Complicated Love

Complicated Love
Chapter 37



Setelah menelpon Tristan, Vano segera melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Tangan Syasya kini sudah melingkar di pinggang Vano.


Orang yang dilihat Syasya beberapa saat lalu adalah Brian. Namun kini pria itu kabur saat netranya bertatapan langsung dengan Syasya.


"kanan Van, cepat!" itulah kata-kata yang keluar dari mulut Syasya sedari tadi. Vano tetap tenang dan matanya masih fokus pada motor yang dikendarai pria itu.


Tak lama, tepat dari arah yang berlawanan terdapat mobil polisi lengkap dengan sirine yang terus berbunyi. Sontak Brian menghentikan laju motornya. Rasa takut perlahan menjalar di hatinya.


Tanpa perlawanan Brian diringkus oleh polisi-polisi itu yang salah satunya adalah ayahnya Dina. Kini Dina, Lita dan Tristan juga ada di sana.


Senyum tenang Syasya terlihat setelah pria yang dulu mencelakainya sudah dibawa oleh polisi.


Berbeda dengan Vano yang kini kedua alisnya mengerut. Brian memang sudah tertangkap, namun dia masih harus extra menjaga Syasya karena Bianca masih bebas berkeliaran di luar sana.


***


"di mana kalian ketemu dia?" saat ini Syasya dan Vano tengah diintrogasi oleh Tristan dan kedua sahabat Syasya.


"lampu merah dekat kampus" Vano menjawab dengan tenang. Hari memang sudah larut, namun Tristan menghalangi Vano untuk pulang karena ingin tahu kronologinya.


"terus?"


"ya kita kejar lah, gimana sih lu. Udah ah kasian pacar gue kecapean, biarin dia pulang!" Syasya beranjak dari duduknya dan menarik tangan Vano agar ikut berdiri.


"berani yah lo sekarang!" Tristan tak ingin kalah. Kini kedua tangannya sudah ada di pinggang.


"gue gak pernah takut sama lo. Ayo Van" Syasya berjalan meninggalkan ketiga orang di sana sebelum...


"heh mau kemana kalian? Pintu keluar ada di sana!" Tristan menunjuk arah pintu.


Bagaimana tidak, kini Syasya dengan santainya menarik tangan Vano ke arah kamarnya. Vano terkekeh melihat wajah bingung Syasya.


"eh iya hehe, lupa. Ayo Van, kamu harus pulang terus istirahat ya" Syasya terus saja berbicara dengan tangan Vano yang masih dia gandeng.


"gue pulang dulu ya" pamit Tristan pada semuanya.


***


"jadi ke pantai aja nih?" tanya Hans memastikan.


"Hans, sumpah ya lo dari kemarin nanya mulu dah. Kan tadi emang udah di bilang kalau besok kita jadinya ke pantai!!" Rian yang kesal pada Hans mewakili teman-temannya untuk berbicara.


Sementara anak-anak lain sibuk dengan makanannya sendiri tanpa mempedulikan pertanyaan Hans.


"jadi gue harus bawa apa aja ya?" mungkin otak Hans terlalu kritis hingga pertanyaan di luar nalar orang normal semua yang keluar dari mulutnya.


Semua orang sontak beranjak dari cafetaria, sementara Hans hanya melongo menyaksikan teman-temannya meninggalkannya.


"woy jawab!! Kok malah kabur semua sih?!" Hans berusaha mengejar mereka namun telat, semuanya telah pergi meninggalkan dirinya.


***


Semua yang mereka rencanakan kini terwujud. Mereka ada di sebuah pantai yang sangat indah dengan air yang jernih.


"Oke sebelum kita main ke pantai, kita bagi-bagi kamar dulu deh" ucap Tristan.


Yang lain hanya mengangguk menanggapinya.


"karena di sini kamarnya cuma ada tiga jadi buat cowok bagi dua ya, dan ceweknya bisa tidur satu kamar bertiga. Di dalam juga udah semua perlengkapannya" mereka mengangguk menerima instruksi dari Tristan.


