
"hai, gimana kabar lo?" tanya gadis itu.
"baik" Vano melirik ke arah belakang gadis itu. Ia mencari orang yang mungkin datang bersama dengannya.
"lo sendiri?" tanya Vano kemudian, karena tak melihat ada sosok lain di sana.
"seperti yang lo lihat" gadis itu mendudukkan bokongnya di kursi samping brankar Vano.
"tumben nemuin gue sendiri, ada apa?" tanya Vano.
"gue mau tanya sesuatu sama lo" Vano mengangguk mengijinkan gadis di hadapannya untuk melanjutkan kalimatnya.
"tentang Syasya, lo masih sayang sama dia?" tubuh Vano menegang untuk sesaat. Kenapa gadis ini bertanya tentang kekasihnya?
"g..gue gak tahu" sayang, Vano tentu saja masih sayang sama Syasya. Namun ia terlalu malu untuk mengungkapkannya mengingat bagaimana ia menyakiti gadisnya itu.
"gue saranin lo putus sama dia kalau lo cuma mau mainin dia, Van!" emosinya memuncak mendapat jawaban yang tidak ia inginkan dari Vano.
"lo siapa emangnya ngatur-ngatur gue?!" Vano menaikan nada bicaranya. Ia tak akan pernah putus dengan Syasya.
"terus apa alasan lo selama ini nyakitin Syasya?" Ya, gadis itu Lita. Ia mendapat kabar dari Hans tentang keadaan Vano.
Detak jantung Vano menjadi cepat saat pertanyaan itu terlontar dari bibir Lita.
"lo jawab jujur, dan gue bakal kasih tau sesuatu tentang Syasya" lanjut Lita mutlak.
Vano menengadah penasaran.
"Syasya kenapa?" Vano mulai panik.
"jawab dulu pertanyaan gue" wajah Lita terlihat tak bersahabat, jika bukan karena sahabatnya ia enggan bahkan hanya untuk bertemu dengan lelaki ini.
"atau harus gue yang jelasin alasan lo nyakitin Syasya?" kesal Lita karena pria di hadapannya tak kunjung membuka suaranya.
"oke. Yang pertama, Bianca mantan lo" saat Vano hendak menyelanya, Lita langsung melanjutkan kalimatnya.
"yang kedua, lo tahu bang Tristan abangnya Syasya, dan yang ketiga, bang Tristan mantannya Bianca. Van, tolong jangan bilang ke gue kalau lo nyakitin Syasya cuma buat balas dendam sama bang Tristan?" Vano membulatkan matanya. Bagaimana Lita bisa tahu semuanya?
"cuma lo bilang?! lo gak bakal tahu rasanya dikhianati pacar lo sendiri bahkan dengan mata kepala gue sendiri gue lihat mereka lakuin hubungan intim. Dari mana 'cuma' yang lo bilang itu?!!!" emosi Vano memuncak. Siapapun tak akan mengerti perasaannya.
Lita pun tercengang mendengar kenyataan itu. Apakah benar Tristan melakukan hal seperti itu? pikirnya. Namun untuk saat ini ia harus tenang, ia akan menanyakannya nanti pada Tristan.
"lo udah dewasa, Van. Yang lakuin hal itu Tristan bukan Syasya. Mikir bego, walaupun Tristan abangnya Syasya, Syasya gak pernah bilang apa-apa soal lu sama Tristan, dia nyimpen semuanya rapat-rapat sendirian. Lu gak mikir gimana hancurnya hati dia saat orang yang dia sayang malah nyakitin dia secara fisik dan mental?! Gila lu, kalo mau Tristan sakit ya sama orangnya langsung aja gak usah bawa-bawa orang yang gak tahu apa-apa, apalagi pakai kedok pacar!!" Lita sudah kehabisan kesabaran menghadapi Vano. Tampangnya memang tampan, ia tak memungkiri itu. Tapi bagaimana otaknya bisa sebodoh itu.
Vano memandang Lita dengan pandangan kosong. Ia sadar, apa yang sudah dia lakukan salah. Syasya gak salah, tapi kenapa harus gadis itu yang menanggung semuanya?
