
Ketiga anak nakal itu sudah ditangani, begitu juga dengan Bian yang saat ini sudah ada di UKS.
Luka luarnya memang tak begitu parah tapi saat ini dia tertidur.
Di sampingnya ada Kiana yang setia menunggunya bangun.
"Bangun Bi, atau perlu aku telpon orang tua kamu?" bisiknya.
Sudah terhitung setengah jam dan Bian belum juga membuka matanya.
Dua puluh menit setelah Kiana mengatakan hal itu, akhirnya Bian membuka matanya.
"Na," lirihnya saat melihat gadis yang ada di sampingnya.
"Bi, kamu gak apa-apa?" tanya Kiana. Dia bergegas bangun dan melihat kondisi pria itu.
Bian menampilkan senyumnya. "Makasih," ucapnya.
Kiana bingung dengan apa yang dikatakan Bian. "Buat apa kamu bilang makasih?" Akhirnya gadis itu meminta kejelasan.
"Buat panggil guru keamanan ke sana," lirihnya.
"Gak usah dipikirin. Ada yang sakit?" Sebuah pertanyaan konyol yang dilontarkan oleh Kiana.
Tentu saja Bian merasa sakit. Pipinya yang kena tinju dan juga perutnya yang ditendang.
Namun, demi menutupi rasa sakitnya itu, dia menggelengkan kepalanya diiringi dengan senyuman khas.
"Gak apa-apa. Gak terlalu sakit kok," dustanya.
Dia tak ingin membuak Kiana khawatir.
"Bi boleh aku ngomong?" Kiana berkata seolah dia takut.
Bian mengangguk. Lagi pula kenapa gadis itu pakai izin segala jika dia ingin berbicara.
"Aku udah tau apa yang sering mereka lakuin sama kamu sejak lama." Kali ini ucapan Kiana berhasil membuat Bian mematung.
"Maaf karena aku milih diam. Aku nyesal kenapa aku baru berani lapor guru keamanan sekarang."
Bian tersenyum pada akhirnya. " Gak usah minta maaf. Lagi pula justru aku harap kamu gak tau apa yang mereka lakuin ke aku. Aku kaya jadi orang bodoh banget," kekehnya. Dia merasa menjadi orang terlemah sedunia.
"Kenapa selama ini kamu diam aja? Kenapa gak lawan mereka? Aku tau kamu mampu buat lawan mereka." Sebuah pertanyaan yang sudah ada dalam benak Kiana sejak dulu.
"Aku gak bisa. Aku lemah kalau sama mereka."
"Perlu aku bilang semuanya sama guru biar mereka selesaikan ini dan orang tua kamu juga tau?" tawar Kiana yang membuat Bian terbelalak.
"Jangan!" Bagaimana bisa gadis ini akan membiarkan orang tuanya tau sementara dia mati-matian menyembunyikannya?
"Kenapa Bi? Ini udah parah banget loh. Orang tua kamu harus tau dan ini harus diselesaikan."
Bian kembali menggeleng lemah. Kali ini dia menggenggam tangan Kiana dengan erat.
"Aku mohon jangan kasih tau siapapun. Cukup kali ini kamu bilang semua sama guru. Setelah ini aku mohon tolong bersikap seolah-olah gak ada yang terjadi sama aku. Aku baik-baik aja."
Bian memohon dengan sangat pada gadis itu.
"Tapi… "
Bian mengangguk mencoba meyakinkan Kiana jika dia baik-baik saja dengan semua ini.
"Oke aku gak akan bilang siapapun. Tapi sebagai gantinya kamu harus cerita semuanya ke aku, gak ada yang boleh kamu tutupin. Termasuk kita pacaran kan?"
Pada akhirnya Kiana tetaplah seorang gadis yang menggemaskan.
Bian terkekeh melihat tingkah gadis itu. Namun setelahnya dia mengangguk mengiyakan permintaan gadis itu.
"Hmm aku akan bilang semuanya ke kamu."
Akhirnya inilah awal kisah mereka sebagai seorang kekasih. Seorang anak mantan penjual koran yang pada akhirnya bisa dicintai secara tulus oleh seorang gadis baik hati.
"Kamu bisa bangun?" tanya Kiana saat dia melihat Bian berusaha untuk bangkit dari tidurnya.
