
Seiring berjalannya waktu, kedua keluarga Bian dan Kiana sudah saling mengenal. Mereka bahkan sudah mengadakan pertemuan keluarga beberapa kali. Bukan pertemun resmi, haanya makan malam biasa saja.
Satu minggu yang lalu mereka sudah membuat rencana tentang pertunangan Bian dan Kiana. Mereka sepakat acara itu akan dilaksanakan di rumah Kiana.
“Bunda, kok Kia gugup ya,” ucapnya. Ya, hari ini adalah hari pertunangan mereka. Dan Kiana baru saja selesai dengan make up-nya.
“Kok gugup sih? Kalian kan udah sering ketemu. Emangnya Bunda sama Ayah yang belum pernah ketemu tiba-tiba tunangan,” kekeh Bundanya saat sang putri mengeluh.
“Iya sih. Tapi tetap aja Kia gugup.” Kiana memilin jari-jari tangannya saking gugupnya dia.
“Ya udah tenangin diri kamu dulu. Masih ada waktu sebentar lagi.”
Suasana di rumah Kiana sudah seperti pernikahan, bagaimana tidak, banyak sekali yang diundang dalam acara ini.
Teman Kiana dan Bian, rekan kerja Vano, rekan kerja Ayahnya Kiana dan beberapa kerabat dekat lainnya kini berada di sini berkumpul di satu tempat yaitu rumah Kiana.
“Cincinnya udah siap, Bang?” Lain halnya dengan pihak wanita, justru dari pihak laki-laki malah Syasya yang sepertinya gugup.
“Udah Mami. Mami udah nanya itu hampir sepuluh kali loh,” ucap Bian. Syasya akui, dia memang gugup saat ini.
Ini adalah pengalaman pertamanya mengantar seorang anak untuk bertunangan dan tentu saja dia sangat gugup.
“Kamu jangan gugup. Ini acara biasa kok.” Syasya kembali berkata. Semua mata yang saat ini sedang duduk di dekatnya memandang Syasya dengan aneh.
“Yang, justru sekarang yang gugup itu bukan Bian, tapi kamu loh.” Vano akhirnya buka suara karena sedari tadi melihat Syasya yang gelisah.
“Apa iya?” tanyanya diiringi dengan senyuman canggungnya. Suami dan semua anaknya mengangguk dengan kompak. Hal itu membuat Syasya tersipu.
Waktu berlalu dan saat ini tiba waktunya bagi Bian menyematkan cincin di jari Kiana dan sebaliknya. Kiana terlihat sangat cantik dengan balutan gaun hitam yang elegan begitupun Bian yang mengenakan tuxedo dengan warna senada.
Momen bahagia mereka akhirnya terlewati. Namun, bukan berarti hanya itu momen bahagia yang akan mereka alami, masih banyak momen di depan sana yang menanti mereka.
“Ingat ya, kalian udah terikat sekarang.” Ayah Kiana berucap di hadapan semua orang.
Bian dan Kiana mengangguk mengerti dengan apa yang dikataka Ayahnya.
“Jadi, kapan nih kalian mau satu rumah?” Pertanyaan Vano itu bermaksud kepada sebuah pernikahan.
“Ayah, baru aja tunangan. Masa mau gaspol aja,” kekeh Bian. “Ya gak apa-apa dong, lebih cepat lebih baik.” Kali ini Bunda Kiana yang menimpali.
“Nanti lah, Bun. Nunggu Bian lulus kuliah dulu, punya kerja, punya uang sendiri, baru Bian nikahin Kia,” jawab Bian.
Semua mengangguk mendengar jawaban Bian yang bijaksana. “Kayanya Ayah emang gak salah milih calon mantu.” Semua tertawa mendengar ucapan Ayah Kiana.
Acara inti telah berlalu, sisanya mereka hanya tinggal menikmati makanan yang telah disediakan.
“Bi!!” Panggilan seseorang membuat Bian mengalihkan atensinya pada orang itu.
Bian melihat orang itu dengan seksama, berusaha mengenalinya. “Beno?” tanya Bian entah apa tebakannya benar atau salah.
