Complicated Love

Complicated Love
Chapter 40



Vano berjalan menuju kelas Syasya, beberapa menit lalu gadis itu mengirim pesan padanya bahwa kelasnya sudah selesai.


Namun langkah kaki Vano terhenti, sudah lama dia merasakan ada yang mengikutinya. Perlahan dia menoleh ke belakangnya. Namun tak ada siapa-siapa di sana.


Vano menggedikan bahunya. Mungkin itu hanya perasaannya saja, pikirnya. Di depan sana, gadis dengan rambut yang tergerai sudah tertangkap indera penglihatan Vano. Ya, siapa lagi jika bukan Syasya.


Gadis itu tersenyum dan membulatkan matanya seperti terkejut dengan sesuatu.


Tangannya perlahan terangkat untuk memberikan sebuah lambaian.


Vano hendak membalas lambaian itu namun seruan Syasya membuatnya mengurungkan niatnya.


"Dok?!" teriaknya.


"Dok?! bisik Vano. Pria itu secara spontan memutar kepalanya untuk melihat siapa yang dituju oleh kekasihnya itu.


Pria dengan jas biru itu kembali terlihat. Siapa orang itu? Mengapa Syasya mengenalnya? Vano terus melangkah hingga kini dia berada tepat di samping Syasya.


Vano memperhatikan pandangan Syasya yang masih tertuju pada pria itu. Vano sendiri sudah kesal karena dia di acuhkan.


"kapan ke sini? Kenapa gak bilang dulu?" tanya Syasya sumringah.


Vano menaikan sebelah alisnya. Mengapa mereka terlihat akrab? Sedekat itukah?


"tadi pagi. Kebetulan aja, lagi ada urusan di sini" tangan Pria itu mulai terangkat hendak mengelus kepala Syasya. Namun sebelum tangan itu sampai di tempat tujuannya Vano segera memegang tangan pria itu agar menghentikan aksinya.


Syasya menolehkan pandangannya ke atas, di mana kedua tangan pria yang sekarang di dekatnya ada di sana. Seketika Vano heran melihat Syasya terkekeh ketika keadaan sedang seperti ini.


Vano menghempaskan tangan pria jangkung itu.


"ada urusan apa kak? Kak Alvin udah ketemu mami belum?" tanya Syasya lagi.


"kak Alvin?" tanya Vano.


"iya Van. Dia kakak aku, tepatnya dokter yang ngobatin aku dulu di Jerman" jelas Syasya.


Pandangan Vano , dia tahu jika pria yang dipanggil kak Vano ini memiliki perasaan khusus pada Syasya. Hal itu terlihat dari pandangannya pada Syasya.


***


"nah kak Alvin kenalin, ini Vano pacarnya aku" ucap Syasya. Alvin menoleh heran.


"jadi dia penyebabnya?" tanya Alvin dengan nada menyindir.


"maksud anda?" timpal Vano tak enak mendengar nada bicara Alvin.


Sementara Syasya melirik keduanya bingung.


"ya udah kalian mau pesan apa?" Syasya mencoba mencairkan suasana.


Akhirnya pandangan kedua pria itu terputus dan memilih memfokuskan pada menu makanan di depannya.


Seperti biasa, caffe depan kampus mereka menjadi tujuannya. Selain murah makanan dan minuman di sini juga bisa dikatakan enak.


"kakak mau mampir ke rumah dulu gak?" Syasya bertanya sambil mengunyah makanannya.


"habisin dulu makanan di mulut kamu Sya" ujar Vano. Walaupun pria itu dari tadi selalu diam, namun perhatiannya hanya terfokuskan pada Syasya. Dia harus ekstra hati-hati menjaga Syasya terutama hatinya, karena pria yang ada di depannya kini mulai meresahkannya.


Syasya mengangguk dan mengunyah makanannya.


"kalau kamu gak keberatan, boleh aja sih" jawab Alvin. Pria itu melirik Vano untuk sekedar mengetahui reaksi pria itu.


"boleh dong. Mami pasti senang lihat kak Alvin ada di sini"


***


"ayo masuk kak" Syasya hendak melanjutkan langkahnya. Namun dia berhenti karena melihat Vano mengikutinya.


"loh kamu gak pulang?" tanya Syasya.


