Complicated Love

Complicated Love
Chapter 41



"kakak yakin gak mau lebih lama di sini?" gadis itu merengek. Rasanya baru saja kemarin mereka bertemu, namun hari ini pria itu sudah harus pulang lagi ke Jerman.


"kenapa? Lagian kakak udah satu minggu di sini, masih kangen?" ledek Alvin. Pria itu kini tengah menggeret kopernya menuju bandara. Syasya dan keluarganya mengekor dari belakang. Dan tak lupa Vano, pria itu benar-benar tak membiarkan Syasya dan Alvin berduaan bahkan ketika dia sudah mengetahui posisi Alvin.


"Sya, ya udah sih. Lagian kak Alvin kan kerja di sana" Vano menekan kata 'kak'. Dia benar-benar kesal, karena kehadiran Alvin mampu mengurangi perhatian Syasya padanya.


Alvin hanya terkekeh. Entah mengapa Vano selalu terlihat marah padanya, padahal selama ini rasanya Alvin memperlakukan Vano dengan baik.


"udah sampai. Ya udah ya, kakak pergi dulu. Kamu jaga diri baik-baik, jangan banyak pikiran oke" Alvin mengusap pucuk kepala Syasya. Syasya tak menghiraukan itu, dia hanya fokus pada air yang hendak menetes dari matanya.


"om, tante Alvin pamit ya. Makasih udah kasih Alvin makan selama di sini" candaan seorang dokter ternyata juga sama seperti manusia pada umumnya. Mami dan Papi Syasya mengangguk. Tangan Papi Syasya terangkat sebelum tangan itu mendarat di bahu Alvin.


"hati-hati ya. Cepat cari istri yang cantik. Om pengen gendong cucu. Soalnya Tristan gak laku-laku" candanya.


"papi apaan ih amit-amit!" kesal Tristan.


"Lo, pokonya kalau gue balik ke sini lagi lo harus udah punya anak" Tristan yang mendengar itu memelototkan matanya. Bagaimana bisa dia mempunyai anak jika kekasih saja masih dia pertanyakan dimana keberadaannya.


"jadi lo belain bokap gue? Oke gue gak bakal mau ketemu lo lagi" rajuk Tristan. Yang lain tertawa terbahak-bahak mendengar omelan Tristan.


Netra dokter muda itu beralih ke arah Vano. Vano yang bingung, menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan apakah yang dipandang dokter itu dirinya atau bukan.


"iya lo. Jaga adik gue baik-baik. Jangan lo sia-siain dia lagi"


Vano merasa sangat terpukul ketika Alvin mengatakan kalimat itu. Dia dulu memang salah dan dia tak ingin mengulang kesalahan untuk kedua kalinya. Dan dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan padanya.


"tenang aja, tanpa lo suruh gue juga bakal jaga dia" Syasya yang salah tingkah dengan ucapan Vano melayangkan pukulan manjanya pada Vano begitu saja.


"kamu kenapa sih Sya" tanya Vano aneh.


Syasya menggelengkan kepalanya dengan malu-malu.


"see you" pamit Alvin pada semuanya.


"kita jadi ke puncak kan?" tanya Vano dengan mengulurkan tangannya mengkode Syasya agar gadis itu segera menggenggamnya.


Syasya yang masih malu-malu menerima uluran tangan itu.


"mami, papi Syasya main dulu ya" pamitnya.


Mami dan papinya mengangguk dengan senyum yang terpatri di wajahnya. Sempat ada niatan untuk memisahkan mereka karena kejadian dulu, namun kebahagiaan yang terpancar dimata putrinya kini yang membuat mereka tak tega memisahkan Vano dan Syasya.


"lo gak pamit sama gue?" sindir Tristan.


"siapa lo!" teriak Syasya yang langsung berlari menarik tangan Vano sebelum Tristan memukulnya. Suatu kesenangan tersendiri bisa mengusili abangnya.


"Syasya! sialan!" umpatnya pelan. Tentu saja dia takut dimarahi orang tuanya jika dia mengumpati adiknya.


