
Jantung Bian berdetak saat dia menginjakkan kakinya di wilayah sekolah. Dia datang bersama dengan Ayahnya.
Tentu saja hari pertama masuk sekolah dia diantar oleh orang tuanya karena mungkin dia akan merasa malu jika berangkat sendiri.
"Yah, kok Bian takut ya," kekehnya saat mereka sudah berada di depan ruang kepala sekolah.
Sesuai dengan instruksi kepala sekolah kemarin, Vano membawa Bian ke ruangan kepala sekolah terlebih dahulu.
"Emangnya apa yang harus ditakutin?" tanya Vano sambil mengelus kepala Bian.
"Mungkin karena Bian baru pertama kali ke sekolah." Ada nada sendu dalam kalimatnya.
"Kamu pasti bisa, kamu harus berani!" Vano mencoba menyemangati Bian sebelum mereka masuk.
"Pagi, Pak," sapa Vano saat mereka memasuki ruang itu.
"Ah pagi. Oh yang kemarin ya," tanya kepala sekolah.
Vano mengangguk. Mereka duduk setelah dipersilahkan.
"Saya sudah memasukan data saudara Bian. "Mungkin untuk sekarang kamu tunggu sebentar di sini, nanti ikut saya ke ruang kelas kamu."
Bian mengangguk. "Ayah mau pulang sekarang?" tanya Bian pada Vano.
"Kamu berani sendiri?" Vano masih merasa khawatir pada putranya.
Tapi ternyata Bian mengangguk. "Bian berani," jawab Bian.
"Kalau gitu Ayah ke kantor dulu. Nanti pulang sekolah Ayah jemput," ujarnya yang kemudian dianggukki oleh Bian.
"Pak titip anak saya ya, saya permisi dulu," pamit Vano.
"Iya Pak, tenang saja. Anak Bapak aman sama saya."
Setelah berpamitan dengan kepala sekolah, Vano pergi dari sana meninggalkan Bian dan kepala sekolah berdua.
"Tunggu sebentar ya, sepertinya di jam ini guru belum pada masuk," ucap kepala sekolah.
"Oh iya. Saya akan panggil gurunya dulu, kamu tunggu di sini."
"Baik, Pak." Bian mengangguk sementara kepala sekolah keluar untuk menemui guru yang saat ini akan masuk di kelas Bian.
Bian melihat-lihat isi ruangan itu. "Ternyata gini isi ruangan kepala sekolah."
Harus dengan cara apa lagi dia bersyukur dengan anugerah yang diberikan tuhan itu?
Tak lama, kepala sekolah kembali ke sana dengan seorang guru wanita di sampingnya.
"Nah Bu Dewi, ini siswa baru yang saya bicarakan. Mungkin bisa sekalian Ibu ajak ke kelas?" ujar kepala sekolah.
"Baik Pak."
"Jadi nama kamu … "
Guru itu menjeda ucapannya menunggu Bian menjawabnya.
"Nama saya Bian, Bu." Bian memperkenalkan dirinya
"Oke, Bian ayo ikut saya." Bian bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Bu Dewi setelah dia berpamitan pada kepala sekolah.
Bian melihat-lihat lingkungan sekolah sepanjang jalan menuju ke kelasnya.
Impiannya sejak kecil akhirnya terwujud, dia bisa sekolah di sekolah yang sangat besar dan termasuk sekolah favorit.
"Ayo masuk." Bian mengangguk dan mengikuti gurunya masuk ke kelas.
Banyak yang berbisik mempertanyakan siapa yang masuk.
Tentu saja semua orang berisik karena ketampanan Bian. Visual pria itu memang tak perlu diragukan lagi. Kulit putihnya sangat indah ditambah sekarang dia sudah berpenanpilan keren. Tidak seperti dulu ketika dia hanya seorang penjual koran.
"Silahkan perkenalkan diri kamu," perintah Bu Dewi.
"Hai, perkenalkan nama saya Bian. Saya murid baru di sini, semoga kita bisa berteman." Bian menunduk mengakhiri sesi perkenalannya.
"Sini duduk di sini!!" seru seorang siswa pria dari arah belakang.
"Itu mah maunya lo, Beno!!" teriak yang lainnya.
Mereka ramai sekali membicarakan Bian yang menurur mereka sangat tampan apalagi para siswi.
