
Berlin, merupakan salah satu kota ramai di Jerman. Seharusnya orang-orang pergi kesini untuk liburan, namun beda halnya dengan gadis yang saat ini sedang terbaring lemah di brankar Rumah Sakit.
Ya, Syasya, gadis itu dibawa ke Jerman setelah mendengar penuturan dokter bahwa Rumah Sakit di tanah airnya tak sanggup untuk menangani Syasya.
Ventilator, alat yang saat ini membantu pernafasannya. Semua selang-selang asing itu menempel di tubuh Syasya. Dia mengalami koma, kondisi yang sama seperti yang dirasakan Vano.
Benturan keras di kepalanya juga memungkinkan ia melupakan sebagian atau seluruh ingatannya, itu kata dokter setelah pemeriksaan tadi.
Tak ada satupun orang yang tahu keadaan Syasya selain keluarganya. Bahkan sahabat-sahabat baiknya tak tahu jika Syasya dibawa ke Jerman.
Setelah berhasil menenangkan sang istri, papi Syasya segera memasuki ruangan rawat Syasya. Dia memandang sendu putri kecilnya, putri yang selama 19 tahun ia jaga kini terbaring tak berdaya di brankar Rumah Sakit.
"maaf papi lalai jaga kamu, nak" tak terasa butiran kristal itu jatuh membasahi pipinya. Jarang sekali papi Syasya menangis. Beliau segera mengusap air matanya.
Kini mereka hanya menunggu keajaiban datang. Mereka berharap tuhan memberikan mukjizat pada putri mereka.
Tristan, pria itu tak ikut serta dengan keluarganya. Ia memilih tinggal di rumah dan menyelesaikan akar permasalahannya.
Tristan segera menghubungi nomor yang sudah tertera di layar ponselnya.
"dimana?" tanyanya pada orang di sebrang sana.
"caffe dekat sekolah bang" jawabnya.
"oke gue ke sana" Tristan menutup sambungan telponnya kemudian melajukan motornya menuju tempat yang disebutkan orang tadi.
Sesampainya di sana, Tristan segera memasuki caffe tersebut. Suara lonceng berbunyi saat pintu caffe dibuka.
Tristan mencari sosok yang ia telpon tadi. Kakinya segera melangkah mendekat saat matanya menemukan sosok itu.
"bang, udah datang" tanyanya basa -basi.
"hmm, jadi gimana ceritanya?" Tristan mendudukkan bokongnya di kursi sebrang gadis itu.
gadis itu hanya terus diam, bingung untuk memberi tahu pria di depannya ini. Apakah ia harus memberi tahunya?
"Lita, bilang. Jadi gimana Syasya sampai bisa luka waktu itu?" paksa Tristan.
"itu bang. Tapi lo janji jangan Syasya kalau gue udah kasih tahu lo" mohon Lita.
"iya cepetan ah" Tristan gemas sendiri melihat gadis di hadapannya ini.
"dulu sekitar UAS semester akhir mereka mulai pacaran, gue juga gak tau mereka sedekat itu awalnya. Hubungan mereka baik-baik aja layaknya pasangan pada umumnya" Tristan dengan seksama mendengar penjelasan Lita.
"gue gak tau awal mula Vano kasar sama Syasya, tapi waktu itu sehari setelah selesai wisuda Syasya bertengkar sama cewe di toilet, lebih tepatnya Syasya di jebak" Lita menghela nafas.
"dan waktu itu Vano malah menyalahkan dan bentak Syasya. Itu awalnya gue tau Vano dan Syasya gak baik-baik aja. Gue kira setelah itu hubungan mereka balik kaya semula, tapi hari itu saat Syasya dibawa ke Rumah Sakit...." Lita menggantungkan kalimatnya ragu untuk mengatakannya pada Tristan.
Tristan sebenarnya sudah tau saat ia tak sengaja menguping Syasya berbicara pada Vano yang saat itu sedang koma. Namun ia ingin memastikannya sekali lagi dengan mendengar penjelasan Lita.
