Complicated Love

Complicated Love
Chapter 21



"Vano, sayang kamu bisa lihat bunda?" tanya bundanya memastikan jika kesadaran Vano sudah pulih.


Vano tak menjawab, ia hanya terus mengedipkan matanya. Dia masih belum mengingat apa yang terjadi, namun otaknya terus berputar mengingat kejadian terakhir.


Perlahan Vano memejamkan matanya dan reflek tangannya memegang kepalanya yang seakan mau pecah. Sakit itu kian terasa di kepala Vano. Ya, Vano mengingat semuanya. Mengingat ia telah mendorong Syasya di depan club dan dia pulang dengan pikiran kalut sebelum kemudian sebuah truk menabraknya dan berakhirlah dia disini. Di ruangan bernuansa putih dengan aroma khas obat-obatan.


"Van, kamu gak apa-apa? Apa yang sakit sayang?" ayah Vano khawatir dengan putra semata wayangnya.


"ayah? bunda?" akhirnya setelah lama menunggu bunda dan ayah Vano bisa bernafas lega karena putranya sudah kembali.


"iya sayang?" bunda Vano mengelus lembut rambut Vano yang terlihat semakin panjang.


"Syasya?..." kalimatnya menggantung. Ia ingin bertemu Syasya saat ini, dia ingin meminta maaf dan memulainya dari awal. Dia akan melupakan masa lalunya dan menjalani masa depan dengan Syasya.


"Sudah dua hari dia tidak datang, sayang. Sebelumnya dia sering datang dan menemani kamu saat kami kerja" bunda Vano menjelaskan dengan senyum di wajahnya.


Vano terlihat berpikir dengan perkataan bundanya. Apakah kekasihnya sudah lelah dan memutuskan untuk pergi meninggalkannya? Memikirkannya saja sudah membuat Vano ingin menangis.


"besok mungkin dia ke sini" lanjut bunda Vano menenangkan putranya.


"makan dulu ya, udah lima hari kamu gak makan"


Vano mengangguk lesu, ayah Vano membantu membangunkan Vano menjadi posisi duduk. Sebelum sang bunda menyuapinya, netranya melirik objek yang ada di nakas samping brankarnya.


Sebuah Vas bunga dengan bunga rosemary yang sudah layu sepertinya sudah lama tak diganti. Dan dua buah amplop dengan warna berbeda menarik perhatiannya.


Tangan Vano terulur untuk mengambil amplop itu. Dengan tangan yang masih lemas Vano membuka amplop berwarna merah muda. Kertas dengan motif bunga itu sangat lucu ditambah tulisan tangan yang sangat ia kenali membuatnya lebih menarik.


Vano mulai membaca rangkaian kata yang ada di kertas itu, sementara bundanya memberikan waktu pada Vano untuk membacanya.


"hai pacar, eh kita masih pacaran kan? aku harap begitu. Kamu gak mau bangun? aku seharian nunggu kamu bangun loh, tapi kayanya kamu gak kangen sama aku. Aku kangen banget sama kamu. Biasanya kalau lagi di kampus kamu selalu chat aku buat nyamperin kamu ke fakultas kamu, tapi hari ini gak ada kamu rasanya beda banget. Intinya aku kangen kamu dan kamu harus bangun ya"


Surat pendek yang Syasya tulis mampu membuat hati Vano terenyuh, sesayang itu Syasya padanya dan dengan jahatnya Vano menyakiti gadis penyayang itu.


Tangan Vano mulai bergetar untuk membuka surat keduanya. Dia takut di surat itu Syasya benar-benar meninggalkannya mengingat gadis itu tak datang lagi untuk menjenguknya.


"Vano, ini udah hari kedua kamu tidur kaya gini. Kamu gak akan bangun? Gak ada kerjaan banget kan ya aku tulis surat, padahal kita ketemu tiap hari xixixiixix. Tapi gak apa-apa, aku takut pas kamu bangun aku gak ada di sana, jadi aku tulis surat sebagai gantinya. Oh iya Van, aku mau minta maaf kalau aku ada buat salah sama kamu. Aku gak tahu alasan sifat kamu berubah dan mulai kasar sama aku. Kamu ingat? terakhir kali kamu tampar aku? Ya, aku langsung di bawa ke rumah sakit hehehe makanya aku gak angkat telpon kamu waktu itu aku minta maaf ya.


