
Akhirnya setelah kurang lebih seminggu Vano berada di Rumah Sakit, dia diperbolehkan untuk pulang. Tak ada raut bahagia di wajah Vano saat ia diperbolehkan untuk keluar dari Rumah Sakit.
"bunda, Vano pergi dulu ya" ucap Vano.
"mau kemana sayang? baru juga sampai" ujar bunda Vano sedikit tak ikhlas jika anaknya pergi saat ini.
"sebentar bunda, Vano mau cari Syasya" lagi-lagi Vano memohon pada sang bunda.
Mau tidak mau bunda Vano mengijinkan putranya untuk keluar walaupun rasa khawatir itu terus menyelimutinya.
"ya sudah, Vano pergi dulu ya bun" bundanya hanya mengangguk menyaksikan kepergian putranya. Van mengambil motornya dan segera mengendarainya.
Pikirannya kalut. Saat ini tujuannya hanya satu, yaitu menemui Lita. Bahkan setelah sampai di rumah tadi, Vano tak menyempatkan untuk duduk. Dia segera pergi dan melajukan motornya untuk mencari Lita.
Tempat yang ada di pikirannya sedari tadi adalah kampus. Di sana satu-satunya tempat yang ia tahu ia akan menemukan Lita. Vano mengedarkan pandangannya sesaat setelah ia memarkirkan motornya di depan fakultas kedokteran.
"Lita" Vano berlari menghampiri gadis itu saat dilihatnya gadis itu akan menaiki kendaraannya.
Lita menoleh saat dirasa ada yang memanggilnya. Suaranya tak asing hingga membuat lita memutarkan bola matanya sebal. Orang yang telah menyakiti sahabatnya.
"apa?" tanya Lita.
"Syasya, dia ada di mana?" Vano balik bertanya.
"masih perduli lo sama dia?" senyum kecut tampak di bibir Lita. Ia benar-benar sudah jengah dengan kelakuan Vano. Ingin rasanya Lita mematahkan tiap tulang pria ini, namun apa daya, sahabatnya masih sangat menyayangi pria brengsek ini.
"gak usah banyak tanya. Yang harus lo lakuin cuma kasih tau gue dimana Syaya" paksa Vano.
"gimana kalau gue gak mau bilang?" Lita berucap sebelum kemudian melajukan kendaraannya meninggalkan Vano sendiri dengan sebuah kekesalan dan tentu saja kegagalan.
"Lit woy!! tunggu!!" Vano berteriak berharap Lita akan menghentikan laju kendaraanya. Namun apa yang dia harapkan tak sesuai dengan kenyataan. Motor Lita terus melaju membelah ramainya ibu kota.
"Woy?" seseorang dengan tidak sopannya memanggil Vano. Seorang gadis pendek yang sering Vano lihat karena dia sahabat Syasya.
"Dina? kenapa?" tanya Vano heran melihat Dina menghampirinya.
"gak apa-apa, gue cuma mau kasih ini" Dina menyodorkan amplop berwarna coklat muda.
"apa ini?" tanya Vano sambil membuka amplop itu.
"lihat aja sendiri" jawab Dina dingin. Ia sungguh tak ingin bicara dengan Vano.
Vano melirik wajah Dina saat dirasa ia tak mengenali foto dalam amplop itu. Dina yang mengerti dengan ekspresi wajah Vano segera menjelaskannya.
"itu kejadian di SMA pas Bianca sama Syasya berantem" Disana terlihat dengan jelas bagaimana Bianca yang menarik tangan Syasya dan menjatuhkan tubuhnya sendiri. Itu terlihat dari posisi tangan mereka.
"ja..jadi?" tanya Vano tergagap.
"yap, seperti yang lo lihat" Dina menampilkan senyum miringnya. Dia sangat puas melihat reaksi Vano. Janjinya untuk membuat Vano menyesal sepertinya berhasil.
Vano membulatkan matanya saat menyadari itu. Syasya gak pernah salah, dan dengan brengseknya Vano membentak gadis itu. Memori itu kini kembali. Tangisan gadis itu bahkan tidak digubris oleh Vano, dan Dia lebih membela Bianca yang sudah jelas pernah menyakitinya.
