Complicated Love

Complicated Love
S2 - Kopi Vs Kerja



Hari setelah mereka kejar-kejaran sudah berakhir dan pada akhirnya Vano tetap menyelesaikannya sendiri.


Namun setelah itu terjadi Syasya segera menghampirinya dan meminta maaf. Hingga hari ini mereka sudah kembali bersama seperti biasa.


"Kak jangan lupa buku pelajarannya dicek lagi ya, jangan sampai guru kamu nanti telepon Mami suruh nganterin Mami buku kamu yang ketinggalan." Syasya memperingatkan Aruna.


Aruna mengangguk dan mulai mengecek tasnya kembali. "Kotak pensil sudah, buku pelajaran sudah, air minum sudah. Udah Mi, nggak ada yang ketinggalan." Aruna segera melapor pada Maminya setelah dia mengecek kembali tasnya.


"Abang udah beres-beresnya?" Gantian, Syasya bertanya pada Arjuna. "Udah Mi. Abang juga udah coba cek lagi semuanya."


"Oke bagus sekarang kita berangkat sebelum Ayah kalian kerja." Kedua anak mereka mengangguk dan mengikuti Syasya turun ke lantai bawah.


Di sana sudah ada Vano yang siap dengan tas kerjanya. Sebelumnya memang mereka sudah sarapan. "Cepat anak-anak nanti Ayah telat loh," ucap Vano.


"Ayah kan kerja di kantor Kakek. Gak apa-apa dong kalo telat," jawab Arjuna.


"Eh gak boleh gitu, walaupun Ayah kerja di kantor Kakek, tetap saja, di kantor Ayah cuma sebagai bawahan Kakek jadi gak boleh kalau telat-telat gitu. Jangan dibiasain ngelunjak karena ada saudara atau orang tua di dalam kantor. Kita harus belajar bertanggungjawab oke."


Vano mengusap kepala Arjuna dengan sayang. Arjuna mengangguk paham dengan yang dikatakan Ayahnya.


"Sekarang kita berangkat." Arjuna, Aruna menyalami Syasya sebelum mereka berangkat. Terakhir adalah Vano yang memeluk istrinya dengan erat.


"Aku berangkat dulu ya," ucap Vano seraya mengelus kepala istrinya sebelum kemudian dia mengecup singkat kening Syasya.


"Hati-hati di jalan, jangan lupa anterin mereka dulu." Syasya mencoba memperingatkan suaminya.


"Iya aku pasti anterin mereka kok." Syasya berkata seperti itu bukannya apa-apa tapi pernah beberapa kali, mungkin karena banyak pikiran Vano lupa mengantarkan kedua anaknya ke sekolah. Pria itu malah membawa kedua anaknya ke kantornya sehingga dia harus putar balik arah untuk mengantarkan kembali kedua anaknya ke sekolah.


Kedua bocah itu memasuki mobil terlebih dahulu. Mereka berdua duduk di belakang dan Vano harus menyetir sendirian di depan.


"Kenapa Abang gak mau duduk di depan? Kan Ayah gak ada temennya," tanya Vano.


Sebenarnya pertanyaan ini bukan pertanyaan yang pertama kali. Dia sudah pernah beberapa kali bertanya kepada putranya namun jawabannya masih sama.


"Kalau Abang duduk di depan nanti Aruna sama siapa? Kan kasihan sendirian di belakang, Ayah. Kalau Ayah di depan sendirian kan nggak apa-apa kan udah dewasa," jawab Arjuna.


"Atau Kakak aja yang di depan, biarin Abang di belakang sendirian," godo Ayahnya.


"Ih Ayah jahat banget," protes Arjuna. Vano terkekeh dan segera melajukan mobilnya sebelum dia benar-benar terlambat pergi ke kantornya.


Jalanan pagi terlihat sangat ramai karena banyak orang yang pergi ke kantor dan juga mengantarkan putra-putri mereka ke sekolah sama seperti yang dilakukan oleh Vano saat ini.


"Semoga di depan gak macet," ucap Aruna.


"Emang kenapa kalau macet, Kak?" tanya Vano. "Nggak apa-apa sih cuma nanti telat ke sekolah aja."


"Kalau Kakak sih gak apa-apa, tapi emangnya Ayah mau dipanggil guru ke sekolah cuma karena kita telat? Bawa-bawa Mami lagi, kalian gak bakal malu?" goda Aruna.


