
Benar saja, setelah mereka tiba di rumah Syasya dan Vano, istrinya itu segera masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apapun. Vano sangat tahu apa penyebabnya. Itu karena Tristan membicarakan masa lalu mereka.
“Gue pulang dulu ya. Selamat membujuk istri lo yang batu itu,” ucap Tristan puas. Dia sangat menikmati hal ini. Menggoda Vano sudah menjadi kebiasaan baginya.
Ini bukan kali pertama Tristan melakukan hal itu. “Sialan lo Bang! Tanggung jawab kalau misal Syasya gak mau baikan sama gue ya!” Vano berteriak, namun sia-sia karena mobil Tristan sudah melaju dengan cepat.
Sementara kedua anaknya hanya melongo menyaksikan drama itu. “Yah, Mami kenapa?” tanya Aruna polos.
“Enggak kok. Mami cuma lagi gak mood aja. Nanti juga baik lagi. Kalian mandi terus istirahat ya. Ayah mau coba bujuk Mami dulu.” Vano mengelus kepala kedua anaknya sebelum kemudian beranjak dari sana untuk menemui istirnya.
“Kayanya Mami ngambek sama Ayah,” ucap Arjuna yang kemudian diangguki oleh Aruna.
Kedua anak itu masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan. Entahlah itu sudah menjadi kebiasaan bagi mereka.
Sementara Vano berusaha mengejar Syasya yang berjalan dengan sangat cepat menuju kamarnya.
“Sayang, tunggu – “ Belum sempat perkataannya usai, pintu kamar ditutup dengan kencang oleh Syasya. Beruntunglah pintu itu tak mengenai batang hidung Vano.
Vano memejamkan matanya dengan erat karena terkejut. “Astaga, untung gak kena idung,” ucapnya.
Dia mundur sedikit sebelum kemudian tangannya terangkat untuk membuka pintu kamarnya. Semarah-marahnya Syasya, gadis itu tak pernah membiarkan suaminya tidur di luar atau mengunci pintu kamar.
Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Bila yang sedang membuka pakaiannya. Hal itu membuat fokus Vano sedikit teralihkan. Nafsunya suka tak terbendung melihat Syasya yang seperti ini.
“Yang, kamu gak lagi goda aku, kan?” tanya Vano menelan ludahnya dengan susah payah.
Syasya berbalik dan menjawab pertanyaan Vano dengan ketus. “Siapa yang goda?! Aku mau mandi,” ketusnya yang membuat Vano menciut.
Syasya segera pergi menuju kamar mandi. Sementara wajah Vano sudah pucat dengan pandangan yang kecewa.
Dia melihat ke bagian bawah tubuhnya. “Tapi ‘dia’ udah berdiri loh Yang,” lirihnya. Ya, nafsunya sudah sangat menggebu tapi Syasya malah meninggalkannya.
Dengan kesal Vano berbaring di ranjangnya. Dia menutup setengah tubuhnya dengan selimut. Dia merasa sangat kesal dengan istrinya.
Tak menunggu lama, Syasya datang dengan badan yang hanya dililit handuk. Jangan lupakan rambutnya yang basah.
Gadis itu sedikit heran melihat suaminya yang berbaring di ranjang dengan wajah yang terlihat kesal.
“Kenapa?” tanya Syasya dingin. Dia masih marah dengan suaminya itu. Vano mengalihkan wajahnya ke arah lain dan tak menjawab pertanyaan istrinya.
Syasya mengerutkan keningnya heran. “Kamu marah? Bukannya harusnya aku yang marah?” ucap Syasya sambil mengenakan baju.
Vano memandang Syasya kembali dengan kesal. “Kamu yang bikin aku kaya gini ya! Aku tersiksa banget!” kesal Vano. Dia memajukan bibirnya saking kesalnya.
“Kenapa aku? Dari tadi aku gak ngapa-ngapain,” bela Syasya. Memangnya apa yang dia perbuat sampai membuat Vano tersiksa.
“Kamu sengaja kan buka baju di depan aku?” tanya Vano. Setelah mendengar ucapan Vano itu, akhirnya Syasya mengerti apa yang membuat suaminya itu marah.
“Ohh,” jawabnya singkat. Vano membelalakan matanya tak menyangkan Syasya hanya akan meresponnya seperti itu saja.