"da....darimana lo dapat ini?" Vano menatap mata Dina.
"cowo brengsek kaya lu gak pantes dapetin cewe sebaik Syasya!" Vano mencengang disebut cowo brengsek, namun apa yang dikatakan Dina memang kenyataannya. Vano tidak pantas jika disandingkan dengan Syasya.
"terserah lo mau ngatain gue apa. Tapi lo tahu di mana Syasya?" Vano mengerutkan dahinya memohon pada Dina agar dia memberitahu dimana Syasya saat ini.
"walaupun gue tahu, gue gak akan bilang sama lo di mana Syasya sekarang" Dina pergi meninggalkan Vano. Namun sebelum langkah Dina menjauh Vano segera mencekal tangannya.
"Din gue mohon, kasih tahu gue di mana Syasya? Gue mau minta maaf sama dia" mohon Vano.
Air mata Dina menggenang di pelupuk matanya saat mengingat bagaimana keadaan Syasya saat ini. Ya, dina mengetahui kondisi sahabatnya itu. Lita datang ke rumahnya membawa kabar yang sangat buruk padanya sore itu.
Namun dengan segera Dina mengusapnya agar tak jatuh begitu saja. Dia menghempaskan tangan Vano dan segera pergi dari sana. Lagi-lagi dia mendapatkan kegagalan.
Akhirnya dengan putus asa Vano melangkahkan kakinya menuju warung yang ada dekat kampusnya. Ia butuh minum untuk mengembalikan konsentrasinya.
Setelah memesan, Vano mengecek ponselnya. Ia berharap Syasya ada menghubunginya. Namun nihil, tak ada satupun notifikasi balasan dari gadis itu. Vano menghela nafasnya sebelum kemudian minum.
Vano tak ingin menyerah sekarang, langkahnya cepat menuju gedung Fakultas dimana Syasya biasa belajar. Dia mencari teman-teman Syasya dan menanyakan dimana keberadaannya.
"hei, lo temannya Syasya kan?" tanya Vano pada salah satu mahasiswi yang baru saja melewati pintu kelas.
"iya, kenapa ya?" mahasiswi berkacamata tebal itu menjawab pertanyaan Vano.
"lo lihat Syasya gak?"
"engga. Kayanya udah dua atau tiga hari gitu dia gak masuk" Jantung Vano berdebar kencang. Entah kenapa perasaannya mendadak tak enak
"oke. Makasih ya" Vano segera berlalu. Ia akan mencoba mengunjungi rumah Syasya lagi. Sungguh suatu kebetula, ada orang di halaman rumah Syasya.
Tanpa pikir panjang, Vano mendekati bapak-bapak itu.
"permisi, pak saya mau tanya" panggil Vano.
"iya ada apa den?" tanya si bapak itu.
"pemilik rumah ini ada gak ya?" Bapak itu melihat penampilan anak di hadapannya ini. Jika dilihat dari penampilannya, ia rasa aden ini seumuran dengan Syasya.
"oh aden temannya neng Syasya yah?" tanya bapak tadi.
"iya pak, kalau boleh tahu Syasya nya dimana ya pak?"
"keluarga ini lagi gak ada den. Sekitar dua atau tiga hari yang lalu mereka pergi ke Jerman"
Mata Vano membulat, untuk apa mereka pergi sejauh itu? Apakah liburan? Tapi ini belum saatnya Liburan.
"kalau boleh tahu untuk apa ya mereka pergi?" Vano berharap ia mendapatkan jawaban dari pria paruh baya ini.
"kalau gak salah non Syasya kecelakaan den, jadi mereka mendadak pergi ke sana" Vano tercengang dengan perkataan pria paruh baya itu.
Rasanya saat ini ia ingin menenggelamkan diri saat ini. Gadis yang selalu setia bersamanya bahkan disaat dia menyakiti gadis itu, dan disaat gadis itu terkena musibah Vano tak mengetahuinya sedikitpun.
"terima kasih informasinya pak" ucap Vano sesaat setelah kesadarannya kembali. Vano segera menuju rumahnya, ia ingin menyusul Syasya apapun yang terjadi.