Complicated Love

Complicated Love
S2 - Kerja Kelompok



Sementara itu Bian saat ini berjalan dengan gontai. Rumahnya masih jauh dari sana, tapi Demi Tuhan dia tak ingin pulang ke rumahnya.


Langit mulai mendung dan rintik hujan mulai berjatuhan. Bian berteduh di sebuah bangunan bekas toko. Dia memandang langit yang semakin gelap.


“Kanya gak bakal cepet reda,” ucapnya. Dia mengeluarka ponselnya. Ada rasa ingin menelpon Ayahnya tapi kemudian dia urungkan.


Dia tak ingin merepotkan Ayahnya itu. “Gak boleh, biasanya juga pulang hujan-hujanan. Masa manja banget,” ucapnya.


Dia kembali memasukkan ponselnya. Bian berdiri di sana cukup lama. 


Kerja kelompok itu pada nyatanya hanya bualan semata karena pada kenyataannya dia sama sekali tak pergi kerja kelompok. Melainkan pergi ke rumah temannya dan menjadi babu di sana.


“Salahku juga kenapa pernah jadi anak sebatangkara,” lirihnya. Senyum miris mengembang di wajahnya.


Ya, dia sudah agak lama mengalami hal ini. Sekitar satu minggu yang lalu ...


“Ganteng banget dia. Nanti gue ajak jadi teman gue ah, siapa tau kan jadi banyak cewek yang deketin gue,” ucap salah satu pria yang saat itu satu kelas dengan Bian.


“Teman? Kalian yakin? Dia gembel loh.” Seorang pria lain datang dengan membawa gosip yang tentu saja menarik perhatian banyak orang.


“Gembel gimana? Lo gak lihat sepatu yang dia pake? Itu LE loh!” Pria yang tadi memiji Bian sama sekali tak percaya dengan apa yang dikatakan temannya itu.


“Sumpah! Dulu itu dia gak kaya gini. Dia itu suka jual koran di lampu merah. Sering kok gue lihat dia.”


Pria yang merasa tak percaya itu akhirnya mendekati Bian. “Bi, bener lo penjual koran?”


Bian mematung. Bukannya malu, hanya saja bagaimana citra Ayahnya jika orang-orang tahu jika dia mantan gelandangan?


“Wahh ternyata benar ya kata teman gue. Gimana nih guys, di kelas kita ada mantan gelandangan loh!!” Pria yang bernama Rio itu berteriak hingga satu kelas melihat ke arahnya.


Beno juga melihat ke arahnya dengan tatapan menyesal. Hari itu Beno juga mengirimkan pesan jika dia minta maaf tak bisa membela Bian karena dia juga tak ingin dirundung seperti dirinya.


Bian tak masalah dengan itu, hanya saja bagaimana kehidupan sekolahnya setelah ini? Apa dia bisa bertahan di sana atau tidak?


Semenjak hari itu Bian yang mulanya menjadi idol di sekolahnya malah tak memiliki teman satupun.


Berbalik, malah sekarang dia sering diminta untuk mengerjakan tugas teman-temannya karena memang Bian anak yang pintar.


Tak jarang juga orang-orang meminta Bian membelikan makanan. Kehidupan sekolahnya adalah menjadi babu teman-temannya.


Jika saja Rio tak mengancam akan memberitahukan identitasnya itu pada satu sekolah, mungkin dia akan melawan. Tapi sayang, Rio mengancamnya. Bahkan tak hanya itu ancamannya, Bian juga sering mendapatkan penyiksaan secara fisik.


Seperti saat ini, hujan tak kunjung reda. Kakinya yang terbungkus sepatu terasa perih. Tentu saja, sepatunya itu basah karena air hujan dan di kakinya terdapat luka sayatan.


“Gak apa-apa. Nanti juga bakal berlalu,” ucapnya. Dia memandang langit lagi dan kali ini dia meyakinkan jika hujan tak akan berhenti dengan cepat.


Dia akhirnya memutuskan untuk menerobos hujan itu. Bian berlari sekuat tenaga. Tak terasa air matanya mengalir begitu saja.


Beruntungnya air matanya itu tersamarkan karena air hujan. Sangat jauh Bian berlari dia akhrinya tiba di rumahnya.


Rupanya Maminya sudah ada di depan pintu dan berjalan kesana kemari dengan gelisah.