“Ohh?” Vano bertanya sambil bengkit dari tidurnya. Dia menyibak selimut hingga Syasya bisa melihat ada yang berdiri di balik celananya.
Syasya tertawa lepas melihat hal itu. Sementara Vano yang kesal akhirnya keluar dari kamarnya.
Syasya berhenti tertawa kemudian mengikuti Vano setelah dia selesai dengan pakaiannya.
“Tuh tadi ke belakang. Kenapa, Mi? Kayanya Ayah marah?” tanya bocah kecil itu.
Syasya tersenyum sambil mengelus kepala putranya itu. “Bukan apa-apa. Ayah ngambek karena gak Mami kasih sesuatu,” jawabnya kemudia pergi dari sana.
Arjuna hanya mengangguk walaupun dia tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Maminya.
Ketemu. Vano sedang duduk di tepi kolam. Kakinya dia gerak-gerakan dengan pandangan lurus ke depan.
“Maaf, aku gak niat bikin kamu kaya gitu,” kekeh Syasya. Dia masih merasa geli dengan hal itu.
Vano tak menjawab. Dia hanya diam tanpa mempedulikan istrinya. “Sayang,” rengek Syasya. Dia bergelayut manja di lengan suaminya.
“Sya diem ah. Dia baru aja ‘tidur’ jangan dibikin bangun lagi,” ucap Vano sambil melepaskan tangan Syasya dari lengannya.
Syasya terdiam. “Kok aku mulu sih yang disalahin. Lagian suruh siapa baperan?”
Vano seketika memandang Syasya. “Kok malah jadi kamu yang marah? Kan tadi aku yang lagi marah?”
“Kamu juga tadi tiba-tiba marah, kan aku duluan yang marah,” ucap Syasya tak mau kalah.
Vano menghela nafasnya. Sebagai seorang pria dia memang sudah harusnya mengalah. Itulah kodratnya.
“Oke, aku minta maaf soal tadi. Lagian aku cuma jawab omongan Bang Tristan aja. Aku juga kan ga bilang namanya,” bela Vano.
“Gak usah pembelaan.” Vano bungkam. Salah lagi, tak apa dia sudah sering berada di posisi ini.
“Maaf,” cicitnya. Syasya menghela nafas. Dia memang suka kesal jika suaminya itu mengingat atau mengungkit masa lalu.
Syasya tahu masa lalu itu hanya ada untuk dikenang, namun sayangnya apa yang menjadi masa lalunya itu tak layak untuk di kenang kecuali pertemuannya dengan Vano.
Semua hal menyakitkan terjadi di masa lalunya, itulah mengapa dia sangat membenci masa lalunya itu terutama masa lalu Vano.
“Hhh, udah ah jangan dibahas. Aku maafin kamu,” ucap Syasya pada akhirnya. “Gak gitu, jangan maafin-maafin tapi hati kamu gak ikhlas. Aku gak mau,” rengek Vano.
“Ya terus aku harus gimana?” Syasya tak habis pikir dengan suaminya itu.
“Yang ikhlas dulu,” cicitnya. “Oke aku bener-bener. Tapi jangan lagi kamu omongin masa lalu. Aku gak suka,” ucap Syasya.
“Iya aku janji. Kamu juga harus minta maaf loh sama aku.” Vano mengingatkan Syasya tentang kenapa dia marah tadi.
“Iya aku minta maaf. Maaf ya,” ucap Syasya dengan lembut. Tapi tangannya kini sudah hinggap di antara kedua paha Vano dan mengelusnya dengan pelan.
Hal itu membuat Vano terbelalak. Sebelum kemarahan suaminya itu memuncak, Syasya segera berlari dari sana menuju kamar.
“Sya!!!” teriaknya. “Dia baru aja ‘tidur’,” lirihnya. Kemudian dia berusaha mengejar istrinya.
Arjuna masih berada di ruang keluarga. “Kenapa mereka kejar-kejaran gitu sih?” tanyanya heran.
Awalnya dia melihat Maminya yang berlari ke arah kamar dan kini Ayahnya juga ikut berlari. Bocah kecil itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Dasar, udah pada tua tapi tetap aja kaya anak kecil,” ucapnya sambil tertawa.