
"aaaakkkk engga Van, aku mohon jangan sakiti aku. Aku janji aku bakal turutin semua kemauan kamu. Aku janji!!" lagi-lagi Syasya menggila melihat orang yang berjalan ke arahnya. Vano yang namanya disebut segera menghentikan langkahnya. Hatinya ngilu mendengar penuturan Syasya. Selama ini dia yang selalu menyakiti Syasya, bukankah tidak apa-apa jika bukan dia yang menghampiri Syasya?
Vano menatap Tristan bingung sembari keluar dari ruangan Syasya berharap gadis itu akan sedikit tenang. Sementara Lita dan Dina berusaha menenangkan Syasya dengan cara memeluknya.
Tristan yang paham dengan pandangan Vano langsung membuka seuaranya.
"seperti yang lo lihat. Dia menggila jika bertemu seseorang walaupun itu bukan lo, bahkan nyokap, bokap sama gue sekalipun fia tetap takut dan akan seperti ini"
"tapi sepertinya kondisinya mulai membaik. Lo lihat? dia bisa sedikit tenang dengan pelukan Lita dan Dina. Biasanya satu-satunya yang bikin dia tenang adalah suntikan" Tristan memandang adiknya dengan mata yang menyiratkan rasa sakit. Vano yang mendengar itu lagi-lagi merasakan sakit dihatinya.
"bang gue harus apa? gimana cara biar Syasya bisa sembuh" mohon Vano, semoga dia bisa membantu dalam penyembuhan Syasya.
"gue gak tau. Tapi lo bisa biasain ketemu dia, gue harap dengan begitu dia terbiasa dan harapan gue dia bisa sembuh" Tristan memukul pelan dada Vano sebagai tanda bahwa dia menyuruh Vano untuk jangan menyerah.
Sementara di dalam sana kondisi Syasya semakin tenang dengan Lita dan Dina yang berusaha mati-matian menahan isakkannya.
"Sya, lo lihat gue. Lo kenal gue kan? Kita sahabat lo" dengan lembut Lita menarik kepala Syasya agar gadis itu memandang manik matanya.
"si...siapa?" tanya Syasya. Ini suatu kemajuan, sebelumnya bahkan Syasya tak bisa menemui siapapun karena kondisinya yang selalu seperti itu. Namun dengan dia mampu menjawab pertanyaan Lita itu berarti ada harapan untuk kesembuhan Syasya.
"gue, gue Lita dia Dina kita sahabatan sejak SMA. Lo ingat kan. Please Sya, lo harus ingat" tangis Lita pecah. Dosa apa yang dilakukan gadis sebaik Syasya hingga semesta menghukumnya seperti ini.
"lo mau sembuh kan? lo mau kita main bareng lagi kan?" Syasya hanya memandang dengan pandangan kosong mendengar penuturan Dina sebelum akhirnya mengangguk.
"sahabat? main?" ucap Syasya.
Kedua sahabat Syasya mengangguk semangat mengiyakan pertanyaan Syasya. Namun kemuadian....
"aaaakkhhh sakiiitttt" Syasya memegangi kepalanya. Dia juga menjambak rambutnya berharap rasa sakit di kepalanya akan hilang. Perlahan potongan-potongan memori dengan sahabatnya masuk di kepalanya, namun ia belum yakin.
"Sorry. you can wait outside" ucap sang dokter. Tim medis segera menghampiri ruang rawat Syasya sesaat setelah Vano memanggil dokter.
Lita dan Dina segera menghampiri Vano di luar ruangan. Lita dan Dina sangat kesal saat mengingat Vano lah yang membuat sahabatnya menjadi seperti ini, namun walaupun mereka berdua membunuh Vano sekalipun, tak akan berpengaruh pada kesembuhan Syasya. Bahkan mungkin jika Syasya sudah mengingat semuanya ia akan sangat marah pada kedua sahabatnya jika tahu mereka membunuh Vano.
"lo lihat gimana perjuangan Syasya yang lo sia-siain? mau gimana lo sekarang setelah lihat keadaan cewe lo kaya gitu?" tanya Dina menyindir Vano.