Hati Vano mencelos mendengan penuturan Lita. Syasya gak ada? Apa maksud Lita? Setelah sadar, Vano segera menggapai benda persegi di atas nakas dan segera menghubungi nomor Syasya berkali-kali.
Namun, lagi-lagi hanya suara operator yang menjawabnya. Matanya mulai memerah, pikirannya kalut. Butiran bening itu dengan kurang ajarnya mengalir membasahi pipi Vano. Isakan kecil keluar dari bibirnya.
Tanpa berpikir panjang, Vano mencabut jarum infus di tangannya. Ia berlari menyusuri koridor rumah sakit berharap segera menemukan pintu keluar. Ia tak memperdulikan penampilannya bahkan saat ini baju rumah sakit masih melekat di tubuhnya.
Setelah berlari lumayan jauh, akhirnya Vano tiba di luar rumah sakit, ia terus berlari menuju rumah Syasya. Tak ada alas yang menjadi pelindung kakinya di hari yang panas ini.
Ia tak memperdulikan rasa perih dan panas di kakinya, yang ia pikirkan saat ini adalah bertemu Syasya. Air mata tak kunjung berhenti mengalir membasahi pipinya. Ia menyesal, sangat.
"Van! Naik!" Hans mendapatkan kabar bahwa Vano tak ada di ruang rawatnya. Maka dari itu sekarang ia ada di sini, ia tahu tujuan Vano sekarang.
Tanpa berucap lebih panjang Vano segera naik ke motor yang di tumpangi Hans. Hans segera melajukan motornya membelah keramaian ibu kota.
Bangunan dengan sebuah taman di depannya kini sudah terlihat oleh Vano. Vano segera turun. Gerbangnya terkunci, Vano berusaha membuka kunci gerbang itu.
"Sya, Syasya keluar Sya!!" Tangisan Vano pecah. Tak ada sautan dari dalam rumah Syasya. Rumah ini terlalu sepi untuk ukuran orang yang berpenghuni.
Sesaat sebelum tubuh Vano luruh, Hans memegangi tubuhnya.
"Van, baiknya lo pulang dulu. Lo harus pulih dulu sebelum nemuin Syasya"
"engga, Hans. Gue mau minta maaf sama Syasya" Hans memang tak tahu apa masalah Vano dengan Syasya, namun untuk saat ini ia tak akan bertanya. Biarlah keadaan menjadi lebih membaik dulu, baru ia akan bertanya.
Akhirnya dengan segala bujukan dari Hans, Vano setuju untuk kembali ke rumah sakit. Walaupun ia sudah sembuh, tapi ia masih memerlukan perawatan agar kondisinya pulih seperti semula.
"sayang, jangan di ulangi. Bunda khawatir" Bunda Vano menggenggam tangan Vano. Netranya memancarkan kekhawatiran pada anak semata wayangnya.
"Iya bunda. Vano minta maaf" Bundanya tersenyum mendapat jawaban dari Vano.
"ya sudah, sekarang kamu istirahat ya" Vano menganggukkan kepalanya sebelum ia merebahkan tubuhnya dan berusaha untuk memejamkan matanya.
Sebelumnya ia sudah mengirim pesan pada seseorang untuk memberitahunya keadaan Syasya. Namun balasan tak kunjung Vano dapatkan.
Akhirnya Vano hanya menghela nafas kasar. Pikirannya buntu saat ini, dari mana ia harus memulai mencari Syasya? Dan juga dia masih tidak mengerti apa yang dikatakan Lita tentan Syasya yang sudah pergi.
Namun hatinya mengatakan bahwa Syasya masih ada di suatu tempat.
Sementara di sana, Syasya masih dengan keadaan yang mengenaskan. Tak ada lagi senyum manis yang menghias bibirnya. Tak ada tanda-tanda bahwa dia akan bangun.
Bagaimana bisa semesta mempermainkannya seperti ini? Bahkan disaat usianya masih semuda ini, dia dipaksa untuk menjadi dewasa oleh keadaan. Tak hanya fisiknya yang terluka, mentalnya juga sakit saat ini. Biarlah kini juga semesta yang menentukan apakah ia akan bangun atau tidak.