Masing-masing dari mereka memasuki kamar yang sudah disediakan. Dan mulai membereskan barang-barang mereka.


"Sya lo bawa shampoo? gue lupa" tanya Dina.


"tenang, gue bawa" Syasya mengacungkan shampoo yang kini dipegangnya.


Pria ini terasa berbeda jika berpakaian seperti ini. Kaos polos putih dilapisi kemeja pantai dengan warna dominan biru muda. Jangan lupakan celana pendek berwarna putih yang melekat di kakinya.


Dan yang membuat penampilan Vano terlihat berbeda adalah kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya membuatnya terlihat menawan.


"Sya, hello. Kamu kenapa?" tanya Vano beberapa kali menyadarkan lamunan Syasya.


"hah? ah iya kenapa" gagap Syasya. Pacarnya ini terlihat sangat tampan pikirnya.


"ayo berangkat, kita ke pantai" Vano mengulurkan tangannya mengajak Syasya.


Entah mereka sadari atau tidak, kini keduanta sedang menjadi pusat perhatian teman-temannya.


"udah pacarannya!" sindir Hans. Pria itu berjalan melewati Vano dengan sedikit menyenggol bahu Vano.


Sementara Vano hanya terkekeh melihat kelakuan sahabatnya itu.


Hamparan pasir putih dihiasi kerang-kerang kecil di pesisir pantai menambah keindahan pemandangan di sini. Vano masih menggandeng tangan Syasya sebelum gadis itu melepaskan gandengannya dan berlari menjauhi Vano.


"Vano, berdiri di sana!" teriak Syasya pada Vano. Syasya senang sekali berada di sini. Gadis itu mengangkat kameranya siap untuk memotret Vano.


Vano yang memang tidak suka di foto hanya tersenyum canggung. Dia tak ingin mengecewakan Syasya dengan menolak permintaan gadis itu.


Setelah selesai dengan acara foto-fotonya mereka semua berkumpul untuk sekedar berbincang dan bersenda gurau.


"gue kira lo gak ikut bang" ucap Rian.


"gue harus ngintilin dia, takut ada apa-apa" jawab Tristan seadanya. Syasya yang mendengar ucapan abangnya langsung memutar bola matanya jengah.


"gue punya pacar. Ada yang jagain wle" Syasya menjulurkan lidahnya mengejek Tristan. Tristan yang melihat itu segera bangkit dan menghampiri Syasya.


Sementara gadis yang merasa punya tameng itu mengumpat di belakang Vano. Vano yang menyaksikan itu hanya terkekeh kecil.


Mereka di sini akan menginap satu malam saja. Walaupun ada libur tiga hari, tapi mereka harus tetap istirahat untuk menjaga badan mereka tetap vit.


"balik dulu dah, kita mandi. Nanti malam boleh main lagi" Dina memecah keheningan di antara mereka.


"tumben otak lu sehat?" ejek Lita. Bukannya apa-apa hanya saja Dina tak pernah sedewasa ini.


"otak gue dari dulu emang sehat! Cuma gue awet-awet biar gak cepat sakit kaya otak lu!" Dina berlari setelah berhasil membalas ejekan Lita.


"kurang ajar lu!!" Lita mengejar Dina ke arah villa di mana mereka menginap. Yang lainnya pun sama. Mereka segera ke villa untuk membersihkan badan mereka.


***


Suasana pantai di malam hari memang tak kalah indah. Ditambah kelip bintang dan bulan menjadikan suasana bertambah cantik.


Mereka memilih menyaksikan keindahan pantai itu di balkon villa saja.


Perasaan Syasya mendadak tak enak. Dia merasa ada yang memperhatikannya.


"Van, kok perasaan aku gak enak ya" Syasya reflek memegang tangan Vano untuk ia genggam.


"kenapa?" tanya Vano lembut.


"kaya ada yang merhatiin aku" ucap Syasya lirih.


"sstt udah jangan takut. Kan ada aku" Vano merengkuh tubuh Syasya.


Sementara di luar sana orang itu tersenyum licik.


"dapat kau" ucapnya.