Complicated Love

Complicated Love
Chapter 31



Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh keluarga Syasya, pasalnya hari ini adalah kali terakhir Syasya melakukan terapi.


Namun walaupun begitu, psikiater yang menangani Syasya tidak bisa memastikan apakah kondisi psikis Syasya sudah normal atau belum. Sejauh ini Syasya memang tak lagi histeris, namun itu tak jadi kepastian bahwa Syasya tak akan menggila lagi ketika bertemu dengan orang yang menjadi penyebabnya seperti ini.


"Terimakasih, kak Alvin" ucap Syasya pada dokter muda itu setelah keluar dari ruangan di mana dia melakukan terapi.


Saking seringnya bertemu membuat Syasya dan Alvin menjadi akrab apalagi jika mengingat usia mereka tak terpaut jauh.


"iya sama-sama Sya. Kamu jaga diri baik-baik ya di sana. Kalau mau konsul tinggal telpon aja" Alvin yang sudah menganggap Syasya seperti adik sendiri tersenyum menanggapi ucapan Syasya.


"iya kak" mereka berdua berpelukan mengabaikan orang tua dan abang Syasya yang ada di sana.


"thanks bang udah bantu adek gue" Semua anggota keluarga mengucapkan terimakasih, tak lupa mereka juga mengucapkan salam perpisahan.


"kalau ada waktu main-mainlah ke sana" ucap mami dan diangguki oleh Alvin.


"ya sudah, kita pamit dulu ya" lambaian tangan mereka menjadi pemandangan terakhir yang ditangkap mata Alvin.


Pria berperawakan tinggi dengan dengan mata sedikit abu itu berjalan menyusuri lorong kembali menuju ruangannya.


Sementara Syasya, gadis itu dengan antusias merapikan bajunya karena ia akan pulang ke tanah kelahirannya.


" mami Syasya bahagia banget bisa pulang, akhirnya bisa sekolah lagi" ucap Syasya. Tangannya terus melipat pakaian sebelum kemudian dimasukkannya ke dalam koper.


"iya sayang, mami juga bahagia. Apalagi lihat kamu sembuh" mereka berdua terkekeh dengan obrolannya sendiri.


Malam hari, seperti biasa Syasya memasuki kamar abangnya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Objek pertama yang dia lihat adalah penampakan abangnya yang tengah jongkok di ats kasur dengan ponsel di tangannya.


Suara riuh perang dari ponsel abangnya itu terdengar sangat mengganggu dan memekakkan telinga. Dengan cepat Syasya mengambil ponsel itu dari tangan abangnya yang setelahnya dihadiahi pukulan kecil di bahu Syasya.


"Sya ih ganggu banget itu sebentar lagi mau menang!" omel Tristan sembari berusaha merebut kembali ponselnya. Namun dengan jahil Syasya menekan tombol close di ponsel abangnya sehingga game yang sedang dimainkan abangnya berhenti begitu saja.


"sialan! Mau apa lo?!" tanya Tristan kesal.


"kemarin ada yang belum lo kasih tahu ke gue, dan sekarang gua mau tagih itu" dengan tenang Syasya mengembalikan ponsel abangnya dan duduk di samping abangnya di atas ranjang.


"yang mana? lupa gue. Sana ah keluar" usir Tristan.


"itu, alasan Vano lakuin itu ke gue. Gausah pura-pura lupa deh lo" sanggah Syasya.


"ayo cepat cerita" lanjutnya.


Tristan menghela nafas berat. Dia ingin tidur saat ini.


"cepetan bang!" desak Syasya.


"Iya iya ah sabar. Jadi gini gue udah cari tahu alasan Vano lakuin itu sama lo. Gue cari tahu ini juga di bantuin sama sahabat-sahabat lo. Vano lakuin itu sama lo karena dia dendam sama gue dan dia mau balas gue dengan nyakitin adek gue sendiri" ucap Vano.


"Bianca, lo tahu dia?" tanya Tristan. Syasya mengangguk, dia mengingat wanita itu mantannya Vano.


