
Nafas Syasya kembali tidak beraturan ditambang dengan isakannya yang semakin menjadi.
"Sya gak apa-apa, tenang oke. Tarik nafas kamu dalam-dalam, keluarin" Vano memberikan instruksi pada Syasya.
Ya, pria itu mendengar semua yang Syasya katakan. Dan di sinilah dia sekarang. Memeluk tubuh Syasya dengan kuat. Tangannya spontan mengusap bagian belakang kepala Syasya berharap itu akan memberikan ketenangan pada gadis ini.
Syasya berusaha melepaskan dekapan Vano pada tubuhnya. Ia takut Vano menjadi pusat perhatian karenanya.
"gak usah pikirin aku, gak usah lihat gimana reaksi orang. Cuma ada aku sama kamu di seni" Vano meneteskan air matanya. Dia yang membuat Syasya menjadi seperti ini, dan bukankah menjadi tanggungjawabnya menemani penyembuhan Syasya?
Perlahan Syasya mulai tenang, mungkin karena lelah atau... entahlah. Dia mulai bisa mengatur nafasnya. Perlahan Syasya mendongak menatap Vano. Vano yang ditatap berusaha menampilkan senyumnya selebar mungkin walau kini hatinya terasa berdenyut sakit melihat kondisi Syasya.
"ehemm kayanya kita pergi duluan deh. Bye" Rian menyenggol lengan Hans untuk pergi dari sana. Untungnya Hans segera mengerti dan mereka berdua beranjak dari sana.
Kini hanya menyisakan Vano dan Syasya di sana. Vano kembali mengeratkan pelukannya pada Syasya. Dia memeluk dengan erat seakan tak ingin kehilangan gadisnya lagi.
"maaf, maafin aku Sya" Syasya yang mendengar kata maaf dari Vano diiringi isak tangis, mulai membalas pelukan Vano. Kini giliran gadis itu yang menenangkan Vano.
"kamu boleh benci sama aku, kamu boleh marahin aku. Dan kalau kamu mau kita akhirin hubungan kita, aku ga apa-apa" Kini bukan hanya sebuah isakan yang keluar dari bibir Vano. Namun tangisan kencang yang menyiratkan keputus asaan.
"engga, Van. Aku yang minta maaf karena cuma ingat kenangan buruk kita. Aku sama sekali gak ingat kenangan manis yang kita lewati bersama. Aku minta maaf" Syasya juga menumpahkan air matanya. Sepertinya traumanya hilang, buktinya dia sudah bisa kembali memeluk pria yang sangat ia cintai ini.
Syasya menyerah, dia ingin memberikan hatinya kepada Vano lagi. Tak peduli seberapa besar pria ini menyakitinya, dia hanya ingin pria ini bersamanya.
"a...aku gak mau p..putus" akhirnya kalimat itu keluar dari bibir Syasya. Tunggu, apakah mereka masih pacaran setelah berpisah satu tahun?
"terimakasih, Sya. Terimakasih udah kasih aku kesempatan. Aku gak bakal lakuin kesalahan lagi" lagi-lagi air mata Vano tumpah. Kali ini bukan air mata sedih, tapi air mata bahagia.
***
"Sya?" tatapan heran Lita berikan pada Syasya dan seorang pria di sampingnya. Sementara yang dipanggil hanya tersenyum.
"kalian?" Lita benar-benar bingung dengan semua ini.
"hai guy....s" Dina datang dari arah belakang Lita. Suara sapaannya semakin mengecil saat netranya melihat Syasya dan Vano bersama. Ya, pria itu Vano.
"kalian kok barengan sih?!" tanya Dina melanjutkan pertanyaan yang hendak ditanyakan Lita. Lita sendiri hanya ikut mengangguk-angguk.
"iya kita bareng" Syasya tersenyum lebar. Dia segera menggandeng tangan pria di sampingnya. Sebenarnya Syasya juga terkejut dengan dirinya sendiri, bukannya tadi pagi dia masih bergetar melihat wajah Vano? Namun lihatlah saat ini, dirinya bahkan dengan leluasa menggandeng tangan Vano.