Vano tidak bisa menjawab pertanyaan Aruna karena benar apa yang dikatakan putrinya itu. Tentu saja dia akan malu jika dipanggil ke sekolah karena putra dan putri nya terlambat masuk.


"Ya udah deh Ayah juga berdoa semoga gak macet." Kedua anaknya itu terkekeh lebih ke tertawa melihat tingkah Ayahnya.


Tak selang berapa lama mereka sudah tiba di sekolah Arjuna dan Aruna. Beruntunglah sepertinya do'a mereka terkabul karena di jalan sangat lancar walaupun ramai.


"Kita sekolah dulu ya Ayah," ucap Arjuna sambil bersalaman dengan Ayahnya begitupun Aruna.


"Iya, yang rajin sekolahnya, jangan bertengkar, jangan bobo di kelas, hormati guru juga, oke?" Aruna dan Arjuna mengangguk mendengar nasihat Vano.


"Ayah gak harus anterin kalian sampai ke kelas, kan?" tanya Vano. "Gak usah Ayah. Kita udah besar bisa jalan ke kelas sendiri." Vano mengangguk. "Okelah kalau gitu Ayah ke kantor dulu. Kalian pulang seperti biasa, kan?"


"Hari ini iya Yah jam 12.00 kita udah pulang," jawab Arjuna.


Setelah mendapatkan jawaban dari kedua anaknya dan kedua anaknya itu telah memasuki bangunan sekolah, Vano melajukan mobilnya menuju kantornya.


Sesampainya di sana belum terlalu banyak orang karena memang sepertinya dia datang terlalu cepat. "Astaga kenapa masih sepi?" tanya Vano saat memasuki ruangan-ruangan yang ada di sana.


Namun meskipun dia mendumel, dia tetap berjalan ke arah ruangannya dan baiknya sekertaris pribadinya sudah ada di tempat.


"Hai Net, apanya jadwal saya hari ini?" tanya Vano pada Neta, sekertaris pribadinya. "Untuk hari ini ada meeting dengan pemegang saham dan juga tanda tangan kontrak dengan perusahaan yang kemarin dibicarakan." Neta membaca jadwal Vano hari ini.


Vano mengangguk. "Oke kalau begitu kosongkan jadwal saya jam 12.00 siang sampai jam 01.00 karena ada hal yang harus saya lakukan," perintahnya.


Neta mengangguk dan menulis catatan itu di buku catatannya. Setelah selesai berinteraksi dengan sekretarisnya Vano memasuki ruangan ya dia mulai membuka komputernya dan menyelesaikan pekerjaan yang dia punya.


Seorang office boy datang mengantarkan dia secangkir kopi. "Ini kopinya Pak," ucapnya sambil meletakkan cangkir itu di atas meja.


Vano mengangguk. "Oke makasih."


Tak banyak bicara Vano kembali melanjutkan pekerjaannya sementara office boy itu kembali ke luar dan juga melakukan pekerjaan yang lain.


Vano meneguk sedikit kopi yang dibawakan oleh office boy itu. "Sepertinya aku tidak boleh terlalu banyak minum kopi, perutku terasa sangat kembung," ucapnya.


Namun memang Vano akui bahwa dia tak bisa terlalu jauh dengan kopi karena sangat candu baginya. Awalnya Vano mencoba kopi hanya karena rekomendasi temannya dulu ketika sekolah.


Katanya jika tak tidak ingin mengantuk bisa meminum kopi jadi Vano melakukan itu ketika dia ada tugas yang banyak yang harus diselesaikan hari itu juga.


Dan ternyata hal itu sampai sekarang dia lakukan. Dia selalu meminum kopi ketika dia memiliki pekerjaan yang berat dan dengan deadline yang mepet. Kebiasaan buruknya itu sebenarnya sangat ingin Vano hentikan tapi belum bisa.


Mungkin dia akan berhenti perlahan. "Nanti apa yang harus aku lakukan jika aku tidak minum kopi?" tanyanya. Maksudnya bagaimana jika dia menghadapi pekerjaan banyak yang harus diselesaikan secepat mungkin? Bukankah jika tidak meminum kopi dia kan mengantuk? Lalu jika pekerjaan itu tidak selesai bagaimana nasib keluarganya nanti jika dia tidak mendapatkan uang dari hasil kerjanya?