"Dia mantan gue. Dan baru-baru ini gue tahu kalau dia tigain gue. Sedih banget kan kisah gue?" tanya Tristan dramatis.


"tigain? maksud lo?"


"saat gue pacaran sama dia, dia juga pacaran sama Vano dan satu cowo lagi tapi gue gak tahu. Yang gue tahu dari sinilah kesalah pahaman antara Vano dan gue dimulai"


"Vano cerita pas hari jadi mereka, Vano datang ke rumah Bianca. Tapi pas sampai di sana Vano lihat Bianca lagi 'tidur' sama cowok lain dan Vano kira cowok itu gue karena besoknya Vano lihat gue sama Bianca pergi jalab. Lo pasti paham lah kelanjutannya" ucap Tristan.


"oh iya satu lagi. Lo tahu Brian?" Tristan memandang Syasya serius.


"iya tahu. Dia teman SMP gue" jawab Syasya.


"dia yang udah rencanain buat nabrak lo. Dengan kata lain kecelakaan lo satu tahun lalu adalah hal yang disengaja" tubuh Syasya terdiam kaku mendengar penuturan abangnya. Netranya terbuka lebar karena terkejut.


"dia bilang, dia kesel sama lo karena lo diem aja waktu dulu dia di bully. Dan dia juga rencanain ini bareng Sama Bianca, bianca masih suka sama Vano itu sebabnya dia celakain lo" tutur Tristan.


"bang lo gak lagi ngarang cerita kan?" tanya Syasya.


"untungnya apa buat gue kalau gue bohong? Setelah lo dengar cerita gue, lo yakin masih mau balik ke Indo?" tanya Tristan mencari keyakinan.


Setelah terdiam cukup lama, Syasya menganggukkan kepalanya yakin. Sepertinya hatinya masih terbuka untuk Vano, rupanya itu hanya kesalahpahaman.


Dia akan mencoba menguji Vano. Dia ingin tahu seberapa nyata perasaan Vano untuknya. Dan harapannya, semoga ketika bertatap muka dengan Vano traumanya tak kambuh.


"gue bakal balik ke sana dan selesaikan ini sendiri"


"sebenarnya dulu gue sama sahabat-sahabat lo udah urus ini. Tapi gue gak tahu kelanjutannya gimana, kalau lo penasaran lo bisa tanya sama Dina. Ayah dina yang pegang kasus ini" jelas Tristan.


"oke bang. Makasih buat ceritanya malam ini. Yo keluar, gue traktir lo makan malam ini" ajak Syasya. Walaupun dia masih mendapat uang saku dari orang tuanya tapi untuk saat ini ia ingin sekali mentraktir abangnya.


"oke gass" Tristan segera loncat dari ranjangnya membuka lemari dan memilih kardigan tebal untuk menutupi kaosnnya.


Mereka berjalan beriringan menuju sebuah mini market di sebrang jalan. Sesampainya di sana sungguh suatu yang menyesalkan untuk Syasya karena abangnya benar-benar menguras habis isi dompetnya.


"bang lo gila?! Gue tawarin traktiran cuma biat satu macam, kenapa jadi bermacam-macam gini?" ucap Syasya sesaat sebelum troli yang mereka dorong mencapai kasir.


"ya udah sih kali-kali bahagiain abang sendiri" jawab Tristan santai. Sementara Syasya sibuk membuka dompetnya takut-takut uangnya tak cukup untuk membayar apa yang diambil Tristan.


Untunglah setelah kasir menyebutkan totalnya, uang Syasya cukup dan kini mereka sedang berjalan pulang dengan Syasya yang menunduk lesu karena uangnya habis dan Tristan dengan wajah berseri-seri karena membawa pulang makanan yang bisa di bilang tidak sedikit.


"Bang lo tega banget. Pokonya setahun kedepan lo yang tanggung jawab atas makanan gue titik" Syasya berjalan cepat meninggalkan Tristan yang sibuk dengan kantong plastik di kedua tangannya.