"ya udah ayo. Katanya mau ke caffe depan" Syasya menarik Vano untuk berjalan ke tempat tujuannya. Sementara Lita dan Dina masih di tempatnya dengan mulut yang terbuka.
"kalian ikut gak?!" teriak Syasya yang jaraknya sudah lumayan jauh dari kedua sahabatnya.
"ikut!!" seru keduanya segera berlari untuk menyusul dua sejoli itu.
***
"gue gak mau tahu, pokonya jelasin sekarang!" desak Lita saat mereka tengah menikmati makanannya.
"iya nanti, makan dulu" Syasya dengan santai menyantap makanannya. Vano sibuk memperhatikan Syasya, sesekali mengusap bibir Syasya yang belepotan.
"apa lagi ini?" Lita dan Dina semakin penasaran dengan keduanya.
Lita dan Dina mendengarkan dengan seksama cerita yang mengalir dari bibir Syasya. Bahkan saking seriusnya, mereka tak sadar jika makanannya kini sudah habis dilahap Syasya.
"iya, jadi gitu" ucap Syasya mengakhiri sesi ceritanya. Vano tersenyum manis melihat Syasya yang serius bercerita. Dia tak menyangka bisa melihat senyum Syasya lagi.
***
Kini Syasya tengah berada di depan rumahnya. Dia diantar Vano pulang setelah bermain dengan kedua sahabatnya.
"mami! Syasya pulang" teriaknya dari luar.
"gak boleh teriak-teriak, Sya" Vano mengingatkan Syasya.
" kenapa teriak-teriak sayang? mami dengar kok" mami Syasya muncul dari kamarnya. Mungkin baru bangun tidur atau nonton?
"eh, Vano ya?" tanya mami Syasya.
"iya tante, apa kabar?" Vano mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"baik sayang. Lama ya gak ketemu" tanpa diduga, mami Syasya memeluk Vano. Syasya yang melihat itu hanya tersenyum sementara Syasya tertawa meledek.
"ya udah yu masuk dulu" tawar mami Syasya.
"makasih tante, tapi kayanya saya mau pulang saja, hari juga sudah sore" mami Syasya mengangguk.
"ya sudah. Terimakasih udah anterin anak tante ya. Lain kali main-main ke sini"
Vano mengangguk dan segera meninggalkan rumah Syasya.
Vano tiba di rumahnya dengan baju yang sedikit basah. Pasalnya, di jalan tadi hujan datang tiba-tiba.
Dia ingin berhenti, namun tanggung karena jarak rumahnya sudah dekat.
"Vano! Kenaoa hujan-hujanan?" bunda Vano menghampiri Vano dengan wajah yang terlihat khawatir.
"dikit bunda. Tadi mau berhenti tapi tanggung" Bunda Vano diam membeku mendengara anaknya menjawab pertanyaannya. Rasanya seperti Vano-nya yang dulu telah kembali.
"ka... kamu gak apa-apa?"
"engga bunda. Vano ke kamar dulu mau mandi" Tanpa menunggu jawaban bundanya, Vano segera naik menuju kamarnya. Objek pertama yang dia lihat adalah potret Syasya dengan bingkai putih yang terletak di atas nakas di samping ranjangnya.
Benda itu masih di tempat yang sama. Vano tak pernah memindahkannya bahkan saat dia menyakiti Syasya dulu.
Perlahan tangannya terulur mengambil bingkai itu. Senyum getir terlihat jelas di wajah Vano. Tangannya mengelus potret Syasya. Akhirnya setelah sekian lama, dia bisa kembali dengan Syasya.
"maafkan aku Sya, dan terimakasih udah kasih aku kesempatan" lagi-lagi matanya berkaca-kaca. Entah mengapa dia selalu saja merasa bersalah jika melihat wajah Syasya. Dia sudah memberikan luka yang teramat dalam pada gadisnya itu, namun lagi dan lagi gadis itu memaafkannya.
Vano merogoh benda persegi di dalam saku celananya dan mengetik sesuatu di sana.
"Sya, aku udah sampai" Vano mengirimkan pesan itu.
"Syukurlah, ya udah kamu istirahat ya" balasan dari Syasya cukup untuk membuat senyum di bibir Vano mengembang.