
Mereka makan dengan tenang. Tak ada satu suarapun kecuali denting sendok yang beradu dengan piring.
Selesai dengan makanan mereka, Syasya segera membereskannya.
"Bang Bian belum pulang, Yah?" tanya Arjuna.
"Belum Sayang. Abang pulangnya nanti sore," jawab Vano.
"Ayah mau jemput Abang?" kali ini Aruna yang bertanya.
"Iya dong.
"Kakak mau ikut ya," ucap Aruna. "Boleh. Abang juga mau ikut?" tanya Vano pada Arjuna.
"Gak tau Yah. Abang masih ngantuk, mau bobo lagi. Nanti kalau udah bangun Abang ikut, tapi kalau belum Abang gak ikut." Arjuna tersenyum setelahnya.
"Rupanya selain main game, kamu juga suka tidur ya," goda Vano.
Arjuna terkekeh menanggapi gurauan Vano.
Hari mulai berlalu dan jam menunjukan pukul setengah empat sore. Itu artinya ini adalah waktu untuk menjemput Bian.
"Kak, jadi ikut jemput Abang gak?" teriak Vano dari bawah. Sementara putrinya itu sedang di kamarnya sibuk dengan buku-bukunya yang katanya tugas buat hari besok.
"Jadi Yah. Tunggu bentar." Aruna membereskan bukunya dan beranjak dari tempat belajarnya.
Dia mengambil jaket berwarna hitam dari lemarinya sebelum kemudian dia turun menghampiri Ayahnya.
"Abang kamu gak jadi ikut?" tanya Vano saat melihat putrinya sudah berada di hadapannya dan sudah siap dengan jaket kesayangannya.
"Abang masih tidur. Jadi kayanya gak ikut," jawab Aruna.
Vano mengangguk. "Ya udah ayo kita berangkat. Takutnya telat jemput Abang."
Vano beralih ke Syasya yang juga ada di sana. "Aku berangkat dulu ya," pamit Vano pada istrinya.
Syasya mengangguk. "Hati-hati di jalan," ucap Syasya yang kemudian dianggukki oleh Vano.
"Kamu siap-siap ya. Malam ini kita makan di luar," ucap Vano.
Syasya sedikit terkejut dengan ucapan Vano, namun kemudian dia mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.
Vano berangkat dari sana bersama dengan Aruna, putrinya.
"Yah, kenapa Abang pulangnya sore?" tanya Aruna ketika mereka sudah berada dalam perjalanan.
"Iya, kan Abang udah besar. Makin tinggi jenjang pendidikan, biasanya akan makin banyak mata pelajarannya. Jadi Abang pulangnya sore," jelas Vano.
Aruna mengangguk. Sepertinya dia juga akan menjadi orang sibuk jika sudah dewasa nanti. Itulah yang ada dalam pikirannya.
Mereka tiba di sekolah Bian. Rupanya Bian sudah menunggu di halte depan sekolahnya.
"Bang, udah lama nunggu?" Bian mengalihkan pandangannya yang semula fokus pada layar ponselnya, sekarang dia menatap orang yang ada dalam mobil.
Bian bangkit dan mendekati mobil Ayahnya. "Belum Yah. Baru aja duduk," jawabnya. Dia segera memasuki mobil. Tak jarang teman-temannya juga memeperhatikan pria tampan itu.
"Loh kayanya kamu punya banyak fans bang," goda Ayahnya.
"Iya nih. Abang terkenal ya di sekolahnya." Aruna juga menimpali ucapan Ayahnya.
Bian terlonjak saat melihat ada makhluk kecil di jok belakang mobilnya.
"Loh, kamu kok ikut Kak?" tanya Bian yang baru menyadari keberadaan Aruna.
"Ih Abang. Kakak dari tadi juga ada. Kok kaya liat setan gitu sih!" kesal Aruna.
"Gak gitu Kak. Iya Abang minta maaf. Kirain kamu gak ikut, ya Abang kaget lah." Bian berusaha membujuk adiknya.
"Abang pinter banget ngalihin pembicaraan ya. Itu loh bang banyak banget cewe cantik yang liatin Abang." Rupanya Aruna melanjutkan menggoda Abangnya.
Sementara Vano kembali fokus dan mulai melajukan mobilnya.
"Iya loh itu tuh liat." Aruna menolehkan kepalanya ke belakang sambil menunjuk gerombolan wanita yang terus melihat ke arah mobil mereka.
