Complicated Love

Complicated Love
S2 - Sebuah Prestasi



Tak terasa, satu bulan yang dikatakan Aruna kini sudah berlalu. Setelah beberapa hari panjang yang dia lewati untuk bimbingan, akhirnya hari ini adalah hari di mana dia akan membuktikan hasil belajarnya.


Gadis itu sedang berada di hadapan cermin yang memantulkan dirinya. Seragam yang sangat pas di tubuhnya itu membuat Aruna terlihat bersinar.


“Kak, Bang, udah selesai? Sarapan dulu yuk.” Bian mengintip dari pintu kamar si kembar yang memang agak terbuka.


Dua orang yang merasa terpanggil itu mengalihkan pandangannya ke arah pintu di mana Abangnya berada.


“Iya bentar Bang. Ini lagi pasang dasi dulu,” jawab Aruna. “Nanti kita nyusul,” timpal Arjuna. 


Pria itu sedang sibuk mencari kaos kaki yang tak kunjung menampakan dirinya. Bian yang sudah mendapatkan jawaban dari kedua adiknya segera kembali ke dapur untuk membantu Maminya.


“Aduh, di mana sih??” Sementara itu, Arjuna di kamar masih tak menemukan kaos kakinya. “Nyari apa sih, Bang?” tanya Aruna setelah dia selesai dengan dasinya.


“Kaos kaki Abang di mana ya?” tanya Arjuna. Dia tak memandang Aruna karena masih fokus pada isi lemarinya.


“Yang ini?” Aruna mengacungkan sepasang kaos kaki putih. Arjuna yang mendengar itu segera mengalihkan atensinya pada sang adik.


Helaan nafas terdengar lega ketika dia melihat apa yang dicarinya sudah ada. “Kenapa gak bilang dari tadi sih?” protes Arjuna.


Sudah lelah dia mencari, ternyata barang yang sedang dia cari itu ada di tangan adiknya. “Lah, kan Abang gak tanya,” jawab Aruna tak ingin kalah.


Arjuna segera mengambil kaos kakinya. “Ayu turun!!” ajak Arjuna yang diangguki oleh Aruna. Mereka membawa tas mereka masing-masing sebelum kemudian turun ke lantai satu.


“Udah siap?” tanya Syasya agak berteriak dari dapur. Pertanyaan itu dia tujukan pada Aruna yang masih ada di tengah tangga.


“Siap dong, Mi. Aruna kan selama ini udah belajar,” jawabnya dengan percaya diri. “Ya udah yuk sarapan dulu,” ucap Syasya saat mereka telah sampai di dekat meja makan.


“Yah?!” panggil Aruna yang melihat Vano melamun. Dia tak tahu kenapa Ayahnya melamun, biasanya Ayahnya itu akan terlihat sangat ceria di pagi hari.


“Hah!?” jawab Vano dengan terkejut. Dia segera mengalihkan pandangannya pada Aruna. “Kenapa Sayang?” lanjut Vano setelahnya.


“Ayah kenapa? Kok ngelamun?” tanya Aruna pada akhirnya. Vano tersenyum terkesan ada yang dia sembunyikan.


“Gak apa-apa kok. Mungkin karena Ayah masih ngantuk,” jawab Vano. Tak mungkin dia memberitahukan yang sebenarnya pada keluarganya.


Aruna dan Arjuna saling berpandangan merasa curiga mendengar jawaban Ayahnya. “Yakin gak apa-apa?” Kali ini Arjuna yang mencoba meyakinkan Ayahnya.


Vano lagi-lagi mengangguk dengan senyumannya. Kemudian dia mengubah raut wajahnya menjadi ceria. “Yok kita makan! Nanti telat,” ucapnya sambil mengambil sendok dan garpu yang ada di hadapannya.


Yang lainnya hanya bisa mengangguk dan menuruti apa yang Vano katakan. Mereka makan dalam diam hingga makanan mereka tandas.


Agenda mereka hari ini mengantar Aruna ke tempat olimpiade. Mereka juga akan menyaksikan olimpiade itu sampai pengumuman pemenang.


“Abang mau berangkan bareng atau gimana?” tanya Syasya pada Bian. Bian mengangkat kepalanya menatap Maminya.


“Kalian duluan aja. Abang mau jemput Kia dulu, nanti nyusul ke sana,” jawab Bian. Tentu saja dia juga mengajak kekasihnya itu.


