
Pagi ini seperti biasa, Vano akan mengantar ketiga anaknya ke sekolah sebelum dia berangkat ke kantor.
“Van, hari ini aku pasti bosen lagi di rumah. Boleh aku main?” Syasya meminta izin pada suaminya.
Sementara kedua orang itu berbicara, ketiga anaknya sibuk mengikat tali sepatu mereka. “Mau main ke mana emangnya?” tanya Vano.
“Belum tau sih. Tapi aku main sama Lita, Dina kok. Paling di rumah Abang, soalnya kan Lita jaga Jo, jadi dia gak mungkin bisa main jauh,” tebak Syasya.
Vano mengangguk. Pria itu tak keberatan istrina main ke manapun. Hanya saja terkadang dia merasa khawatir jika Syasya pergi sendiri.
“Berangkat ke sananya sama siapa? Atau kamu tunggu aku dulu anterin anak-anak, nanti aku yang antar,” tawar Vano.
Syasya menggeleng menolak tawaran itu. “Gak usah, nanti Dina jemput aku ke sini kok. Kita berangkat bareng ke rumah Lita.”
Vano mengerti, jika seperti ini dia tak terlalu khawatir. “Oke, kalau udah sampai di sana kabarin aku. Kalau ada apa-apa kasih tau juga.” Vano memperingati istrinya.
Syasya mengangguk. “Ayah, ayo nanti Kakak telat!” protes putrinya. Vano membalikkan badannya saat dia mendengar suara sang putri.
“Iya Princess ayo. Aku berangkat dulu ya.” Vano berpamitan pada Syasya setelah dia menjawab Aruna.
“Hati-hati di jalan.” Vano mengecup kening Syasya kemudian memeluknya untuk beberapa saat.
Vano bergegas menuju mobilnya. Ketiga anaknya satu persatu menyalami Syasya sebelum kemudian mereka memasuki mobil.
Vano melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Beruntung ini belum terlalu siang hingga dia tak perlu terburu-buru.
“Yah, boleh berhenti sebentar?” Bian tiba-tiba meminta Vano menghentikan mobilnya. Vano yang bingung mengerutkan keningnya.
“Ada apa Bang?” tanyanya setelah mobilnya dia hentikan di tepi jalan. Bian tak menjawab, dia turun dari mobil sementara tiga orang yang masih ada di mobil itu hanya memperhatikan Bian.
“Kenapa Abang turun, Yah?” Arjuna juga penasaran. Vano menggeleng. Mereka kembali memperhatikan Bian yang berjalan semakin jauh, tapi mereka masih bisa melihat Bian dari sana.
Pria itu menghampiri seorang anak dengan pakaian lusuh sedang membawa kotak yang berisi banyak tisu. Sepertinya anak itu sedang menjualnya.
Vano bisa melihat jika Bian memberikan uang pada anak itu dan Bian mengambil beberapa kotak tisu dari anak itu. Ya, sepertinya Bian membeli tisu.
Tak lama, Bian kembali ke sana dengan empat kotak tisu. “Abang beli tisu banyak amat. Buat apa?” Aruna bertanya karena mungkin dia tak mengerti.
Sementara Vano hanya memberikan senyum bangganya pada Bian sebelum kemudian mengusak kepala putranya itu.
“Ini, teman Abang titip. Katanya tisu di rumah mereka habis, jadi Abang beliin.” Bian menjawab pertanyaan Aruna.
Gadis kecil itu mengangguk begitupun dengan Arjuna. Vano kembali melajukan mobilnya setelah Bian memasang seat belt.
Mereka tiba di sekolah Si Kembar. Kedua anak itu menyalami Vano dan Bian secara bergantian sebelum kemudian mereka turun dari mobil.
“Belajar yang benar!” teriak Vano dari dalam mobil. Entah mendengarnya atau tidak, kedua anak itu hanya terus berjalan menuju sekolah.
Vano menggelengkan kepalanya. Dia melanjutkan perjalanannya untuk mengantar Bian. “Tisunya Bian simpan di mobil gak apa-apa Yah?” tanya Bian.
