Complicated Love

Complicated Love
S2 - Kumpul Lengkap



“Ya ampun Bang maafin Ayah ya. Ayah lpa banget saking banyaknya kerjaan,” ucap Vano ketika dia sudah melajukan mobilnya.


Dia merasa sangat menyesal denga putranya itu. “Iya Yah gak apa-apa.” Vano menganggukan kepalanya.


“Ayah gak balik lagi ke kantor kan?” tanya Bian. Takutnya dia mengganggu pekerjaan Ayahnya.


Vano menggeleng. “Enggak, besok lagi aja. Tadi juga kerja bukan karena dikejar deadline sih. Cuma emang udah kebiasaan aja. Biasanya ayah akan selesaikan pekerjaan sampai beres di waktu yang sama.” Bian mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan Ayahnya.


Setibanya di rumah, halamannya dipenuhi dengan beberapa mobil. Ada sekitar empat yang membuat Vano sedikit berfikir, janji apa yang dia buat dan dengan siapa.


Saking banyak pekerjaannya, rupanya dia juga melupakan jika dia mengundang Hans dan Rian untuk datang ke rumahnya.


“Ada siapa Yah? Kok ramai?” tanya Bian. Dia merasa agak canggung dengan semua ini. “Bukannya ketemu Kakek, Nenek itu weekend ya?” lanjutnya.


“Ayah juga gak tau. Kita lihat aja.” Vano mencoba menelisik, kira-kira mobil siapa saja yang saat ini terparkir di halaman rumahnya.


“Loh ini kan mobil Bang Tristan,” ucap Vano ketika dia melangkah ke dalam rumah. 


Vano memasuki rumah tentu saja beriringan dengan Bian. Ruang tamunya sudah seperti kapal pecah. Remahan makanan ringan di mana-mana, minuman yang memenuhi meja dan jangan lupakan bantal sofa yang sudah berserakan di mana saja.


Bahkan Bian yang melihat hal itu juga tercengang. “Astaga, apa ini?” tanya Bian ketika melihat pemandangan di depannya.


Bukan itu yang membuat Vano aneh, tapi di tengah kekacauan itu Vano tak bisa melihat siapapun. Ruang tamunya kosong.


“Sya, kamu di rumah kan?” Vano lebih masuk ke dalam untuk menemukan istrinya.


Tak lama setelah dia memanggil istrinya itu, Syasya datang dengan senyum yang terpancar di wajahnya.


“Udah pulang?” Syasya menyalami suaminya sebelum kemudian dia beralih pada Bian.


“Sayang, mandi dulu yu abis itu kita kumpul di halaman belakang ya,” ucap Bila. Bian mengangguk dan segera naik ke kamarnya.


“Ini ada apa sih?” Vano masih belum sadar dengan apa yang terjadi. Dia melepas dasinya dengan wajah bingung.


“Kamu lupa?” tanya Syasya pada suaminya. Vano mengerutkan keningnya. Lupa apa memangnya yang dimaksud Syasya itu.


“Maksudnya?” Vano masih mencari kepastian dari istrinya itu. “Tadi siang kan kamu yang undang mereka buat datang ke sini,” jawab Syasya.


Vano menepuk jidatnya. “Kenapa aku lupa?” ucapnya. Syasya terkekeh dengan kelakuan suaminya itu.


“Ya udah sekarang kamu bersih-bersih dulu sana. Aku juga udah siapin air anget buat kamu mandi.” Vano mengangguk. Semua karena pekerjaannya yang menumpuk yang membuat dia melupakan segalanya.


Syasya menemani Vano menuju kamarnya karena dia juga harus menyiapkan pakaian yang akan dikenakan suaminya itu.


“Tadi aku juga lupa jemput Bian. Neta yang ingetin aku kalau sekarang dah sore,” kekehnya bercerita pada istrinya.


“Kenapa bisa?” tanya Syasya. “Semua karena kerjaannku yang numpuk kali. Aku jadi lupa semuanya. Untung aja aku telat cuma beberapa menit, jadi di sekolah Bian masih banyak orang,” jelas Vano.


“Kamu tuh kebiasaan banget. Aku bilang jangan terlalu memporsir diri kamu buat kerja. Selain karena kesehatan kamu, lihat sendiri kan dampaknya,” ucap Syasya.


