Complicated Love

Complicated Love
Chapter 18



Suasana sangat sepi di ruangan bernuansa putih ini. hanya ada suara monitor detak jantung yang memenuhi ruangan tersebut. Bau khas rumah sakit pasti tercium oleh siapapun yang ada di sana. Vano, pria itu berhasil diselamatkan walaupun keadaannya saat ini sangat mengenaskan.


Wajah tampan yang dulu sangat bersih kini dihiasi goresan yang tidak bisa dibilang kecil di bagian pipinya. Tak ada tanda-tanda bahwa ia akan bangun, ia masih tertidur dengan nyenyak tanpa ada yang tahu kapan ia akan bangun.


Sementara wanita paruh baya tengah menangis sesenggukan sambil menggenggam tangan putranya. Sang ayah juga tak henti-hentinya menenangkan sang istri yang tidak berhenti menangis sejak satu jam lalu.


Pintu terbuka dengan cukup keras, disana menampilkan wajah berantakan Syasya. Air mata mengalir di pipinya, belum lagi sisa-sisa air mata yang sudah mengering di wajahnya membuat penampilannya semakin kacau.


Syasya berlari dan segera menggenggam tangan Vano yang bebas. Tangisnya pecah, ia bahkan tak memperdulikan keberadaan orang tua Vano di sana. Ia juga tak lagi memperdulikan Lita yang dengan baik hati mengantarnya kesini. Ia hanya terus menggenggam tangan yang dulu sempat menyakitinya kemudian mengecup tangan itu berharap Vano akan segera bangun.


“Van bangun... hiks” siapapun yang mendengar tangisan memilukan itu pasti akan ikut menangis bersamanya.


“ka...kamu harus bangun, aku kangen Vano yang dulu hiks..hikss” Syasya mencoba menenangkan dirinya walaupun itu sia-sia.


“ta..tapi kalau kamu gak mau, gak apa-apa. Kamu boleh jadi Vano yang sekarang. Asal kamu bangun aku baik-baik saja” Syasya histeris. Orang tua Vano mencoba menenangkan Syasya namun sia-sia.


***


Ini hari kedua Vano berada di rumah sakit. Masih sama, ia tak kunjung membuka matanya. Kini kedua sahabatnya yaitu Hans dan Rian berada di sana. Mereka terus saja memandang Vano sebelum kemudian menghela nafasnya.


“bodoh” gumam Hans. Ia tujukan untuk sahabatnya yang benar-benar bodoh hingga berakhir di rumah sakit.


Pintu ruangan terbuka. Syasya melangkahkan kakinya mendekati brankar. Kini penampilannya terlihat lebih baik dari kemarin. Ia datang dengan membawa bunga rosemary, senyum tipis terukir di wajahnya kala matanya beradu pandang dengan kedua sahabat Vano.


“akhirnya lo datang, kita mau balik dulu bentar” ucap Hans.


“hmm pulang aja” Syasya menjawab dengan pandangan sendunya.


Akhirnya Hans dan Rian pergi meninggalkan ruangan itu. Kini hanya tinggal mereka berdua. Syasya pergi mengambil Vas bunga dan ia masukan bungan yang ia bawa ke dalam Vas berisi air tersebut. Syasya menghela nafasnya, ia meletakan sebuah amplop berwarna merah muda di atas nakas di samping brankar.


“kamu gak mau bangun? Aku rindu” pandangan Syasya tak lepas dari mata Vano yang terpejam. Tangannya menggenggam erat tangan Vano. Ia mengelusnya lembut.


“hari ini aku ke kampus dulu, makanya telat kesini. Maaf yah, besok aku ke sini pagi-pagi deh”


 "kamu tau gak, rasanya hari ini beda banget. Biasanya kamu ada ngechat aku, tapi hari ini aku tungguin gak ada" lanjut Syasya.


"makanya kamu cepet bangun ya" Syasya mengecup tangan yang sedang ia genggam.


Rasa kantuk kini datang padanya. Matanya terasa sangat berat untuk terbuka. Hingga suara pintu mengejutkannya dan membuatnya segar kembali.


"om, tante" ucap Syasya bangun dari duduknya. Ia bersalaman dengan kedua orang tua Vano.


