atau lo yang selalu nyela perkataan gue? Dari awal gue udah mau bilang sama lo, tapi beberapa kali lo nyela terus perkataan gue sampai gue nggak bisa bilang ini semua sama lo. Jadi salah siapa?"


Syasya tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal.


"Ya maaf, gue kira lu mau ngomong apa kan. Lagian kenapa lo gak langsung aja ngomongnya pakai lama banget." Syasya tak mau kalah.


"Terserah lo ya gue udah gak mau ribut sama lo. Gue ngurus Jo aja udah ribet banget. Nggak mau gue ribut sama lo cuma karena beginian."


Lita sudah menyerah dengan Syasya. 


"Eh lo berdua kapan mau main ke rumah gue? Kalian berdua kan sahabat Vano," tanya Syasya. 


"Iya nanti gue main ke sana."


"Lo?" Syasya bertanya pada Rian yang masih belum menjawabnya. "Iya nanti gue juga main ke sana."


Sebenarnya Rian bukan tak mau menjawab, tapi netranya itu sedari tadi tak lepas dari sosok Dina yang menurutnya semakin cantik.


Syasya yang sadar akan hal itu menggoda Dina. "Din, kayanya Rian suka sama lo. Dia sampai gak ngedip liatin lo dari tadi," goda Syasya sambil menyenggol lengan Dina yang tepat berada di sampingnya.


"Apaan sih lo." Dina salah tingkah, Syasya sangat tahu bagaimana Dina jika dia salah tingkah.


"Nah, lo suka juga kan sama dia?" Mungkin karena sudah bersahabat begitu lama membuat mereka tahu satu sama lain dengan baik.


Itu artinya Syasya sudah harus kembali ke rumah karena Si Kembar akan segera pulang.


"Kayaknya gue harus pulang duluan deh," ucap Syasya. "Loh kok? Kenapa?" tanya Dina. Dia tak menyangka jika Syasya akan pulang secepat itu.


Dia kira mereka akan berkumpul sampai malam di sini. "Gue gak bisa kalau sampai malam. Sekarang nih siang anak gue pulang sekolah dan di rumah gak ada siapa-siapa. Jadi gue harus ada di sana sekarang juga," jelas Syasya.


Dina mengangguk paham. "Ya udah kalau gitu gue antar," jawab Dina. Syasya menolak. "Nggak usah, gue bisa pakai grab atau yang lainnya."


"Udah gak usah ribut, gue aja yang nganter. Lagian gue juga santai kok." Hans akhirnya menawarkan jasanya.


"Kok lu pergi? Tapi lu ke sini lagi kan?" tanya Rian.


"Iya gue ke sini lagi tenang aja. Lagian kenapa sih kalau nggak ada gue? Kayak ditinggalin orang tua aja lu," ledek Hans pada sahabatnya itu.


"Ya udah sana lu pergi." Ryan akhirnya mempersilahkan Hans untuk mengantar Syasya karena kesal pada pria itu.


Setelah pamit dengan semua orang yang ada di sana, akhirnya Hans dan Syasya pergi keluar.


"Lo Yakin nggak apa-apa nganter gue?" tanya Syasya berusaha memastikan.


"Iya tenang aja sekalian gue mau ketemu sama Vano juga," jawab Hans.


Syasya mengangguk dan akhirnya mereka pergi dari sana. Jalanan yang lumayan ramai membuat mereka telat beberapa menit untuk sampai di rumah Syasya.


"Astaga mereka udah sampai." Sasha dengan buru-buru turun dari mobil Hans. Vano terlihat sedang menelpon seseorang karena pria itu meletakkan ponselnya di telinga.


Namun ketika dia datang, pria itu segera menurunkan ponselnya. Syasya yang sadar langsung mengecek ponselnya. Benar saja ada beberapa panggilan tak terjawab dari suaminya itu.


"Kenapa baru pulang jam segini? Aku biarin kamu pergi karena aku pikir kamu akan tepat waktu. Kamu tahu kan anak-anak gak ada yang jaga di rumah kalau kamu nggak ada," tanya Vano lembut.


"Iya maaf aku salah, harusnya aku tadi pulang sebelum jam sebelas karena emang jalanan di jam-jam itu padat banget. Tadi aku pulang jam setengah dua belas dan jalanan macet. Jadi aku telat datang ke sini." Syasya mencoba menjelaskan keadaan yang terjadi.


Vano mengangguk kemudian mengelus kepala Syasya dengan lembut. Pandangannya mengarah ke belakang di mana mobil yang ditumpangi Syasya tadi terparkir.


"Kamu datang sama siapa?" tanya Vano penasaran. 


"Ah itu." Sebelum melanjutkan kalimatnya, Syasya melambaikan tangannya memberi kode pada orang yang ada di dalam mobil untuk keluar.


Orang itu keluar dan Vano terlihat cukup terkejut. "Hans?" Vano bertanya pada Syasya jika saja penglihatannya salah. Namun kemudian Syasya mengangguk, itu berarti apa yang dilihatnya saat ini benar.


"Hey Bro," ucapan Hans mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Vano kemudian dia memeluk pria itu sekejap.


"Ke mana aja lo?" Vano mulai bisa berbaur dengan Hans. "Cari duit lah, gue kan juga mau kawin," gurau Hans.


"Ini Si Kembar?" tanya Hans saat dia melihat dua anak kecil yang tengah memperhatikan interaksinya dengan Vano.


"Ah iya mereka Arjuna dan Aruna. Sayang salam dulu ya sama Om Hans. Om Hans ini temannya Ayah sama Mami."


Arjuna dan Aruna mengangguk dengan senyum yang terpancar di wajahnya. "Hai Om. Kenalin aku Arjuna." 


"Aku Aruna." Mereka bergantian menyalami Hans. Rupanya sudah selama itu dia tidak bertemu dengan Vano karena kesibukannya.


"Hai Jagoan. Hai Princess, lama nggak ketemu ya. Kalian udah gede aja," ucap Hans pada kedua anak itu.


"Kita ngomong di dalam aja yuk," ajak Vano.