
Seusai diintrogasi selama kurang lebih satu jam akhirnya Syasya bisa kembali ke kamarnya. Ia berpikir kenapa bisa Vano melakukan itu padanya namun sama seperti sebelumnya ia tak mendapatkan jawaban untuk pertanyaannya tersebut.
Akhirnya Syasya mencoba menghubungi Vano. Ia meluluhkan hatinya untuk sekedar mendengar penjelasan Vano terlebih dahulu. Ia menekan kontak dengan nama Vano di sana kemudian mendekatkan ponsel pada telinganya.
Setelah dipastikan Vano mengangkat panggilannya, Syasya menghela nafas agar emosinya sedikit tertahan.
“Van, gak ada yang mau kamu jelasin?” tanya Syasya mencoba bertanya. Sebenarnya ia ingin Vano yang menghubunginya terlebih dahulu. Namun sepertinya Vano sudah tidak peduli padanya.
Syasya merasa aneh dengan perubahan sifat Vano. Ini bahkan baru beberapa minggu mereka menjalin hubungan namun mengapa Vano dengan mudah merubah sifat padanya? Apakah Syasya hanya pelampiasan? Atau karena mantan Vano yang kembali datang di kehidupannya?
“aku udah bilang cewe itu Cuma teman aku” jawab Vano tak peduli. Ia tak akan langsung blak-blakan menyakiti Syasya. Ia ingin rasa sakit yang dirasakan wanita itu adalah rasa sakit yang akan menyiksa Syasya sehingga itu akan menyakitkan pula untuk Tristan.
“bukan itu yang aku permasalahkan. Kamu sadar gak sih sikap kamu belakangan ini tuh beda!” Syasya mulai menaikan nada suaranya.
“yaudah aku minta maaf. Mungkin aku Cuma lagi gak mood” jelas Vano dengan nada lelah. Senyum jahat terukur di wajahnya.
“jangan di ulangi, aku khawatir” ucap Syasya. Nada bicaranya kembali melembut. Ia memang sangat lemah dengan orang-orang yang mengucapkan kata maaf. Tanpa Syasya sadari ia juga memang sangat mudah menerima permintaan maaf seseorang.
“hhmm” jawab Vano. Ulu hatinya terasa sakit kala mendengar jawaban Syasya. Bahwa wanita itu dengan mudah memaafkannya setelah apa yang Vano lakukan pada wanita itu.
Vano yang menyakiti Syasya namun mengapa malah hatinya yang terasa teriris? Vano tak ingin melakukan ini, tapi egonya terlampau menguasai pikirannya. Ia akan membalaskan dendamnya pada Tristan lewat adiknya.
Setelah itu mereka sama-sama mematikan sambungan telepon. Syasya tersenyum senang karena sudah berbaikan dengan Vano. Sementara Vano ia menelungkupkan badannya di kasur sambil menghela nafas lelah.
***
Pagi hari ini adalah pagi yang membahagiakan bagi Syasya karena ia akan bertemu Vano setelah kemarin mereka bertengkar.
Mereka memang sudah lulus, namun bukan berarti mereka lepas dari sekolah begitu saja. Masih ada beberapa dokumen yang harus mereka urus dan juga pendaftaran ke universitas yang mereka inginkan masih menjadi tanggung jawab sekolah.
Syasya mengendarai motornya dengan senyum cerah di wajahnya, walaupun Vano tidak menjemputnya namun setidaknya mereka akan bertemu.
Seperti biasanya di gerbang depan sekolah selalu ada Pak munir ditemani segelas kopi. Selama ini Syasya selalu merasa beruntung untuk pak Munir karena pekerjaan pak Munir Cuma ngopi, jagain gerbang sambil duduk tapi dia digaji. Apakah Syasya harus memiliki cita-cita menjadi satpam?
Oke, stop untuk halu yang satu ini. Mata Syasya dengan mudah menemukan sosok Vano di parkiran. Syasya melepaskan helmnya setelah memarkirkan motornya kemudian berlari ke arah Vano dan memeluknya.
Vano mengusap rambut Syasya. Hatinya menghangat melihat senyum di wajah Syasya. Jahatkah dirinya menyakiti wanita sebaik Syasya?
“Mau ke kantin? Aku lapar” ajak Syasya manja.
“oke” jawab Vano.
“kita udah kaya mahasiswa yah pergi ke sekolah gak pakai seragam” ucap Syasya girang. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang mahasiswa begitu juga Vano. Akan terlihat keren jika ia dan Vano berangkat ke kampus bersama dengan baju bebas.
“iya” hanya itu yang keluar dari bibir Vano.
Mereka memesan makanan setelah sampai di kantin. Menu wajib Syasya di pagi hari adalah siomay Bang Toyib. Sementara Vano hanya memesan minuman untuk mengobati dahaganya.
“Syasya!” seru seseorang.
Syasya menolehkan kepalanya pada orang yang memanggilnya di ujung kantin. Vano juga mengalihkan pandangannya. Syasya kemudian melambaikan tangannya setelah ia menangkap Dina dan Lita pada pandangannya.
“udah beres” tanya Syasya. Maksudnya urusan dengan bagian TU perihal surat-surat kelulusannya.
“belum. Kita nunggu lo tapi gak datang-datang” jawab Lita sembari memilih roti yang ada di rak.