"Silahkan duduk di bangku yang masih kosong." Bian mengangguk dan mulai berjalan mencari kursi kosong.
Pria yang disebut Beno itu tersenyum sombong pada teman-temannya.
"Sudah sudah!! Jangan ribut!" Bu Dewi menginterupsi mereka karena tak kunjung diam.
Setelah mendapatkan instruksi itu akhirnya mereka diam dan membuka buku pelajarannya.
Bian bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Dia sering mendengar istilah yang dibicarakan guru itu.
Jam pelajaran berlangsung selama dua jam hingga mereka tiba di waktu istirahat.
"Mau ke kantin gak? Gue mau ke kantin," ajak Beno.
"Enggak. Duluan aja," jawab Bian.
Bukannya sombong atau tak ingin berteman, hanya saja dia merasa sedikit malu.
Mungkin karena tidak terbiasa berinteraksi dengan orang seintens itu.
"Oke, kalau berubah pikiran nyusul aja. Kantinnya tepat di belakang kelas kita," ujar Beno yang dianggukki oleh Bian.
Bian mengeluarkan ponsel pintar yang kemarin dibelikan oleh Maminya.
"Kayanya dia dingin banget orangnya. Jadi segan buat nanya,"
"Iya, tadi Si Beno juga ngajak ke kantin, tapi dia nolak."
Itulah beberapa obrolan yang terdengar di telingan Bian.
Oke, sekarang dia sudah dicap dingin, mungkin memang sebaiknya dia lanjutkan. Toh dia tak ingin terlalu banyak berinteraksi dengan orang-orang.
****
Sementara itu di rumah Syasya merasa kesepian. Dia merasa bosan, ketiga anaknya sedang sekolah dan suaminya bekerja.
Itulah kenapa dia meminta untuk bekerja pada Vano tapi pria itu tak mengijinkan.
"Ahhh apa yang harus aku lakukan?" Dia membaringkan badannya di sofa. Bahkan dia sama sekali tak memiliki teman saat ini.
Bila membuka ponselnya untuk menelpon seseorang.
"Ada apa?" tanya seseorang di seberang sana saat sambungan telepon tersambung.
Syasya membalikan badannya menjadi posisi miring. "Aku bosan kamu belum bisa pulang?" tanya Syasya manja.
"Tumben, biasanya kamu tidur," jawabnya.
"Gak tau. Mungkin karena terlalu senang jadi gak bisa tidur."
"Tadi gimana Bian?" lanjut Syasya. Kebetulan dia mengingat putranya itu.
"Gak gimana-gimana. Dia sekolah biasa. Tadi kepala sekolah bilang dia yang akan mengurus Bian. Jadi kita gak usah khawatir."
"Jangan khawatir gimana? Kita kan orang tuanya, wajar dong!" jawab Syasya kesal.
"Ya maksudnya gak usah risau dia bakal kenapa-kenapa kalau sendirian. Lagian dia juga udah besar kan. Aku yakin kok dia bisa jaga diri,"
"Iya iya. Kamu kapan pulang, aku bosen di rumah sendirian," rengek Syasya.
"Sore kaya biasa. Tapi nanti siang aku jemput si kembar dulu. Abis itu balik lagi ke kanto. Hari ini aku gak bisa bolos karena masih banyak kerjaan di kantor." Syasya menghela nafas dalam.
Pada akhirnya dia harus merasa bosan sampai sore nanti.
"Ya udah deh. Hati-hati kalau lagi nyetir. Jangan ngebut. Kalau lagi ngantuk jangan maksa!" Syasya memperingatkan suaminya.
"Iya Sayang~" Vano menjawab Syasya dengan manja.
Syasya mematikan sambungannya.
"Bobo aja deh," ujarnya. Dia bangkit dari sofa itu, dia berjalan menuju kamarnya.
Syasya memilih tidur karena tak ada lagi kegiatan yang bisa dia lakukan sekarang.
Daripada dia mati bosan, lebih baik dia tidur saja.
"Jam sepuluh. Mungkin nanti aku bangun jam dua belas," ujarnya.
Syasya menyimpan ponselnya di atas nakas yang ada di samping ranjangnya.
Syasya membaringkan badannya di ranjangnya sebelum kemudian terlelap menuju alam mimpi.