"gue bakal perjuangin dia dan gue pastikan dia bakal sembuh" jawab Vano yakin. Walaupun dalam hatinya masih ada sedikit keraguan apakah Syasya akan menerimanya kembali setelah apa yang dia lakukan, namun Vano akan benar-benar berjuang kali ini.
***
Setelah dua hari mereka ada di Jerman, mereka memutuskan untuk pulang kecuali bang Tristan. Mereka tak ingin mengambil resiko mengulang satu tahun karena terlalu sering membolos.
"Syasya lagi apa ya?" tanya Lita lebih pada dirinya sendiri. Sepi sekali tak ada gadis itu.
"woyy Lita!?" Lita tak harus menoleh untuk mengetahui siapa yang memanggilnya. Dina, untuk apa gadis itu datang ke kampusnya.
Dina yang mengerti dengan pandangan Lita segera menjelaskannya.
"demen banget bolos lu, gak lulus baru tahu rasa" itulah seorang sahabat. Tak ada lagi rasa canggung di antara mereka bahkan untuk saling meledek.
"eh bentar, itu cowo yang waktu graduate nyamperin Syasya gak sih? Siapa namanya?" Dina berusaha mengingat percakapan Syasya dan cowok itu berharap nama pria tersebut terlintas di otaknya.
"lah iya, Brian bukan sih namanya?" Lita menyahut.
"nah iya bener banget"
"tapi ngapain tuh cowok di sini, bukannya dia gak sekolah di sini ya? itu cewe juga kayanya gue kenal. Tapi ngapain ada di sekitar kampus gue deh?" Lita terus saja bermonolog. Walaupun kenyataannya ocehannya itu didengar oleh Dina.
"kita ikutin gak? rasanya gue curiga" ucap dina
Akhirnya dengan dibarengi rasa curiga itu mereka mengikuti Brian dan wanita yang berjalan di sampingnya.
Jauh dari dugaan Lita dan Dina, mereka berjalan menuju gedung fakultas di mana Syasya pernah belajar. Mereka menemui satu mahasiswi.
Lita dan Dina semakin mendekat untuk mengetahui apa yang mereka bicarakan.
"jadi gimana kabar Syasya?" tanya Brian.
Lita dan Dina semakin menajamkan telinganya mendengar nama sahabatnya disebut. Mereka juga dengan sigap mengeluarkan ponsel dan merekam pembicaraan itu.
"gue gak tahu sekarang kabarnya gimana, dia hilang gitu aja sejak kecelakaan itu" jawab mahasiswi yang ditanya.
"oke gue anggap dia udah mati" ucap wanita yang tadi berjalan dengan Brian. Wanita itu mengibaskan rambutnya sehingga wajah yang tadi tertutup rambut sekarang terlihat dengan jelas.
"Bianca?" ucap Lita dan Dina bersama.
"oke, lo tetap kabarin gue kalo ada apa-apa" ucap Brian pada mahasisw yang ternyata teman Syasya juga.
"oke, thanks" jawab wanita itu seraya berlalu setelah Brian memberikan amplop berwarna coklat.
"akhirnya rencana kita berhasil. Dengan begitu dendam gue terbalaskan dan lo bisa milikin Vano lagi kan?" tanya Brian.
"thanks udah bantu gue. Lo benar-benar berguna" Bianca menepuk-nepuk bahu Brian.
"tapi gimana cara lo nabrak Syasya, gimana kalau ada yang lihat lo?" tanya Bianca.
"kalau gue bunuh dia pakai tangan gue sendiri gue bisa ikut celaka lah. Gue nyuruh orang yang udah biasa lakuin itu" santai Brian.
Kedua mata Lita dan Dina terbelalak. Ternyata kecelakaan Syasya itu disengaja? Lita hendak menghampiri Brian dan Bianca, tapi tangannya dicekal oleh Dina.
"lo mau samperin mereka dan mereka kabur gitu aja atau mau ikutin rencana gue dan mereka bakal nanggung akibatnya?" Dina menaikan sebelah alisnya meminta pendapat dari Lita.
Awalnya Lita hanya bengong dengan penawaran Dina, namun setelah berfikir dengan matang akhirnya Lita menganggukkan kepalanya sebagai tanda jika ia setuju dengan rencana Dina.