Dia mencari pakaian yang akan dikenakan oleh suaminya. “Iya aku juga lagi belajar.”


“Gimana? Udah balik dia?” tanya Rian. Sedari tadi pria itu yang menanyakan suaminya. Syasya jadi ngeri jika Rian menyukai suaminya itu.


“Udah, lagi mandi dia.” Tapi meski begitu Syasya tetap menjawab pertanyaan Rian. “Kangen banget gue!!” teriaknya.


“Yan, tolong deh. Jangan kaya gitu lah, gue jadi ngeri lihatnya,” ucap Syasya akhirnya menumpahkan apa yang ada dalam pikirannya.


“Lah ngeri kenapa lo?” Rian merasa heran dengan istri sahabatnya itu. “Siapa yang gak ngeri, lo kan laki, masa ngomong kaya gitu sama suami gue sih,” jelas Syasya.


“Lah, emang yang boleh kangen-kangenan cuma cewek doang? Laki kan juga boleh,” bela Rian. Dia berusaha meyakinkan teman-temannya.


“Mungkin bukan gak boleh ya, tapi lebih ke ngeri!” Kali ini Hans yang menjawab karena jujur saja dia juga merasa aneh dengan ucapan-ucapan yang keluar dari mulut sahabatnya itu.


“Ya udah sih kenapa harus diributin!” Rian yang merasa tak ada yang membelanya akhirnya meleos pergi dan kembali pada kesibukannya.


“Abang, hati-hati ya. Jaga Jo nya.” Syasya memperingati anaknya agar dia lebih hati-hati bermain dengan Jo.


Arjuna mengangguk. Dia suka keramaian sementara Aruna berusaha menyesuaikan dengan keadaan. Dia juga menikmatinya kok, dia bermain juga dengan Jo.


Tak lama, Vano datang berbarengan dengan Bian. Mereka berdua sama-sama mengenakan kaos putih. Hanya saja bawahan mereka yang berbeda. Jika Vano mengenakan bawahan hitam pendek, maka Bian menggunakan celana training dengan warna senada.


“Wahhh siapa nih? Kembaran lo?” goda Hans. Sebenarnya dia sudah tahu siapa orang yang sedang berjalan dengan sahabatnya itu karena tadi Syasya sudah menceritakan semuanya.


“Iya dong, lihat nih, sama kan?” Vano berujar dengan bangga.


Akhirnya mereka semua berkumpul dengan lengkap tanpa ada yang tertinggal satupun. 


“Woyy gimana kabar lo?” Rian akhirnya bisa menuntaskan rasa rindunya pada Vano. Pria itu memeluk Vano dengan erat tanpa niat Vano untuk untuk membalas pelukan itu.


“Baik. Lo apa kabar?” Hanya sebatas itu pertanyaan yang Vano ajukan. Tahu sendiri kalian gimana dinginnya pria it.


Vano hangat hanya pada keluarganya saja. Sementara kepada orang lain, beginilah sikapnya, dan orang-orang di sekitarnya juga tak masalah dengan hal itu.


Setelah selesai melepas rindu, akhirnya ini giliran Vano untuk memperkenalkan Bian, anaknya.


“Jadi?” tanya Rian yang kemudian tatapannya mengarah pada Bian.


“Ah, kenalin dia anak gue. Namanya Bian.” Vano memperkenalkan anaknya. Bian yang diperkenalkan kemudiaan menganggukkan kepalanya sebagai tanda sopan santunnya.


“Sayang, dia teman-teman Ayah sama Mami. Kalau yang itu Abangnya Mami kamu dan itu istrinya. Yang itu putra mereka.” Vano memperkenalkan satu persatu orang yang ada di sana pada Bian.


Bian mengangguk. Selesai acara perkenalan mereka, akhirnya Bian bisa berbaur dengan semua orang yang ada di sana.


“Gimana sekolahnya?” Tristan bertanya pada Bian. Entah mengapa setelah dia bertemu dengan anak ini secara langsung, dia merasa semakin tertarik.


Bukan tertarik secara romantis, dia awalnya tertarik karena Syasya mengatakan jika anaknya itu sangat pintar.  Dan sekarang setelah dia bertemu secara langsung, dia akhirnya bisa menilai jika selain pintar, anak itu juga memiliki sopan-santun yang tinggi.


“Baik, Om. Di sekolah banyak juga teman yang mau main bareng.”