"aku haus, mau minum"


"mami!!! Syasya pulang bawa oleh-oleh!" teriaknya. Suatu kebiasaan yang tak patut untuk ditiru.


"kenapa Sya? Kamu bawa apa?" Mami Syasya berjalan menuruni tangga. Raut sumringah langsung terpancar dari wajahnya saat netranta menangkap sosok yang sangat familiar.


"Alviiiinn!!?" Mami Syasya berlari dan memeluk pria itu begitu saja.


"mami ih jangan malu-maluin"


"kan mami kangen Sya" Mami Syasya menoleh karena netranya menangkap satu pria tampan lagi.


"loh calon mantu mami ada di sini juga? ayo ayo duduk dulu" ucapnya.


Vano tersenyum bangga karena mami Syasya lebih memilihnya untuk dijadikan menantu. Alvin yang melihat itu hanya terkekeh kecil.


"Van, ini minumnya" Syasya berjalan dari arah dapur dengan dua gelas air di tangannya.


"a..ah minum ya? iya makasih" ucapannya tergagap karena dia memikirkan alasannya lagi untuk tak pulang dulu sebelum pria di sampingnya ini pulang duluan.


Vano meneguk air itu perlahan, namun sepelan apapun dia minum kini air itu tandas juga. Vano masih berdiam diri di tempatnya. Sementara Syasya yang melihat Vano masih diam langsung melontarkan pertanyaan.


"kamu mau makan juga?" Syasya memandang Vano dengan heran.


"ya!! Ide bagus, kita harus makan" bukan. Bukan Vano yang menjawab melainkan mami Syasya.


Vani menghembuskan nafasnya lega. Beruntunglah dia tak harus beralasan lagi, suatu saat dia akan berterimakasih pada maminya Syasya.


Senyum Vano mengembang dan segera bangkit dari posisinya.


"jadi, ada yang perlu Vano bantu?" tawar Vano pada mami Syasya.


"oke ayoo ke dapur dulu" seru mami Syasya. Dia menggandeng tangan Vano ke arah dapur. Dan di ruang tamu hanya menyisakan Syasya dan Alvin.


Alvin tertawa terbahak-bahak begitupun Syasya. Sepertinya mereka bahagia sekali. Mereka bertos ria karena rencananya berhasil.


"berhasil!!" soraknya.


"kayanya dia benar-benar cemburu Sya"


"baguslah, berarti dia sayang sama aku itu beneran kan?" Syasya mengucapkannya dengan bangga.


"iya bagus. Dan yang kakak lihat sih dia serius sama kamu" tangan Alvin kini berada di dagunya seperti orang yang tengah menganalisa.


Syasya mengangguk dengan senyum lebar di bibirnya.


***


"jadi kenapa kamu ke sini tanpa bilang dulu?" tanya mami Syasya pada Alvin. Sementara di sana Vano masih sibuk melepas apron pink yang sejak tadi ia kenakan.


"ada urusan mendadak tan. Jadi nyempetin juga buat jenguk adek aku. Oh iya, Tristan di mana?"


"ada, tadi dia di kamar. Sebentar tante panggil dulu ya" mami Syasya beranjak dari sana.


Vano mulai mendudukkan dirinya di hadapan Alvin. Pandangannya sangat menusuk bagai ingin membunuh.


"kamu cemburu?" tiba-tiba Alvin berusaha berinteraksi dengan Vano. Vano hanya diam tanpa ada niatan untuk menjawab pertanyaan Alvin.


"tenang aja, Syasya gak bakal saya rebut. Dia udah kaya adik buat saya, jadi kamu gak usah khawatir" ucapan sang dokter perasaan Vano sedikit lega.


"ternyata kamu juga bisa cemburu ya Van" Syasya terkekeh melihat raut wajah Vano.


"jadi dari tadi kamu ngerjain aku?" Vano bertanya.


Syasya mengangguk, namum gadis itu segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Vano.


"maaf ya" lirih Syasya. Namun sepertinya Vano tak semarah itu padanya.


"aku cuma mau tahu reaksi kamu. Tapi reaksi kamu benar-benar gak mengecewakan" Syasya terkekeh sembari menutup mulutnya.


"lain kali jangan gitu lagi" manja Vano. Alvin yanh melihat kemanjaan Vano hanya bergidik ngeri.