
Tangis haru terdengar sangat memilukan di pemakaman. Ketika semua orang yang datang ke sana sudah kembali, maka tidak dengan dua keluarga ini.
Tangis mereka pecah sejak kabar memilukan itu terdengar. Hancur, itulah perasaan yang mereka rasakan.
Dunia mereka bagai runtuh begitu saja ketika salah satu anggota keluarga mereka meninggalkannya.
“Kita gak berharap semua bakal jadi seperti ini,” tangis Syasya. Gadis itu bersimpuh memeluk nisan yang ada di hadapannya.
“Kenapa harus kamu, Bang?” lanjutnya. Ya, orang yang saat ini tengah berbaring tenang di bawah gundukan tanah itu adalah Bian.
Orang yang baru beberapa tahun ini menjadi keluarga mereka. Tak hanya Syasya yang merasa hatinya sakit.
“Abang gak bakal senang liat Mami kaya gini, udah ya,” ucap Arjuna. Meski dia mencoba sekuat tenaga untuk menahan air matanya, nyatanya itu tak terbendung lagi.
Dia mengis sambil menenangkan Maminya. Aruna mengangguk menyetujui ucapan Abangnya.
“Mami, Abang udah tenang di sana. Surga pasti jadi tempat Abang sekarang.” Aruna menambahkan.
“Maaf karena Mami sama sekali gak tau tentang ini, Bang. Mulai sekarang Mami janji akan jaga Ayah. Mami akan jaga jantung kamu. Mami akan jaga mereka baik-baik biar kepergian kamu gak sia-sia,” ucap Syasya.
Ya, Bian mendonorkan jantungnya untuk Vano. Saat ini Vano belum bangun setelah operasinya. Entah bagaimana sikap Vano nanti ketika dia tahu jika putranya yang mendonorkan jantungnya.
Sementara si kembar yang menenangkan Maminya, di lain sisi ada Bunda dan Ayah Kia yang tengah menenangkan gadis itu.
Tangisnya tak kunjung berhenti, bahkan Kia sempat pingsan beberapa kali karena mendengar hal ini.
Bian tak mengatakan apapun soal dia akan mendonorkan jantungnyaa karena sejatinya dia memang tak mengatakan hal itu pada siapapun.
“Bunda, setelah ini gimana Kia hidup?” tanyanya. Gadis itu memeluk sang bunda dengan erat. Jujur saja, dia merasa tak ada gunanya lagi untuk hidup.
Orang yang selama ini bagaikan rumah baginya kini telah tiada. Mereka telah berbeda alam, bagaimana bisa Kia menceritakan kehidupannya lagi pada Bian.
“Sayang, gak boleh gitu. Kamu harus tetap semangat. Ingat, Bian pernah bilang kan kalau dia gak suka sama orang yang putus asa?” tanya Bundanya yang kemudian diangguki oleh Kia.
“Tapi, Kia kehilangan arah,” lirihnya. Tangisnya kembali pecah ketika mengatakan hal itu. Apa yang dia katakan memang benar adanya.
“Bian bakal bahagia kalau lihat kamu bahagia, Sayang.” Budanya memeluk Kia semakin erat karena dia tahu putrinya itu sekarang sedang membutuhkanya.
Jujur saja, dia juga tak menyangka dengan keputusan Bian yang satu ini. Belakangan, pria itu terlihat sangat ceria. Tak ada tanda-tanda jika Bian akan meninggalkan mereka begitu jauh.
“Mami, pulang ya. Kasian Ayah sendiri kalau dia bangun nanti,” ajak Arjuna. Pria yang menginjak dewasa itu berusaha membangunkan Maminya yang masih bersimpuh.
Karena tak ingin membuat si kembar khawatir, akhirnya Syasya bangun walau langkahnya masih lemas.
Dia juga dibantu oleh Ayah Kia. “Bian udah tenang dan udah berjuang dengan keras buat bikin Vano tetap hidup. Jadi ayo kita lanjutkan perjuangan Bian,” ucap Ayah Kia pada Syasya.
Dia tak tahu lagi bagaimana cara menguatkan Syasya karena jika dia ada di posisi Syasya, dia yakin dia juga akan melakukan hal yang sama.