Bian berhenti sejenak di depan gerbang. Dia menyiapkan mental, alasan, dan topeng di wajahnya untuk bertemu dengan keluarganya.


Syasya yang mendengar ada yang memanggilnya menolehkan kepalanya. Akhirnya orang yang sedang dia tunggu datang juga. 


“Astaga Bang!! Kenapa hujan-hujanan sih!?” bentak Syasya. Bukan apa-apa, dia hanya merasa khawatir.


Bian yang sekarang sudah tiba di depannya hanya tersenyum menampilkan giginya. “Abang lagi pengen hujanan aja. Udah lama gak hujanan,” jawabnya.


“Kamu ini!” Syasya memukul pelan lengan Bian. “Akkhh.” Bian meringis seperti sangat kesakitan.


“Kamu kenapa?” Syasya memegang lengan Bian dan mengangkat lengan baju putranya. “Apa Mami terlalu keras?” tanyanya khawatir.


Bian menggeleng dan menjauhkan lengannya dari Maminya. Dia tak ingin Maminya melihat apa yang terjadi dengan lengannya.


“Terus kenapa?” tanya Syasya. “Ahahah gak apa-apa Mi, Bian bercanda,” kekehnya. 


Syasya bernafas lega dia kira putranya itu serius. Syasya membawa Bian masuk untuk disuruhnya mandi. “Sana mandi dulu, Mami tunggu di bawah ya,” ucap Syasya yang diangguki oleh putranya.


Sementara Bian membersihkan badannya, Syasya pergi ke kamarnya untuk menemui suaminya. “Gimana? Udah pulang?” tanya Vano saat melihat istrinya masuk ke kamar.


“Udah tapi ujan-ujanan,” jawab Syasya kesal. Dia kemudian duduk di ranjang. Sementara Vano merasa terkejut dengan apa yang diucapkan istrinya.


“Kok bisa ujan-ujanan? Temannya gak nganterin?” tanya Vano. Pasalnya ketika berangkat tadi, Bian dijemput oleh temannya.


“Enggak, basah kuyup tuh dia. Lagi mandi sekarang.” Vano mengangguk.


“Udah gak usah marah-marah, nanti kita tanya dia kenapa bisa ujan-ujanan,” ucap Vano.


“Yuk ke depan.” Vano mengajak istrinya untuk ke ruang keluarga.


Syasya mengangguk dan mereka kembali ke sana sekalian menunggu Bian. “Si kembar gak bangun?” tanya Vano pada istrinya.


“Enggak, kayanya mereka nyenyak banget. Apalagi ini hujan,” jawab Syasya yang dianggukki oleh Vano.


Cukup lama mereka menunggu hingga Bian datang dengan badan yang sudah lebih segar dari biasanya. Dia mengenakan kaos kaki karena dia tak mau orang tuanya melihat luka di kakinya.


“Bang, tumben pakai kaos kaki?” tanya Vano merasa heran. Bian mengangguk dan melihat kakinya sejenak. “Dingin Yah.” Sebuah alasan sederhana tapi sangat masuk akal karena cuaca memang sedang dingin.


“Ya udah sini duduk dulu.” Vano menepuk-nepuk sofa kosong di sampingnya memberikan kode pada Bian agar duduk di sana.


Bian yang mengerti segera mendekati Ayahnya dan duduk di sampingnya. “Baru pulang?” tanya Vano ketika Bian sudah duduk di sampingnya.


Bian mengangguk. “Iya Yah tadi tugasnya banyak jadi telat pulang,” jawab Bian. Tenang saja, dia sudah menyusun skenario sepanjang jalan tadi.


“Kenapa pulang sendiri?” tanya Vano. “Tadinya mau dianter teman Yah, tapi orang tuanya sakit jadi dia gak bisa pergi. Yang lain juga udah pulang duluan,” jawabnya.


“Kamu punya telpon kan? Kenapa gak telpon Ayah atau Mami?”


“Maaf Yah, tadinya emang mau. Tapi ponsel Abang lowbat dan Abang udah di tengah jalan tadi. Jadi gak bisa telpon kalian.” Lihatlah, kebohongannya sangat mulus bukan?”


“Ya udah. Lain kali kamu isi daya ponsel kamu sampai penuh. Jangan sampai kejadian kaya gini terulang lagi ya?” Bian mengangguk paham namun dia tak  bisa menjanjikan hal itu.