"sayang, kamu udah lama?" tanya bunda Vano.


"enggak tante, belum lama kok" jawab Syasya.


"Vano kamu gak mau bangun? Kamu gak kasihan sama Syasya?" Bunda Vano mengusap rambut putranya. Sementara Ayahnya langsung menuju sofa.


***


Seperti janjinya kemarin, Syasya datang pagi-pagi sekali untuk menjenguk Vano. Ia hari ini juga membawa bunga rosemary untuk mengganti bunga yang ia bawa kemarin.


Syasya juga meletakan sebuah amplop dengan warna biru muda. Syasya duduk memandang kekasihnya yang kini berbaring tak berdaya.


"Van, kamu tau? Disini sakit" ucap Syasya sambil menunjuk dadanya.


"waktu kamu bersikap dingin dan kasar, di sini sakit banget. Luka fisik aku bukan apa-apa, tapi luka disini, aku tak bisa menahannya" tak terasa air mata Syasya mengalir begitu saja.


"aku gak tahu alasan kamu lakuin itu, aku bingung salah aku dimana" Syasya berusaha menghapus air matanya walaupun itu kembali mengalir.


"kalau kamu memang udah gak sayang, kenapa kita gak udahan aja? Aku gak mau minta udahan duluan karena aku sayang sama kamu..hiks"


"rasanya aku mau ngelupain semua yang kamu lakuin ke aku, aku mau semuanya hilang dari otak aku hiks.." Syasya menggenggam tangan Vano dan menyimpan di dahinya.


"Van, aku janji kalau kamu bangun aku bakal ngelupain semuanya. Aku bakal nganggap gak terjadi apapun. Ayo kita mulai dari awal lagi ya, aku mohon jangan begini" Syasya menunduk membiarkan air matanya berjatuhan.


Tanpa Syasya sadari Vano juga meneteskan air matanya. Ia masih tidur di alam bawah sadarnya, namun ia mendengar semua yang Syasya ucapkan.


Hati Syasya hancur berkeping-keping. Luka yang diciptakan Vano belum sembuh dan kini luka baru muncul di hatinya melihat Vano hanya terbaring tak berdaya.


Syasya menengadah, ia mengusap kasar air matanya. Bibirnya berusaha tersenyum agar jika Vano bangun, senyum Syasya lah yang pertama kali Vano lihat.


Syasya mengambil air hangat dan handuk kecil. Ia mulai menyeka tubuh Vano, hanya bagian tubuh yang tak tertutup baju saja. Ia mengusapnya dengan hati-hati karena banyak sekali luka kecil di lengan dan wajah Vano.


Tak hanya itu, Syasya juga memastikan air infus belum habis. Dia selalu siaga untuk merawat Vano. Ia bahkan membersihkan debu-debu yang mengganggu penglihatannya.


Sementara di luar ruangan, pria itu mendengar semuanya. Tristan mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangannya memutih.


Tristan mengikuti Syasya saat dengan rapinya gadis itu pergi dari rumah pagi-pagi sekali. Dan disinilah dia, hal yang seharusnya tidak ia ketahui, kini ia mengetahui semuanya.


Mengetahui mengapa belakangan ini Syasya murung, mengetahui penyebab luka di sudut bibir Syasya, dan tentunya ia mengetahui bahwa belakangan ini hati adiknya disakiti.


Dan bodohnya ia tidak mengetahui dari dulu bahwa orang yang menyakiti adiknya adalah orang yang sama dengan orang yang membenci Tristan tanpa alasan.


Hingga saat ini ia tidak tahu alasan kebencian Vano padanya. Tristan tidak dekat dengan Vano, lalu dimana letak kesalahannya hingga Vano begitu membencinya.


Terbukti saat mereka berpapasan di koridor sekolah, Vano dengan mudah melayangkan kata 'brengsek' padanya, padahal Tristan tidak tahu dimana letak kebrengsekannya.


Jika saat itu tidak ada satpam maka mungkin Tristan sudah meninju wajah tampan Vano.


Tristan segera pergi dari rumah sakit itu takut-takut Syasya melihat dirinya.