“Mami sama yang lain pulang dulu ya.”
“Kalau saja Tuhan kasih kita waktu lebih lama dari ini, mungkin akan sangat menyenangkan,” lanjutnya.
“Aruna juga mau bilang makasih sama Abang karena udah jagain Runa selama ini. Abang gak pernah ngeluh, Abang selalu jadi Abang yang hebat buat Runa. Runa berharap suatu saat nanti bisa ketemu Abang lagi dengan status yang sama, Abang sebagai Abang Runa. Runa sama yang lainnya pamit, Bang. Abang bahagia di sana.” Runa mengakhiri kalimatnya.
Setelah semua berpamitan, kini tersisa Kia yang sejujurnya sangat berat untuk mengungkapkan isi hatinya. Ini begitu tiba-tiba dan begitu menyakitkan untuknya.
Tubuhnya ambruk di tanah. Gadis itu menumpukan tangannya di nisan kekasihnya itu. “Bi, aku gak nyangka sama sekali kamu bakal tinggalin aku di saat sebentar lagi kita bakal bersatu. Tapi demi kamu aku akan selalu bahagia. Aku akan tetap anggap keluarga kamu sebagai keluarga aku sendiri. Aku bakal sering datang ke sini. Terima kasih buat semua kekuatan yang selama ini kamu kasih sama aku,” ucap Kiana.
Dia mengusap air matanya. Dia sudah berjanji dan mulai sekarang dia harus lebih kuat dari ini.
Setelah mereka semua selesai berpamitan, mereka pergi dari sana meninggalkan Bian yang mungkin sedang tersenyum di surga sana memperhatikan mereka.
****
Lima hari setelah kepergian Bian, Vano baru sadar. Dia terlihat lebih baik. Sebelum operasi berlangsung waktu itu, mereka hanya tahu ada orang baik yang mendonorkan jantungnya untuk Vano.
Mereka tak menyangka jika orang itu adalah keluarganya sendiri.
“Yuk pulang,” ajak Syasya. Ya, Vano sudah diperbolehkan untuk pulang. “Bian ke mana? Kok gak keliatan?” tanya Vano linglung.
Semuanya bungkam. Mereka bingung, apa yang harus mereka katakan pada Vano. “Dia ada kok,” jawab Syasya dengan senyum yang tersemat di wajahnya.
“Di mana?” Vano kembali bertanya karena Syasya mengatakan Bian ada tapi dia sama sekali tak melihat putranya itu.
“Kita pulang dulu aja.” Syasya berusaha kembali mengalihkan topik pembicaraannya.
“Oh dia nunggu di rumah? Ya udah yuk kita pulang biar bisa ngumpul lagi,” ucap Vano.
Di belakang mereka, Aruna sudah meneteskan air matanya kala mengingat Abangnya itu sudah tiada.
Tanpa menjawab ucapan Vano, akhirnya mereka pulang. Tak seperti yang ada dalam pikiran Vano, rumah mereka sepi. Bian tak ada di sana.
“Loh, kok sepi? Bukannya Bang Bian di rumah?” tanya Vano lagi. “Duduk dulu ya,” ucap Syasya.
“Ini ada apa sih?” Vano mulai tak enak hati melihat raut wajah keluarganya. Dia sangat yakin ada yang salah dengan semua ini.
“Jangan kaget ya,” ucap Syasya. Vano hanya memperhatikan Syasya menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya.
“Bian, dia selalu ada sama kita. Raganya emang udah gak ada, tapi hatinya masih ada sama kita,” ucap Syasya.
Vano benar-benar memproses ucapan Syasya dengan keras karena dia sama sekali tak mengerti dengan apa yang dikatakan Syasya.
“Jangan bilang?” Vano bertanya dengan tangannya yang terangkat menyentuh dadanya. Matanya mulai memanas saat Syasya kemudian ikut meneteskan air matanya dan mengangguk pelan.
“Hhmm, dia udah gak ada, Van. Tapi jantung dia ada di sini,” ujar Syasya sambil menunjuk dada Vano.