Bian mengangguk dan berusaha sekuat tenaga.
"Mau cerita yang lengkap?" tanya Bian pada Kiana.
Kiana mengangguk antusias. Dia sangat menantikan cerita dari pria itu selama ini.
"Oke."
Akhirnya mereka sepakat untuk bertemu di sana, berbagi kisah hidup mereka selama ini.
****
Siang ini ketika Vano menjemput Si Kembar dan mengantarnya pulang ke rumah, dia sengaja tak langsung kembali ke kantor.
Dia ingin berbicara sebentar dengan istrinya.
"Yang, kamu sadar gak sih ada yang berubah sama Bian?" tanya Vano pada istrinya.
Syasya mengernyit mencoba berpikir hal apa saja yang berubah dari putranya itu.
"Masa sih? Aku gak ngerasa ah."
"Kamu gak ingat pas dia pulang hujan-hujanan? Kamu gak curiga?" tanya Vano.
"Kamu terlalu banyak berpikir. Kan dia udah kasih tau kita alasannya. Kenapa masih di bahas sih?"
Jujur saja Syasya sedang tak ingin banyak berpikir belakangan ini.
"Terus kamu ingat gak waktu dia di rumah pakai kaos kaki?"
Syasya merotasikan bola matanya. "Dia kan juga udah bilang kalau dia kedinginan."
"Kamu pasti juga gak ingat kan kalau sedingin apapun itu dia gak pernah pakai kaos kaki? Terus waktu itu dia bilang kedinginan, tapi dia cuma pakai atasan kaos tipis doang. Gimana aku gak curiga?"
Mata Syasya sedikit terbuka setelah Vano mengatakan hal itu. Benar juga apa yang dikatakan suaminya.
"Kamu benar sih. Tapi masa terjadi sesuatu?"
"Nah kan? Itu juga yang aku pikirin sekarang. Tadi juga waktu diantar dia ngelamun mulu."
Syasya mengarahkan pandangannya pada Vano dan memandang pria itu dengan lekat.
"Beneran gak terjadi sesuatu kan?" tanyanya mulai khawatir.
"Apa aku bilang? Aku udah khawatir dari kemarin-kemarin."
"Ya udah, kamu coba tanya sama guru dia," ucap Syasya.
"Mungkin besok sambil antar dia aku bakal tanya sama gurunya. Aku takut dia ada masalah di sekolah."
Syasya mengangguk mengiyakan. Jika seperti ini dia juga ikut khawatir pada anaknya itu.
Sementara tanpa mereka ketahui, setelah selesai berbicara denga Kiana, dia dipanggik oleh guru keamanan.
"Aku ke sana dulu. Kamu ke kelas duluan aja." Kiana mengangguk.
Bian pergi ke ruang keamanan dan di sana masih ada tiga orang yang menghajarnya tadi.
Mereka duduk di kursi dengan kepala yang menunduk.
"Permisi Pak."
"Oh kamu, silahkan masuk." Seperti yang diperintahkan oleh guru keamanan itu, Bian masuk dan duduk di samping ketiga orang itu setelah dipersilahkan.
"Bisa kamu ceritakan semuanya?" tanya guru dengan name tag Ridwan itu.
"Gak terjadi apa-apa kok Pak. Itu cuma sandiwara. Kita lagi latihan aja." Tiga orang yang tadi menghajarnya dengan kompak menoleh pada Bian.
"Kamu yakin? Tapi saya lihat dengan mata kepala saya sendiri kalau kamu ditendang dan itu bukan sandiwara."
Bian mengangguk menyetujui dengan apa yang dilihat gurunya itu.
"Itu emang betulan Pak. Apa yang Bapak lihat itu gak salah, tapi itu usaha kita buat bikin pertunjukan. Seperti yang Bapak tau, pensi sebentar lagi dan mereka butuh karakter antagonis dan protagonis seperti yang kita peragakan tadi."
Pak Ridwan agak ragu dengan kesaksian Bian.
"Tapi temanmy yang perempuan tadi bilangnya gak gitu."
"Ohh mungkin itu karena dia gak tau apa-apa. Dia juga baru datang waktu kita latihan."
Untunglah Bian sudah pandai membuat skenario yang baik.