Complicated Love

Complicated Love
S2 - Sebuah Perbincangan



Setelah acara pertunangan Bian dan Kiana semalam, pagi ini Bian ada janji temu dengan Beno.


Semalam mereka belum selesai membicarakan masa lalu mereka karena hari sudah larut dan Beno harus pulang. Itulah alasan kenapa Bian akan bertemu dengan Beno pagi ini.


Bian menjanjikan akan bertemu di rumahnya karena kebetulan sekali rumahnya sepi. Kedua orang tuanya dan si kembar sedang pergi belanja dan jalan-jalan.


Sekarang Bian ada di rumah dengan Kiana yang sebelumnya memang telah dia jemput.


“Kok lama sih? Katanya pagi?” protes Kiana. Ya, dia juga tahu jika Beno akan datang ke sana dan pria itu mengatakan akan datang pagi.


Tapi lihatlah, ini sudah jam sepuluh lebih dan dia masih belum menampakkan batang hidungnya.


“Ya sabar. Mungkin dia juga ada urusan dulu,” jawab Bian menenangkan kekasihnya.


“Tadi malam emang kalian ngomongin apa aja?” Kiana penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


“Gak banyak. Dia cuma minta maaf atas kejadian lalu dan aku juga minta maaf sama dia. Terus kita ngomongin keadaan Rio sekarang.”


Kiana seakan kembali teringat dengan pria kurang ajar itu. “Oh iya. Jadi gimana dia sekarang?” tanya Kiana penasaran.


“Katanya sih terjerat kasus narkoba. Tapi aku belum tau juga,” jawab Bian. “Kalau gitu sekarang harusnya dia ada di pusat rehabilitasi dong?” Kiana kembali bertanya.


“Harusnya iya, mungkin sekitar beberapa bulan lalu,” jawab Bian.


Kiana mengangguk. Suasana kembali sepi ketika mereka telah habis topik pembicaraan. Yang mereka lakukan sekarang adalah kembali menunggu kedatangan Beno.


Tok tok


Suara pintu diketuk membuat mereka sedikit terlonjak. Wajar saja karena suasana sedang begitu sepi dan tiba-tiba pintu diketuk.


Bian bangkit untuk membuka pintu depan. “Sorry, antar nyokap dulu tadi.” Beno langsung meminta maaf ketika dia baru saja tiba.


“Oke tenang aja. Yok masuk.” Bian mempersilahkan Beno untuk masuk. Bian membawa Beno ke ruang keluarga yang di mana di sana ada Kiana.


“Loh, ada lo juga?” tanya Beno sedikit terkejut. “Iya ada. Kenapa? Keberatan?” tanya Kiana nyolot.


“Yang ih gak boleh gitu,” ujar Bian mengingatkan. “Abisnya bilangnya mau pagi. Ini mah udah siang. Matahari juga udah mau tenggelam lagi,” kesal Kiana.


“Ya maaf, gue tadi antar Nyokap dulu.” Lagi-lagi Beno menjelaskan alasan kenapa dirinya datang telat.


“Udah lah gak usah pada ribut. Toh sekarang dia juga udah ada di sini, kan.” Bian membujuk kekasihnya.


Kiana mengangguk walau setelahnya dia tak mengatakan apapun lagi. Dia hanya menyimak pembicaraan kekasihnya dengan Beno.


“Lo tau gak? Setelah gue cerita-cerita sama Nyokap gue, katanya Rio itu udah bebas. Dan kejadian dia kasus narkoba itu udah lama sekitar dua tahun lalu.” Beno tiba-tiba menceritakan hal itu.


“Loh kenapa bisa bebas secepat itu?” Bian merasa heran. Narkoba adalah kasus yang berat dan tak mungkin pelaku bisa bebas dengan begitu cepat.


“Lo tau sendiri lah gimana kayanya orang tua dia.” Sampai di sini Bian bisa paham sebesar apa pengaruh uang di kehidupan.