“yaudah nanti kita bareng. Gue ke toilet dulu yah” Syasya melangkahkan kakinya menuju toilet yang ada di ujung lorong.
Langkahnya terhenti saat ia berpapasan dengan wanita yang tampak familiar untuknya. Wajahnya, rasanya ia pernah melihat wajah itu di sesuatu tempat. Tak berbeda jauh dengan Syasya, wanita itu memandang Syasya seolah pernah melihatnya.
“lo, Bianca kan?” tanya Syasya setelah ia mengingat wanita yang ada di hadapannya saat ini.
“iya. Dan lo...?” tanya Bianca ragu.
“gue pergi dulu” ucap Syasya tanpa menunggu Bianca menjawabnya. Syasya kembali melangkahkan kakinya menuju toilet. Tanpa ia sadari, Bianca justru mengikuti Syasya.
Mengingat setelah kelulusan pastilah libur, suasana di sekolah saat ini begitu sepi. Hanya ada satu atau dua orang yang berlalu lalang di sekolah saat ini.
Syasya membasuh wajahnya setelah selesai dengan urusannya. Namun saat ia melihat cermin di hadapannya, Syasya terkejut bukan main melihat Bianca yang sedang berdiri di belakangnya.
“ngagetin tau gak” ucap Syasya menghilangkan kecanggungan.
“lo pacar Vano? Lo yakin?” tanya Bianca meremehkan Syasya.
“yakin lah. Emang kenapa?” jawab Syasya sembari membereskan anak rambut yang mengenai wajahnya.
“gue sama Vano belum putus, jadi lo selingkuhannya mungkin” Bianca berucap dengan percaya diri sambil melihat kuku-kuku jarinya.
“gak mungkin lah. Vano bilang lo itu mantannya” jantung Syasya mulai berdegup kencang takut apa yang dikatakan Bianca memang benar adanya.
“Sya lo di dalam?” teriakan dari luar membuat Bianca membulatkan matanya. Ia sangat mengenal suara ini, bagaimana tidak mereka bersama selama dua tahun. Otaknya berputar untuk menyusun rencana jahat.
Dengan tiba-tiba ia merobek baju bagian depannya sendiri kemudian menggenggam tangan Syasya dan menariknya hingga posisi mereka saat ini Syasya berada di atas tubuh Bianca dan terlihat sedang menyakitinya.
“aaahhhh” dengan sengaja Bianca berteriak seolah-olah dia kesakitan.
Vano yang mendengar suara teriakan dari dalam toilet segera masuk tanpa memandang jika itu toilet wanita. Matanya membulat melihat apa yang tengah dilakukan Syasya. Ia tak menyangka Syasya bisa sebrutal ini.
Vano segera melerai keduanya dan berdiri di hadapan Syasya untuk melindungi tubuh Bianca. Sementara Bianca hanya tersenyum miring, rencananya berhasil.
“lo apa-apaan sih?!” bentak Vano.
“aku gak ngapa-ngapain, Van. Dia yang tarik aku” ucap Syasya mencoba menjelaskan dengan mata yang berkaca-kaca.
“lo udah lulus bukan berarti lo boleh buat onar di sekolah seenaknya!” lagi-lagi bentakan itu keluar dari bibir Vano.
Kalian tahu sendiri jika Syasya tak pernah dibentak dan dia benci dibentak. Namun sekarang orang yang ia sayang dengan mudahnya membentak disaat Vano sendiri tak tahu apa kebenaran dibalik kejadian tadi.
“aku gak bikin onar!” Syasya berteriak frustrasi. Ia kecewa pada Vano karena lebih mempercayai wanita itu daripada Syasya.
Karena teriakan yang berasal dari toilet, Dina dan Lita segera menghampiri asal teriakan itu. Mereka terkejut melihat keadaan Syasya dengan mata merah. Benar-benar kacau. Lita segera menghampiri Syasya dan memeluknya, matanyanya nyalang memandang Vano. Tersirat tatapan kecewa di sana.
“Gue gak apa-apain dia, Lit” Syasya menjelaskan pada lita dengan air mata yang terus keluar. Isakan kecil keluar dari bibir kecilnya.
“iya- iya. Gue percaya lo gak bakal lakuin itu” Lita mendekap tubuh Syasya dan membawanya keluar.
“lo bakal nyesel kalau tahu kejadian sebenarnya” Bisik Dina pada Vano lalu pergi dari sana menyisakan Vano dan Bianca.
“lo gak apa-apa?” tanya Vano khawatir.
“aku baik-baik aja. Anterin aku pulang ya” ucap Bianca manja.
Tanpa berpikir lama, Vano segera menganggukkan kepalanya menyetujui untuk mengantar Bianca.
Sementara Syasya, ia diantar pulang oleh teman-temannya. Acara mereka untuk mengurus surat-surat kelulusan hari ini harus tertunda.
***
Waktu cepat berlalu setelah insiden Syasya dan Bianca di kamar mandi. Syasya tetap menjalin hubungan dengan Vano. Ia tak mau kehilangan Vano. Dan Vano semakin kesini semakin terlihat dingin.
Mereka sudah berhasil masuk universitas. Lita dan Syasya satu universitas, begitupun Vano dan kedua temannya. hanya Dina yang berbeda universitas.
“Sya, sini”