"gue belum tahu cerita lengkapnya, tapi Syasya bilang dia ditampar sama Vano. Dia juga bilang kalau dia capek, gue pikir dia capek sama hubungan toxic itu. Gue udah kasih nasihat buat udahan aja sama Vano, tapi lo tau dia bilang apa?"
"apa?" tanya Tristan.
"udah gak apa-apa. Tunggu, tadi lo bilang Syasya berantem sama cewe? Siapa?" tanya Tristan penasaran.
"gue gak dengar dengan jelas sih waktu Vano manggil cewe itu karena gue udah jalan keluar toilet waktu itu. Tapi kalau gue gak salah namanya Bianca?" Lita berusaha mengingat nama wanita itu.
Mata Tristan membulat mendengar nama mantan kekasihnya disebut.
"Bi...Bianca?" tanya Tristan memastikan. Lita yang ditanya hanya mengangguk.
"lo mau bantu gue menyelesaikan masalah ini?" lagi-lagi Lita mengangguk mengiyakan ajakan Tristan. Memangnya apa yang tidak untuk sahabatnya.
"Bianca mantan gue, dan dia pacar Vano sebelum sama gue" kalimat yang dilontarkan Tristan mampu membuat mata Lita membola. Ia kaget bukan main. Jangan sampai apa yang ada di pikirannya itu benar.
"apa lo satu pemikiran sama gue?" tanya Tristan, ia tahu apa yang Lita pikirkan.
"gak gak mungkin kan bang? gue pasti salah. Gak mungkin Vano tega lakuin itu"
"gak ada yang gak mungkin kalau udah menyangkut hawa nafsu, Lit" ya. Apa yang dikatakan Tristan memang benar.
"apa Vano setega itu nyakitin Syasya cuma buat balas dendam sama lo?" Lita sedikit ragu walaupun firasatnya mengatakan Vano memang melakukan itu.
"dan yang paling yakinin gue kalau Vano lakuin itu kenyataan bahwa Vano benci gue dan gue gak tahu alasannya" Tristan menghentikan perkataannya dan menoleh pada Lita.
"lo bisa bantu gue buat mastiin ini?" lanjut Tristan.
"gue harus apa?"
"lo tanya baik-baik sama Vano kenapa dia lakuin itu sama Syasya, dan cari tahu juga kenapa dia benci gue segitunya. Lo bisa?" tanya Tristan.
Walaupun ragu, akhirnya Lita menganggukkan kepalannya.
"Tapi Vano koma saat ini"
" semoga dia cepat bangun dan lo bisa tanya ini sama dia. Oh iya, gue belum bilang kalau Syasya ada di Jerman"
"What!? ngapain gila!!?" Lita kaget bukan main. Pasalnya 2 hari yang lalu sahabatnya itu masih ada di sini.
"dua hari yang lalu dia kecelakaan dan sekarang dia juga koma" sungguh pasangan yang serasi.
Lita membungkam mulutnya agar tidak berteriak. Matanya tiba-tiba memanas. Disaat keadaan sahabatnya sedang koma, dia sama sekali tidak mengetahuinya.
"gue gak ke sana karena mau cari tahu masalah ini" lanjut Tristan.
"gak usah sedih. Gue yakin Syasya bakal baik-baik aja, dia kuat" Tristan menepuk pundak Lita untuk menenangkan gadis yang saat ini sedang terisak.
"yaudah gue pergi dulu yah, makasih atas informasinya. Dan gue harap lo bisa lakuin apa yang gue minta" Tristan beranjak dari tempatnya. Tujuannya saat ini adalah rumahnya.
Di lain sisi, Vano, pria itu mengerjabkan matanya setelah kurang lebih lima hari ia terpejam. Cahaya menyilaukan masuk dalam indera penglihatannya.
Dia berusaha menyesuaikan matanya. Objek yang pertama kali ia lihat adalah bunda dan ayahnya. Badannya belum bisa bergerak dengan bebas, hanya bola matanya yang terus memutar melihat kesana-kemari.