***


"udah berapa tahun ya kita pacaran? Rasanya baru kemarin" mata Syasya menerawang jauh ke masa lalu. Masa di mana Vano meminta membantunya mengerjakan tugas, masa di mana Vano meminta jawaban ujian, dan masa di mana mereka mulai menjalin hubungan.


"dua tahun? itu juga kalau kamu anggap aku masih pacar kamu selama aku di Jerman" lanjut Syasya.


"kamu mau nikah sama aku?" tanya Vano tiba-tiba. Syasya refleks melepaskan pelukannya dan memandang mata Vano, mencari sebuah candaan di sana. Namun nihil, netra itu menyiratkan sebuah keseriusan padanya.


"kamu lagi lamar aku?" Syasya mengerjapkan kedua matanya.


"kok gak romantis sih!? gak ada bunga, gak ada cincin! Kita cuma duduk di bangku dengan satu botol air mineral" rajuk Syasya.


Vano yang mendengarnya hanya terkekeh. Tangannya terangkat untuk mengusap surai Syasya kemudian memeluknya erat.


"jadi kamu gak mau?" lanjut Vano.


Syasya menengadahkan kepalanya berusaha memandang wajah Vano.


"mau" lirihnya. Vano yang gemas melihat tingkah Syasya segera mencubit hidung Syasya disertai rintihan dari sang tuan.


Sore itu menjadi sangat indah bagi mereka karena mereka menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan bersama.


***


Tiga tahun berlalu begitu cepat. Kata lamaran yang diucapkan Vano dua tahun lalu bukanlah sebuah candaan. Tepat satu bulan setelah percakapan mereka kala itu, Vano benar-benar menikahinya.


Kini di sinilah mereka di sebuah rumah yang lumayan besar dengan halaman luas dilengkapi berbagai macam permainan anak.


Orang tua mereka memberikan rumah ini sebagai hadiah pernikahan.


Mereka menikah ketika masih kuliah. Pihak kampus tak mempermasalahkan itu namun Vano dan Syasya sendiri yang sepakat untuk tidak dulu memiliki bayi. Mereka ingin menuntaskan pendidikannya terlebih dahulu.


"Vano!! Cepetan ini bini lo mau lahiran astaga!!" Teriak Rian. Sementara Vano sibuk membawa dua kantong pakaian dan peralatan lainnya yang mungkin akan mereka butuhkan.


Vano segera memasuki mobil di bagian belakang. Dia menyimpan tasnya terlebih dulu dan kemudian memangku kepala Syasya agar tidur di pangkuannya.


"aakhhhh Vanooooo sakit" Syasya berteriak kencang. Tangannya tak tinggal diam, sedari tadi dia terus menjambak rambut Vano.


Vano sendiri menahan rasa sakit itu karena dia tahu apa yang dirasakan Syasya jauh lebih sakit daripada sekedar jambakan.


"iya sayang, sebentar lagi kita sampai" Vano mengusap keringat yang ada di kening istrinya.


"Yan cepat nyetirnya!" teriak Vano. Dia sudah mulai tak tenang.


"Hans lo jangan diam aja, lo malah bikin gue tambah panik tahu gak!" itu semua Vano lakukan hanya untuk sekedar menghilangkan rasa gugupnya.


Sementara di mobil lain Lita dan Dina mencoba menyamakan kecepatannya dengan mobil Vano. Dina menghubungi keluarga Syasya dan Vano setelah dia mendapatkan nomornya tadi di ponsel Syasya.


"halo tante, Syasya lahiran. Sekarang lagi di perjalanan ke rumah sakit" ucap Dina. Hanya itu. Dia mematikan sambungan setelah memastikan mami Syasya mendengarnya.


Kalimat yang sama dia sampaikan juga pada bundanya Vano. Kini mereka bisa fokus menyetir untuk segera sampai ke rumah sakit.


***


Vano terus menggenggam tangan Syasya. Tangannya yang bebas dia gunakan untuk mengelus kepala istrinya itu. Tak terasa dia akan menjadi seorang ayah.


Air mata jatuh begitu saja membasahi pipinya.