"Kamu ini kecil-kecil udah berani ya godain Abang?" Karena merasa gemas, Bian membalikan badannya dan agak mencondongkannya.
Tangannya mulai menggelitik Aruna. Aruna yang mendapatkan serangan mendadak itu kegelian dan tertawa terbahak.
"Ahahahhaha Abang geli. Ayah, perut Kakak geli." Gadis kecil itu berusaha mengadu pada Ayahnya.
"Udah ah. Kalian ini ada-ada aja," kekeh Vano.
Bian berhenti dengan aksinya. Dia mengatur nafasnya karena kelelahan begitu juga dengan Aruna yang sudah berbaring di kursi belakang.
"Aduh cape banget," ucap Aruna.
"Lagian kamu yang cari gara-gara." Bian mencoba mencari pembelaan.
Suasana hening setelag gurauan mereka usai.
"Pulang nanti langsung mandi ya. Kita main ke luar sekalian makan," ucao Vano.
"Mau ke mana Yah?" tanya Bian.
"Ke mana aja. Kita main-main malam ini," jawab Vano.
Bian terdiam untuk sesaat. Semua yang dia rasakan saat ini begitu bertubi.
Rasa bahagianya sudah mencapai batas. Dia terharu dan pertahanannya runtuh.
Bian meneteskan air matanya.
"Loh kok nangis. Bang, kamu gak apa-apa kan? Atau gak mau main? Mau makan di rumah aja?" tanya Vano bertubi karena dian merasa panik.
Namun Bian menggelengkan kepalanya.
Vano terpaksa menghentikan mobilnya karena merasa khawatir. Sementara Aruna diam memperhatkan Ayah dan Abangnya.
Dia masih merasa bingung dan mencerna apa yang terjadi.
"Kenapa berhenti, Yah?" tanya Bian bingung sambil mengusap air mata yang sudah menetes di pipinya.
"Ayah mau tau dulu kenapa kamu nangis? Kalau kamu gak mau main gak apa-apa. Kita makan di rumah aja." Vano mencoba kembali mempertanyakan hal itu.
Namun, lagi-lagi Bian menggeleng. "Bukan gak mau Yah. Bian cuma terharu. Beberapa hari lalu waktu Ayah gak sengaja nabrak Bian, Ayah bawa Bian buat jemput Aruna sana Arjuna. Bian ngerasa cemburu karena mereka bisa punya Ayah yang sayang sama mereka. Dijemput tiap hari. Tapi sekarang Bian ngerasain itu semua. Bian ngerasain gimana rasanya punya Ayah, Bian ngerasain dijemput di sekolah pakai mobil. Makasih Yah," jelasnya pada akhirnya.
Sepanjang bercerita, air matanya tak henti menetes. Begitu juga dengan Vano dan Arjuna yang juga ikut meneteskan air matanya.
Dengan sigap, Aruna memeluk Bian dari belakang. "Abang," rengeknya. Bian melirik gadis kecil itu sebelum kemudian mengelus lengan kecil yang melingkar di lehernya.
Bian tersenyum lembut. "Bian gak apa-apa, Yah. Cuma terharu dan ngerasa bersyukur aja."
Vano mengelus puncak kepala putranya. "Oke, sekarang kamu udah jadi bagian keluarga Ayah. Dan Ayah gak mau liat kamu nangis lagi."
Bian mengangguk. Vano melajukan mobilnya kembali dan Aruna sekarang sudah berada di depan. Tepatnya dalam pangkuan Bian.
"Kecil-kecil kok berat ya," goda Bian. Akhirnya dia punya adik kecil yang bisa dia jahili.
"Abang!! Aruna kecil kok, gak berat," protes gadis itu.
Bian terkekeh dan mengacak rambut adiknya sayang.
Dalam perjalanan mereka hanya bercanda satu sama lain hingga mereka tiba di rumah.
Mereka memasuki rumah bersama. Di sana sudah ada Syasya yang sepertinya sudah mandi. Namun, Vano tak bisa menemukan Arjuna.
"Abang belum bangun?" tanya Vano pada istrinya.
"Belum. Tadi udah di bangunin, tapi gak bangun. Kayanya dia ngantuk banget. Kalian siap-siap duluan aja."
Vano mengangguk dan Bian menyalami tangan Syasya. Syasya mengelus kepala purtanya itu.