
Hari ini Bian berangkat ke sekolah seperti biasa. Walaupun dia merasa enggan, tapi dia harus karena jika tidak, dia akan membuat Ayah dan Maminya curiga.
"Bang, kamu kenapa sih. Perasaan dari kemarin kamu ngelamun mulu," ucap Vano.
Mereka masih dalam perjalanan dan Vano sedikit menaruh curiga pada putranya.
"Enggak Yah. Abang lagi mikirin tentang tugas Abang. Kemarin udah beres atau belum ya?" tanyanya.
"Kok bisa sampai lupa sih? Kapan terakhir ngumpulinnya?" Vano kembali bertanya.
"Soalnya kemarin sih udah selesai tugasnya. Tapi, kayanya permasalahannya belum terpecahkan deh."
Bian seperti sedang berfikir. Jika kalian fikir apa yang dikatakan Bian adalah sungguhan, maka kalian salah.
Karena sedari tadi apa yang dikatakan Bian itu masih sebuah skenario.
"Lah terus gimana dong kalau emang belum selesai?" tanya Vano malah ikut bingung yang membuat Bian terkekeh.
"Ya udah sih Yah. Kenapa jadi Ayah yang mikir. Kan Abang yang sekolah," kekehnya.
Vano mengangguk. "Iya sih Abang yang sekolah, tapi karena Abang bilang tentang tugas Abang sama Ayah, Ayah jadi ikut kepikiran," jelas Vano.
"Udah gak usah difikirin. Toh juga gak bikin Bian gak lulus kok. Tenang aja."
Benar, memang benar apa yang dikatakan putranya. "Oke Ayah gak akan ikut campur."
Tepat sekali setelah pembicaraan mereka selesai, mereka juga tiba di sekolahnya.
Malas, satu kata yang ada di benak Bian saat dia melihat bangunan sekolah itu.
"Gih sekolah yang benar. Ayah berangkat dulu, nanti sore Ayah jemput," ucap Vano.
Bian mengangguk. Sebelum dia benar-benar keluar, dia mengambil nafas dalam sebelum kemudian dia menghembuskannya.
"Abang pergi dulu ya Yah." Bian berpamitan kemudian dia keluar dari mobil dan menuju ke dalam sekolah.
Vano terkekeh melihat putranya itu.
Bian berjalan menuju kelas dengan langkah gontai. Dia sangat tak ingin bertemu dengan teman-temannya.
Di sebuah persimpangan menuju rooftop, dia ditaril oleh seseorang.
Bian yang terkejut hampir saja melukai orang itu. "Ssstt ini aku," bisik gadis itu.
Gadis yang selama ini Bian kenal. Tentu saja, gadis itu juga temannya. Tentu saja dia kenal.
"Ngapain kamu?" tanya Bian tak mengerti kenapa gadis itu menariknya.
"Ada yang mau aku omongin. Tapi gak di sini. Ikut aku." Gadis itu membawa Bian ker rooftop.
Tempat di mana untuk pertama kalinya dia kunjungi. Dia tak pernah berfikir untuk pergi ke tempat ini karena suatu hal.
Mereka tiba di sana. Bian bingung dengan hal yang selanjutnya akan terjadi.
"Kenapa?" tanya Bian.
Gadis dengan name tag Kiana itu memandang Bian dengan lekat.
"Aku suka kamu," ucapnya yang berhasil membuat Bian terbelalak.
"Kenapa mendadak?" Sebuah pertanyaan yang langsung terlintad dalam otaknya.
Kiana menggeleng. "Enggak mendadak kok. Aku udah suka sejak kamu datang ke sini. Cuma baru bilang sekarang aja." Kiana mencari pembelaan.
"Kenapa?" Bian kembali bertanya dengan pertanyaan yang menurut Kiana ambigu.
"Kenapa apanya? tanyanya bingung.
" Kenapa suka?" Bian tak kalah bingung.
"Emang kalau suka harus ada alasannya ya?" tanya Kiana. Dia tak merasa harus memiliki alasan ketika dia menyukai sesuatu.
Bian bungkam. Dia tak bisa menjawab. "Jadi, kita pacaran gak?" tanya gadis itu dengan berani.