Tak mungkin juga kan dia membawa tisu begitu banyak ke sekolahnya. “Iya gak apa-apa. Kita juga butuh buat di rumah,” jawab Vano.
“Kamu kenal sama anak tadi?” Maksud Vano adalah anak penjual tisu tadi. Tanpa Vano duga, Bian malah menggeleng.
“Emang gak banyak sih Yah. Tapi seenggaknya dia bisa cepat pulang dan makan kalau jualannya habis terjual,” lanjutnya.
Tak salah Vano memilih Bian untuk dia adopsi. “Ayah bangga sama kamu,” ucapnya. Bian hanya tersenyum menanggapi ucapan Vano.
“Sekolah kamu baik-baik aja kan?” tanya Vano. Bian mengangguk. “Baik kok Yah. Bian juga udah punya teman namanya Beno,” jelas Bian.
Bian tahu Beno belum bisa dia katakan sebagai teman yang akrab, tapi setidaknya itu bisa mengurangi rasa khawatir ayahnya dan juga itu adalah suatu pencapaian dalam hidupnya.
Biasanya semua orang akan menjauhi Bian karena penampilan dia yang lusuh dan juga tak bisa bergaul dengan baik.
Tapi kekurangannya yang tak bisa bergaul dengan baik justru sekarang sepertinya menjadi hal yang menarik bagi orang lain.
Sejauh ini sudah ada lima surat cinta yang Bian terima di sekolahnya. “Bagus dong. Yakin gak ada lagi yang mau kamu ceritain ke Ayah?” goda Bian.
Sebenarnya tentang surat cinta itu Vano sudah mengetahuinya. Hanya saja dia tak melihat semuanya. Salah satu surat itu terjatuh dari tas Bian saat Vano menjemputnya kemarin.
Vano membacanya dan dia merasa terkejut karena sepertinya putranya itu menjadi idola di sekolahnya.
“Gak ad, emang apa lagi?” tanya Bian bingung. Vano tak menjawabnya tapi dia hanya terus tersenyum mengejek putranya.
Mata Bian membulat saat dia sadar akan sesuatu. Dengan cepat pria itu membuka tasnya dia melihat-lihat kertas yang ada di sana.
“Kok cuma empat?!” teriaknya terkejut. Seingatnya dia memiliki lima surat.
Tawa Vano menggelegar saat dia mendengar putranya mengeluk. “Ih Ayah baca ya?” tanya Bian kesal.Vano masih belum menjawab dan sibuk tertawa.
Tangannya terulur untuk membuka sebuah laci yang ada di mobilnya. Dia mengambil selembar kertas yang dia temukan kemarin.
“Nih, jatuh dari tas kamu. Ayah gak sengaja baca,” kekehnya. Bian langsung merebut kertas itu dengan cepat.
Sangat malu, itulah yang dia rasakan sekarang. Wajahnya memerah dan dia tak berani menatap wajah Ayahnya.
“Kamu malu?” tanya Vano yang diangguki oleh Bian.
“Kenpa harus malu? Itu normal loh,” lanjut Vano. “Gak tau, Bian malu banget karena suratnya Ayah baca,” jawab pria itu.
“Gak apa-apa, itu normal. Lagian kenapa harus malu, yang baca kan Ayah bukan orang lain.”
Bian menengok pada Ayahnya. “Ayah kasih tau Mami?” tanyanya. Bian berharap jika Vano tak memberitahu Maminya.
Vano terdiam sebentar dengan senyum menyebalkan yang masih terpasang dengan jelas di wajahnya.
Bian berharap cemas menunggu jawaban Vano. “Enggak, Ayah gak kasih tau Mami kok tenang aja. Cuma kita berdua yang tau,” jawabnya.
Bian menghela nafas lega setelah mendengar jawaban Vano. Baiklah, setidaknya hanya dia dan Vano yang tahu tentang surat cinta itu.
“Jadi Abang itu idola di sekolah?” Vano kembali menggoda putranya sebelum mereka tiba di sekolah Bian.
“Enggak Yah!” Bian menekankan kata-katanya. Dia tahu apa yang dikatakan Ayahnya memang benar, tapi entah mengapa dia ingin menyangkal hal itu.
“Beneran? Yakin bukan idola?” godanya.