Soal hubungan kita aku gak akan pernah ninggalin kamu, kamu harus ingat. Kalau kamu udah baca surat ini, berarti aku lagi gak ada di sisi kamu kan? karena kalau aku ada, aku gak bakal biarin kamu baca surat-surat bodoh ini. Aku bakal langsung ngomong aja dan marahin kamu karena naik motor sambil ngelamun. Lain kali jangan diulang ya.


Yaudah cepat sembuh pacarnya Syasya. Sayang Vano banyak-banyak"


Tanpa Vano sadari air matanya kini mengalir membasahi pipinya.


"bun...bunda, di sini sakit" ujar Vano sambil memegang dadanya. Bunda Vano yang mengerti segera memeluk anaknya. Vano menangis di hadapan bundanya untuk yang pertama kali setelah usia Vano menginjak dewasa.


"gak apa-apa sayang" kalimat penenang yang sangat biasa namun bisa menenangkan jika yang mengucapkannya adalah orang yang berharga untukmu.


Vano melepaskan pelukannya dengan tiba-tiba. Ia melihat ke sana-kemari mencari ponselnya.


"bunda ponsel Vano dimana?"


Bunda Vano segera menyerahkan benda persegi panjang itu kepada Vano. Vano segera mengambilnya. Dengan buru-buru ia mencari nomor Syasya dan menghubunginya.


Namun beberapa kali pun Vano mencoba, tetap saja suara operator yang dia dapatkan. Vano mulai kesal, dengan terburu-buru ia bangun dari posisinya hendak keluar ruangan namun sakit di badannya menghentikan Vano untuk beranjak dari sana.


"kenapa? ada apa? tenang Van, kamu belum bisa kemana-mana sampai kamu pulih" ucap ayah Vano mutlak.


"bunda, Vano mau cari Syasya" Vano memohon pada bundanya meminta bantuan agar mendapat izin dari ayahnya.


"emang Syasya bakal bahagia lihat kondisi kamu kaya gini? kamu harus pulih dulu baru ketemu Syasya" jawab bundanya mencoba membujuk Vano.


Dengan berat hati Vano mengurungkan niatnya untuk mencari Syasya. Untuk saat ini ia akan menunggu Syasya datang padanya sampai nanti dia sudah pulih dia akan menemui Syasya.


"makan dulu ya, biar cepat pulih"


Vano mengangguk, bagaimana pun ia ingin cepat menemui Syasya dan jalan satu-satunya ia harus memulihkan kondisinya terlebih dahulu.


Vano menelan makanan Rumah Sakit. Rasanya monoton sekali tak cocok di mulutnya. Dengan terpaksa ia menghabiskan lima suapan untuk saat ini.


Setelah selesai orang tua Vano segera menghubungi Hans sahabat Vano karena Hans menitip pada orang tua Vano untuk memberitahunya jika Vano sudah sadar. Kemudian mereka keluar kamar rawat untuk mencari makan di kantin Rumah Sakit.


Vano kembali memikirkan kemana kekasihnya hingga tak datang kembali ke sini setelah dua surat itu ia tulis.


Bunga rosemary yang sudah layu menarik perhatiannya. Vano mengambil bunga itu. Bunga yang mengandung arti sebuah kerinduan. Apakah bunga ini dari Syasya? Syasya rindu padanya?


Saat sedang bergelut dengan pikirannya, pintu ruangan Vano terbuka yang membuat Vano terkejut.


Di sana terlihat seorang gadis seumuran dengannya dengan kemeja putih hitam, rambutnya yang ia cepol hingga memperlihatkan leher jenjangnya.


Gadis itu tersenyum menatap Vano. Ia segera datang saat hans sahabat Vano memberitahunya bahwa Vano sudah sadar. Hans mengetahui kabar tersebut dari orang tua Vano.


Dengan pasti ia melangkahkan kakinya mendekati Vano. Sementara Vano membulatkan matanya melihat gadis yang baru saja masuk ke ruangannya.