Syasya mengangguk mengerti. Mereka telah selesai makan dan Syasya juga sudah selesai membereskan bekas makan mereka dibantu oleh Aruna.


Mereka semua mengangguk dengan kompak. Akhirnya mereka berangkat dari rumah mereka. Perjalanan agak penjang, membutuhkan sekitar waktu satu jam untuk sampai di tempat olimpiade.


Susana di sana ketika mereka telah tiba begitu ramai mengingat peserta olimpiade datang dari mana-mana.


“Kamu pasti bisa,” ucap Vano menyemangati putrinya. Aruna mengangguk seraya tersenyum menanggapi ucapan Ayahnya.


Waktu berlalu dan sekarang Aruna sedang berada di medan perang. Gadis itu memandang soal-soal itu dengan serius.


Sementara keluarganya menyaksikan dia dari luar. “Ini kesukaannya banget. Pecaahin soal-soal yang bikin pusing itu,” celetuk Arjuna melihat kembarannya yang sedang berjuang di sana.


“Hhmm, semoga dia bisa buktiin kalau dia mampu,” jawab Syasya. Satu jam telah berlalu, berarti masih ada waktu satu jam setengah lagi untuk menyelesaikan empat puluh soal matematikan itu.


Di luar suasana semakin ramai. Entah mengapa, Vano merasa sangat pusing. Nafasnya juga mulai sesak seolah oksigen di sekitarnya berkurang.


“Van, kamu kenapa?” Syasya menoleh pada suaminya yang ada di sampingnya. Vano tak menjawab, dia memegangi dadanya yang terasa semakin sesak.


Karena keributan itu, Bian dan Kiana yang ada di sampingnya juga ikut menoleh.”Yah!” teriak Bian yang melihat Ayahnya kini mulai kehilangan kesadaran.


Dia segera menahan tubuh Ayahnya agar tak ambruk. Jangan tanya bagaimana keadaan Syasya, dia sudah menangis melihat hal itu.


Sudah dia duga bahwa ada yang tak beres dengan kesehatan suaminya. “Kita ke rumah sakit sekarang,” ucap Bian.


Bian segera menggendong Ayahnya dengan bantuan orang-orang yang juga ada di sana. “Abang, tunggu di sini ya. Kasian Kakak,” ucap Syasya. “Kia juga nunggu di sini aja, Mi,” tawar gadis itu.


Dia juga tak tega meninggalkan Arjuna dan Aruna di sana sendiri. Syasya mengangguk dan berakhir Syasya dan Bian yang pergi ke rumah sakit.


Setelah dua jam setengah Aruna mengerjakan soal-soal itu, akhirnya semuanya usai. Dia menghela nafas sebelum kemudian pandangannya mengarah ke arah luar di mana keluarganya berada.


Keningnya mengernyit saat dia hanya melihat Kiana dan Arjuna saja yang ada di sana. Dua orang di luar itu memberikan senyum terbaik mereka ke arah Aruna.


Mereka tak mungkin memberitahu anak itu sekarang tentang keadaan Ayahnya. “Kak, Ayah baik-baik aja kan?” tanya Arjuna tanpa menghilangkan senyumnya dan tanpa mengalihkan pandangannya dari sang adik.


Kiana mengepalkan tangannya ke arah Aruna untuk memberikan semangat pada gadis itu. “Kakak yakin Ayah bakal baik-baik aja. Ayah kan kuat,” jawab Kiana.


Sebenarnya dia juga tak bisa memastikan keadaan Vano karena dia tak memeriksa Ayahnya itu. Tapi dia hanya tidak ingin membuat anak itu patah semangat pada dua orang itu.


Para peserta olimpiade itu belum diperbolehkan keluar selama penilaian karena takutnya terjadi kecurangan atau hal-hal yang tidak diinginkan.


Aruna di dalam masih dengan kebingungannya karena sedari tadi dia tak melihat orang tuanya ada di sana.


Lama waktu berlalu hingga pengumuman pemenang sudah tiba. Fokus Aruna teralihkan pada pengumuman itu. Dia melupakan orang tuanya untuk sesaat.


“Baiklah, mari kita umumkan pemenang dari olimpiade matematika ini.”


Mereka mengumumkan satu persatu pemenang dari juara tiga hingga ini saatnya mengumumkan juara ke satu.


“Juara ke satu olimpiade matematika ini adalah ...”