“Ya usahain jangan ketemu,” kekeh Bian. Sebenarnya rasa trauma itu juga masih tertinggal di benaknya yang paling dalam.


Takut? Tentu saja dia takut jika kejadian masa lalu terulang lagi. Tapi dia tak bisa terus menyelam di masa lalu. Dia harus bangkit dan hidup di masa sekarang dan masa yang akan datang.


“Gue penasaran tentang satu hal,” ucap Beno yang membuat Bian dan juga Kiana memfokuskan perhatian mereka pada Beno.


“Apa?” tanya Bian. “Kenapa lo gak pernah bilang semua ini sama orang tua lo?” Tubuh Bian menegang. Jadi, Beno juga tahu kalau dia tak mengatakan hal ini pada orang tuanya.


“Dari mana lo tau kalau orang tua gue gak tau?” tanya Bian.


“Lo ingat pas pulang sekolah lo sama Kia pergi ke caffe seberang sekolah?” Hal itu diangguki oleh Bian dan Kiana.


“Saat itu juga bokap lo datang ke sekolah. Dia ke kantor kepala sekolah dan nanyain gimana keadaan lo di sekolah,” ucap Beno. Dia masih sangat ingat kejadian saat itu.


“Guru keamanan bilang lo gak apa-apa, tapi itu bukan berarti dia nutupin kasus lo sama Rio. Dia bilang sama bokap lo kok, tapi dengan mengatas namakan lo kalau lo bilang itu cuma latihan buat pensi. Lo juga kan yang bilang sama guru keamana kalau lo sama Rio cuma latihan?”


Bian mengangguk membenarkan apa yang dikataka pria itu. “Gue inget banget waktu itu bokap lo benar-benar khawatir sama lo.”


“Hmm, gue tau sekhawatir apa dia sama gue karen dia juga pernah nanya sama gue tentang keadaan di sekolah. Tapi selama ini gue nahan buat gak bilang sama dia. Soalnya gue gak mau masalah gue jadi masalah orang tua gue juga,” ucap Bian.


Baru kali ini dia mengatakan hal ini pada orang lain selain Kiana. “Cewek lo tau tentang ini?” tanya Beno sambil menunjuk Kiana.


Bian mengangguk. “Dia tau, cuma gue juga bilang sama dia buat gak usah kasih tau masalah ini sama siapapun terutama orang tua gue,” jawab Bian.


“Sekuat itu lo?” Beno tak menyangka jika orang yang selama ini dia abaikan itu adalah orang yang kuat.


Tiga tahun bukan waktu yang cepat untuk menjalani hari-hari berat seperti yang Bian alami. Tapi pria itu bisa melewatinya dan saat ini Bian masih baik-baik saja.


Walaupun Beno tahu itu sangat berat bagi Bian, tapi dia tetap salut pada pria itu. “Gue bertahan juga demi orang-orang yang sayang dan percaya sama gue.”


“Tapi setelah lo lulus SMA, lo gak berurusan lagi sama anak-anak itu, kan?” tanya Beno.


“Enggak. Gue putus komunikasi karena gue juga bertekad buat lepas dari mereka. Sengaja gue milih universitas yang gak sama kaya mereka. Setelah itu kita benar-benar hilang kontak.”


“Syukur deh kalau mereka udah gak ganggu lo lagi.”


“Ehh lo pulang ke sini bukan cuma karena undangan kita, kan?” Kali ini Kiana yang bertanya.


“Enggak kok. Kebetulan aja gue juga ada acara sama keluarga gue dan kuliah gue juga lagi libur,” jawab Beno walaupun undangan dari Bian mendominasi alasan kenapa dia pulang.


Sudah sejak lama dia ingin meminta maaf pada pria itu dan akhirnya undangan Bian menjadi momen yang sangat tepat. Itulah kenapa dia menyempatkan pulang ke kampung halamannya.


“Kok pada sepi? Orang rumah pada kemana?” Beno merasa di rumah itu hanya ada mereka bertiga.


“Kita pulang!!” Baru saja dibicarakan dan orang-orang rumah kini sudah kembali.