Untuk kedua kalinya Bian dibuat terbelalak dengan ucapan gadis itu.
"Waduhh berasa ganteng banget ya di tembak sama cewek." Sebuah suara terdengar ketika Bian baru saja akan menjawab.
"Kalau pacaran tuh cari tempat. Masa di sekolah, gak elit banget." Rio, ya pria itu adalah Rio.
Spontan Bian menarik Kiana ke belakangnua.
Rio yang melihak hal itu sontak tertawa. "Oopss jadi ada yang mau jadi pahlawan nih?" Rio mengejel Bian.
Bian tak menjawab dia memandang Rio dengan tatapan nyalang.
Sementara itu Kiana memegang lengan Bian dengan erat karena takut. Kiana takut karena di tahu bagaimana sifat Rio.
"Ada apa? Kalau ada apa-apa sama gue aja," ucap Bian berusaha memberanikan diri.
"Ohhh guys ada yang nantangin nih!!" Teriakan Rio berhasil membuat kedua orang yang masih dalam persembunyiannya datang menampakkan diri.
Aksa dan Mahesa, teman Rio yang juga Bian kenal datang menghampiri mereka.
"Kamu turun duluan ya. Nanti aku nyusul," perintah Bian. Kiana menggelengkan kepalanya.
"Aku gak akan ninggalin kamu," jawab Kiana.
"Hmm kayanya ada yang mau saling jaga nih. So sweet banget ya kalian." Rio mulai mendekati Kiana yang ada di belakang Bian.
"Gue bilang pergi!!!" Kiana tersentak saat mendengat bentakkan Bian.
Namun tak hanya gadis itu yang terkejut. Ketiga orang lainnya juga terlonjak ketika mendengar itu.
Setelah beberapa saat terkejut, akhirnya Kiana benar-benar pergi dari sana. Dia berlari sekuat tenaga.
Tujuannya saat ini adalah kantor keamanan.
Sementara itu Bian masih di sana sedang menahan rasa takutnya. Matanya memerah karena Rio berani menyentug gadis.
Walaupun Kiana belum menjadi gadisnya, tapi dia tak suka jika ada orang yang melecehkan perempuan.
"Mau apa lo sekarang?" tanya Rio sombong.
Bian tak menjawab. Dia memundurkan langkahnya untuk menjauhi Rio.
"Jagoan kita mundur ahahahah." Tawa jahat menggelegar di rooftop sekolah.
"Mana yang tadi jagoan? Kok sekarang malah kaya ketakutan sih?"
Akhirnya Rio berhasil berhadapan dengan Bian. Bian berhenti mundur karena memang tak ada ruang lagi di belakangnya.
"Kasian udah gak bisa kabur." Rio terkekeh sambil menampar pelan pipi Bian.
"Kurang ajar! So jagoan banget lo!! Jijik gue!!" Teriaknya. Sebuah tinju melayang ke wajah Bian begitu saja.
Tubub Bian tersungkur di lantai rooftop. Kepalanya sedikit pening karena pukulan Rio.
Rio melihat kepalan tangannya yang tadi dia gunakan untuk meninju Bian.
"Kalian mau gak?" Rio malah menawarkan kedua temannya untuk melakukan hal yang sama dengannya tadi.
"Boleh tuh." Aksa maju dan menendang perut Bian. Posisi Bian yang meringkuk memang memudahkan Aksa untuk menendang perutnya.
"Mau juga dong." Mahesa juga melakukan hal yang sama.
Bian sudah tak kuasa menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Bangun lo! Gitu aja tumbang! Tadi aja so jagoan lu!!" Rio menendang Bian dengan brutal berulang kali.
Bian ingin sekali tertidur karena rasa sakitnya. Tapi dia tak bisa. Dia tak boleh tertidur sekarang.
Rio dan temannya akan merasa menang jika Bian tidur sekarang.
Sekali lagi saja Rio menendangnya mungkin dia akan benar-benar tumbang.
"Heii apa yang kalian lakukan?" Teriak seseorang yang baru saja datang ke sana.
Rio dan kedua temannya menatap ke arah orang itu.
Orang itu adalah guru keamanan di sekolah. "Ikut saya ke ruangan keamanan!!"