Ya, kalian ingat seorang pria yang Bian kenali pertama kali di SMA dan menyapanya? Dia adalah Beno. Sepanjang sekolah di SMA dulu, Beno tak pernah bertegur sapa dengan Bian begitupun sebaliknya.
Alasannya kalian tahu sendiri tentu saja karena ancaman Rio. Bahkan hingga lulus sekolah dan masuk jenjang perkuliahan, pria itu hilang seolah ditelan bumi.
Bian tak bisa menghubunginya hingga dia bertekad untuk mengirim undangan secara online pada email pria itu.
Dan sekarang teman yang sudah lama tak dia sapa itu ada di hadapannya. “Sehat lo?”seru Bian sambil memeluk Beno.
“Sehat sehat. Sorry ya baru datang. Telat banget ya gue?” tanya Beno. Bian menggeleng. Dia tak keberatan dengan hal itu. Kedatangan Beno saja sudah lebih dari cukup.
“Jodoh emang gak kemana ya. Kalian ternyata awet dari dulu.” Kali ini beno menyalami Kiana. Kiana tersenyum ramah seperti biasanya.
“Selamat ya atas pertunangan kalian,” lanjut Beno. “Hhmm, makasih juga udah datang,” jawab Bian.
“Udah lama juga gue pengen ketemu lo, tapi kan gue ada di luar pulau, jadi gak bisa.” Bian mengangguk mengerti apa yang menjadi penghambat bagi pria itu.
“Boleh gue ngomong bentar sama Bian?” Beno meminta izin untuk membawa Bian pergi sebentar pada Kiana.
Kiana mengangguk kemudian dia melenggang meninggalkan kedua pria itu dan mendekati orang tuanya.
“Loh, kok sendiri? Bian mana?” tanya Syasya saat melihat calon menantunya datang sendiri.
“Itu Mi ada temannya. Katanya mereka perlu waktu buat bicara,” jawab Kiana. Syasya mengangguk mengerti.
Sementara itu, Bian dan Beno mencari tempat yang nyaman untuk mereka berbicara. Tak lupa mereka juga mengambil masing-masing segelas minuman untuk menemani pembicaraan mereka.
“Bi, selain gue ke sini buat menuhin undangan lo, gue juga mau minta maaf,” ucap Beno yang membuat Bian mengernyitkan keningnya heran.
“Minta maaf buat apa?” tanya Bian tak mengerti. “Waktu sekolah dulu, gue sama sekali gak pernah nolongin lo. Gue malah diemin lo seolah gak kenal sama lo sama sekali,” jelas Beno.
Sekarang dia merasa sangat menyesal karena dengan begitu, secara tidak langsung berarti dia telah bersikap sama seperti Rio.
“Gak usah minta maaf. Pertama, gue tau kenapa lo bersikap kaya gitu, itu semua karena lo takut sama ancaman Rio. Kedua, gue tahu kalau lo beberapa kali panggil guru kemanan pas gue dihajar sama Rio dan teman-temannya.”
Beno membulatkan bola matanya. “Dari mana lo tau kalau gue yang panggil guru keamanan?” tanya Beno.
Rasanya selama ini dia selalu diam-diam jika pergi ke ruang keamanan. Dia juga tak pernah mengatakan hal itu pada siapapun.
Bian terkekeh. “Gue tau dan lo gak perlu tau gue tahu semua itu dari mana. Yang jelas gue mau bilang terima kasih sama lo atas segala pertolongan lo,” ucap Bian.
“Enggak, Bi. Rasanya gue gak pantas buat dapat ucapan makasih dari lo. Bahkan harusnya lo umpat gue dan marah sama gue. Tapi lo enggak.”
“Gak ada gunanya juga gue marah sama lo. Dengan marahnya gue sama lo emang bisa bikin Rio berhenti bully gue? Enggak. Jadi gak ada gunanya.”
Beno mengangguk, dia mengerti sekarang bahkan jika Bian dendam padanya hal itu tak akan menghentikan Rio.
“Tapi, sekarang lo tau gimana nasib Rio?” tanya Beno. “Gue gak yakin. Tapi terakhir gue dengar kalau dia terlibat kasus narkoba.”